Samosir, NINNA.ID — Beberapa tahun terakhir, Samosir semakin sering menjadi panggung event olahraga internasional. Ribuan pelari datang menikmati tanjakan, kabut pagi, kampung-kampung Batak, hingga sambutan hangat warga di pinggir lintasan.
Namun ada satu persoalan yang terus muncul dan diam-diam menjadi perhatian banyak pihak yaitu anjing liar di jalur perlombaan, jalan besar atau jalan utama serta di jalur wisata yang dilalui kendaraan.
Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar sepele. Tapi bagi pelari yang berlari dalam gelap pukul tiga dini hari di jalanan desa yang sepi, seekor anjing yang tiba-tiba mengejar bisa menjadi ancaman serius.
Kecelakaan sering terjadi. Pelari pernah menjadi korban dikejar-kejar anjing. Beberapa wisatawan atau pengguna jalan jatuh dari sepeda motor karena anjing yang mendadak muncul di jalan.
Persoalan ini bahkan bukan lagi sekadar cerita dari mulut ke mulut.
Korban kecelakaan akibat anjing berkeliaran di jalan terus bertambah di Kawasan Danau Toba, terutama di daerah-daerah wisata.
Pernah terjadi kecelakaan di sekitar Desa Buhit, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir.
Saat itu seorang pengendara sepeda motor melintas dari arah Pangururan menuju Parbaba. Tiba-tiba seekor anjing muncul di depan kendaraan.
Pengendara spontan mengerem demi menghindari tabrakan. Namun rem mendadak justru membuat sepeda motor kehilangan kendali.
Pengendara dan penumpangnya terpental ke aspal. Keduanya mengalami luka berat berlumuran darah di kaki, tangan, hingga badan. Celana yang mereka kenakan robek akibat terseret di jalan.
Cerita serupa dialami Susana Manihuruk, seorang guru SD di Kecamatan Simanindo. Ia mengaku sudah dua kali jatuh dari sepeda motor akibat menghindari anjing di jalan.
“Janganlah dibiarkan atau dilepas di jalan anjingnya. Apalagi Samosir ini kan tujuan wisata. Bahaya sekali kalau anjing-anjing dilepas di jalan,” ujarnya.
Masih di Kawasan Danau Toba, di Pelabuhan Tigaraja, Simalungun, kondisi yang sama juga kerap terjadi.
Manda Simatupang, seorang pekerja café yang sehari-hari melayani wisatawan menuju Pulau Samosir, mengatakan seorang pengendara bahkan pernah jatuh sambil membawa minuman karena mendadak menghindari anjing yang melintas.
Bukan hanya soal keselamatan.
Anjing yang berkeliaran juga memunculkan persoalan lain antara lain kotoran anjing di jalan, sampah yang diacak-acak, hingga kesan kumuh di kawasan wisata.
Di sejumlah titik wisata Samosir hingga desa-desa wisata di sekitar Danau Toba, pemandangan seperti itu masih mudah ditemukan.
Karena itu, ketika event Trail of The Kings (ToTK) kembali dipersiapkan tahun ini, isu anjing liar menjadi salah satu pembahasan serius dalam rapat koordinasi panitia, komunitas lokal, hingga pemerhati pariwisata.

Namun persoalannya ternyata tidak sesederhana menertibkan hewan di jalan.
Tahun lalu, upaya pengamanan jalur justru memicu kegaduhan. Sejumlah anjing ditangkap dan diamankan sementara demi mengantisipasi pelari digigit atau dikejar anjing saat lomba berlangsung.
Sayangnya, proses tersebut dilakukan tanpa komunikasi yang cukup kepada warga dan komunitas pecinta hewan.
Video dan cerita cepat menyebar di media sosial. Kekhawatiran muncul bahwa anjing-anjing itu akan dibunuh atau diperlakukan tidak layak. Tag demi tag diarahkan ke pemerintah daerah, kementerian, hingga tokoh nasional.
Padahal di sisi lain, banyak warga menganggap anjing bukan sekadar hewan peliharaan. Di kampung-kampung Batak, anjing adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, penjaga rumah, bahkan bagian dari identitas sosial masyarakat.
Di tengah situasi itu, sebenarnya ada satu hal yang menarik yakni semua pihak ternyata punya tujuan yang sama.
Komunitas pecinta hewan ingin anjing diperlakukan manusiawi. Panitia ingin pelari aman. Warga ingin kampung mereka tetap dihormati. Pemerintah ingin event berjalan baik. Semua ingin pariwisata Samosir maju.
Masalahnya hanya satu yaitu komunikasi.
“Kalau diajak ngobrol, masyarakat sebenarnya mengerti,” kata salah satu peserta rapat. “Orang Samosir itu bukan orang yang suka cari masalah. Asalkan diberi pengertian.”
Karena itu, menjelang event tahun ini, pendekatan yang dipilih mulai berubah. Bukan lagi sekadar penertiban teknis, tetapi pendekatan sosial dan budaya.
Kepala desa akan dilibatkan lebih aktif. Informasi akan disampaikan berulang melalui grup warga, gereja-gereja, dan pertemuan masyarakat.
Tim lokal akan turun langsung menyusuri kampung-kampung di jalur lomba untuk menjelaskan kapan pelari melintas, mengapa anjing perlu diamankan sementara, dan bagaimana warga bisa ikut mendukung.
Komunitas pecinta hewan pun akan diajak terlibat dalam percakapan.
Mereka bukan lagi dianggap lawan, tetapi bagian dari solusi.
Sebab pada akhirnya, pariwisata bukan hanya soal menjual pemandangan keren atau selenggarakan event internasional.
Pariwisata adalah tentang bagaimana manusia saling memperlakukan manusia lainnya — termasuk cara sebuah daerah menerima tamu tanpa kehilangan kemanusiaannya.
Danau Toba khususnya Kabupaten Samosir, sedang tumbuh menjadi destinasi wisata dunia. Tetapi pertumbuhan itu tidak cukup hanya dengan membangun jalan, hotel, atau event besar.
Kesadaran kecil tentang keselamatan dan kenyamanan wisatawan juga menjadi bagian paling penting dari wajah sebuah destinasi.
Mungkin bagi sebagian orang, mengandangkan anjing saat event berlangsung terdengar sederhana.
Namun bagi daerah wisata, itu bisa menjadi tanda bahwa masyarakat mulai belajar hidup berdampingan dengan pariwisata yang semakin besar.
Trail of The Kings mungkin hanya berlangsung beberapa hari. Tetapi cara masyarakat, panitia, pemerintah, komunitas, dan media belajar duduk bersama menyelesaikan persoalan ini bisa menjadi contoh penting bagi masa depan pariwisata Danau Toba.
Karena wisatawan tidak hanya datang untuk melihat alam.
Mereka datang untuk merasakan keramahan dan kedekatan, interaksi sosial dengan penduduk lokal.
Dan keramahan sejati selalu dimulai dari kesediaan untuk saling mendengar.
Penulis/Editor: Damayanti Sinaga



