spot_img

Jangan Memakai Kebaya dalam Tortor, Itu dari Bali

NINNA.ID – Apakah salah menggali ke akar sejarah? Tentu saja tidak. Selama tujuannya adalah untuk memperkaya dan bukannya malah radikal. Apakah salah melihat ke depan? Tentu saja juga tidak. Selama tujuannya juga untuk melengkapi tanpa radikal bahwa kebenaran adalah dari akar sejarah. Pada posisi demikianlah kita harus membaca perubahan-perubahan yang sangat mungkin dalam adat Batak.

Apa perubahan itu? Pertama, sangat dimungkinkan bahwa dulunya simatua-parumaen tak diharamkan untuk berbicara dan dekat, tidak seperti saat ini. Sekali lagi, sangat dimungkinkan. Ini bisa kita lihat dari konstruksi bangunan Rumah Bolon. Rumah Bolon tak punya kamar. Semua lempang begitu saja. Di rumah yang lempang itulah beberapa keluarga hidup bersama.

Sangat tak masuk akal jika dilihat dari kacamata saat ini. Bagaimana mereka berbicara satu sama lain? Bagaimana mereka bertukar pakaian?  Bagaimana mereka melakukan hubungan biologis? Dan sebagainya. Dan sebagainya. Sangat susah dibayangkan. Apakah punya jadwal yang disepakati? Atau, berlangsung begitu saja karena merasa mereka sudah sesama keluarga? Bisa saja. Ada alasan logis yang bisa dimunculkan.

Sebagaimana diketahui, dulu sekali, jika abangan meninggalkan seorang istri, Si Adik mempunyai kewajiban: memperistri mempelai perempuan dari si Abang. Dilihat dari kacamata saat ini, harusnya keduanya punya rasa segan. Tetapi, rasa segan itu mungkin menjadi luntur ketika di rumah itu mereka sudah merasa sekeluarga utuh karena sudah serumah, seperiuk, setempat makan.

Sebab, sebagaimana diketahui, perapian di Rumah Bolon hanya satu. Satu perapian berarti satu tempat masak. Adalah sangat tak mungkin mereka memasak masing-masing. Tidak realistis memasak masing-masing karena akan menghabiskan banyak waktu.

Jadi, dalam sebuah Rumah Bolon, ada banyak peristiwa dan kejadian yang tak bisa kita baca dengan kacamata saat ini.

Bagaimanapun, sebagai sebuah ruang, Rumah Bolon pasti terbatas. Padahal, orang Batak punya ambisi untuk membuat banyak keturunan. Karena itu, ketika Rumah Bolon tak lagi memadai, dari sanalah mungkin muncul tradisi manjae. Manjae berarti mulai hidup mandiri. Adanya tradisi manjae berarti sebelum ini, pendahulu kita tak langsung pisah rumah dengan orang tua. Mereka tetap di Rumah Bolon.

Saat ini, hampir tak ada lagi tradisi manjae. Dulu, ketika manjae, orang tua mempersiapkan bekal anaknya. Saat ini, seperti berjalan begitu saja sehingga tradisi manjae tak terlalu dominan lagi. Maksud kita mengutarakan ini bahwa ternyata selalu ada perubahan, bahkan perkembangan. Karena itu, tak sewajarnya kita selalu menyalahkan jika ada kreasi-kreasi baru. Termasuk dalam hal apa pun.

TERKAIT  Atraksi Seni "Warna Danau" Hasilkan 20 Pemain Terseleksi

Saya sangat salut pada pencari akar budaya. Salut terutama bagi yang mereka prihatin. Lebih salut lagi ketika mereka konsisten dengan akar budaya. Tetapi, tak seharusnya kita menyalahkan masa depan atas nama masa lalu. Maksudnya, tak elok kita selalu membuat penilaian dari masa lalu. Kalau melulu masa lalu jadi pijakan, semua yang kita lakukan saat ini sudah bersalahan.

Lihat konstruksi Rumah Bolon yang kini jadi perkantoran, jadi gereja, jadi gedung. Apakah filosofi Rumah Bolon dibuat untuk itu dulunya? Lebih jauh, apakah terbuat dari beton, memakai lem semen, atap seng, dan sebagainya? Tidak tentu saja. Tetapi, itulah perubahan dan perkembangan. Bahwa kita harus mengagungkan masa lalu tanpa menolak masa depan. Jika bertolak selalu ke masa lalu, kita akan jalan mundur.

Entah kita sadari atau tidak, ternyata tak semua akar sejarah baik adanya. Atau, bahasa halusnya, tak semua relevan dalam kehidupan saat ini. Soal memperistri pasangan Si Abangan, misalnya. Apakah masih relevan jika dipaksakan saat ini? Artinya, masa lalu tak selalu ideal. Masa lalu tak selalu berlabel kearifan lokal. Karena itulah kita harus gegas mencari masa depan tentu tanpa hilang pada akar.

Saya, misalnya, kagum pada pakaian masa lalu dalam hal pertunjukan tari. Tetapi, tentu akan sangat membosankan jika pertunjukan tari yang sifatnya, misalnya, komersial dan hiburan malah dipaksa harus terikat pada pagu-pagu masa lalu. Bukan tak baik. Ini bukan soal ukuran baik atau tak baik. Ini soal ukuran relevan atau tak relevan. Tak relevan saja jika acara komersial dipersiapkan sakral. Tabrak lari namanya.

Baiklah. Mari sepakat. Masa lalu harus kita lihat. Masa depan harus kita songsong. Perubahan dan perkembangan pasti abadi. Tak perlu kita radikal berpikir sehingga, misalnya, sampai ada pemikiran: jangan memakai kebaya karena itu dari Bali. Kita harus melihat tempatnya di mana, tujuannya untuk apa. Begitulah saya berpikir. Dan, logisnya, semua orang juga begitu. Toh, kita semua saat ini sudah memakai jins dan bukan lagi ulos, bukan? Begitu.

 

Penulis   : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor      : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU