Jangan Sedih, Naiklah ke Punggungku – Kata Homang Itu

BERSPONSOR

NINNA.ID – Ceritanya begini. Dulu, ada seorang gadis kecil. Ia tersesat. Ia frustrasi. Ia pun menangis. Lalu, sebuah sosok mendekati. “Jangan sedih, naiklah ke punggungku. Jika licin, pergilah. Jika nyaman, kamu bisa bersamaku,” ujar sosok itu.

Gadis itu naik. Punggungnya nyaman. Tidak licin. Lalu, gadis itu memutuskan bersama sosok itu.

Sosok itu baik sekali. Ia merawat gadis itu. Memberi makan. Menjaga dengan penuh kasih sayang. Tak ada kekurangan apa pun. Sosok itu selalu bertanya: “sudah seberapa besar hatimu?”

Gadis menjawab dengan ceria. Hampir setiap hari ditanyai begitu. Gadis menjawab dengan tulus dan tentu saja berurutan.

BERSPONSOR

Dimulai dari hatinya sebesar monis (pecahan beras kecil setelah ditampi). Dilanjut dengan sebesar beras. Sebesar jeruk.

Lebih besar lagi. Akhirnya sebesar buah nangka. Sosok itu merasa kinilah saatnya. Maka, ia pulang. Ia kembali ke tempat gadis itu. Namun, ia tak mendapati gadis itu lagi. Ia mencari-cari. Si gadis mulai ketakutan. Akhirnya, gadis itu kelihatan. Ia rupanya memanjat.

Ia sedang memanjat pohon pinang. Memang, selama dirawat sosok itu, gadis itu juga merawat sebatang pohon pinang.

Ia bernyanyi pada pohon pinang itu agar tumbuh cepat. Tumbuh besar dan akhirnya mengantarnya pulang. Gadis itu ternyata merasa aneh. Ia dimanja di sini. Tetapi, ia tak senang. Ia harus kembali ke rumahnya.

BERSPONSOR

“Turunlah biar kita makan,” kata sosok itu. Gadis itu tak mau. Sosok itu terus membujuk. Malah gadis itu mempermainkan. Ia mengulangi setiap perkataan sosok itu dengan mengejek.

Sosok itu marah. Ia ingin memanjat. Lalu, mengambil parang. Tiba-tiba, ada yang terjatuh. Sosok itu bahagia. Tapi, hanya sesaat.

TERKAIT  Marbinda Koperasi Ala Leluhur Batak

Yang jatuh adalah kotoran gadis itu. Pinang semakin besar. Dan, akhirnya, gadis itu kembali ke kampungnya. Itulah dongeng homang di tempat kami.

Sewaktu kecil, homang selalu menakutkan bagi kami. Maka, ada tempat-tempat angker yang selalu kami hindari. Dalam imajinasi kami, di tempat itu pasti banyak homang yang jahat.

- Advertisement -

Saya belum pernah melihat homang. Hantu itu masih ada dalam imajinasi. Termasuk ketika saya pergi ke hutan untuk marhaminjon.

Hutan itu sepi, apalagi kalau malam. Sepi sekali. Maka, jikalau buang air kecil, apalagi buang air besar, kita dikelilingi kegelapan. Kita agak jauh dari pondok.

Di saat-saat begitu, imajinasi saya liar. Jangan-jangan ada ular. Jangan-jangan ada harimau. Jangan-jangan ada homang.

Masih banyak jangan-jangan lainnya. Tetapi, saya melaluinya. Saya membawa lampu. Bergerak ke dalam hutan. Sangat gelap. Suara-suara malam sangat teduh, tetapi sangat menakutkan.

Saya mengingat pesan ayah: di hutan ini ada suladdak. Suladdak itu binatang. Ia ramah. Memanggil-manggil. Ia juga bisa meniru suara siapa saja. Jadi, belum tentu suara yang kau dengar adalah suaraku. Untuk memastikan, jangan mendekat pada suara itu. Jika mendengar, maka ia akan membawamu. Lebih dalam. Lalu, hilang.

Malam pekat. Lampu goyang-goyang diterpa angin. Tetapi, saya menikmatinya. Takut memang. Tetapi, keberanian lebih besar. Akhirnya, saya jadi betah untuk buang air besar.

Beberapa ratus meter di depan, gubuk kami kelihatan bercahaya. Seumur-umur, saya tak mendengar suladdak. Penasaran juga. Bahkan ketika saya sedang ratusan meter dari pondok.

Penulis : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor   : Mahadi Sitanggang

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU