spot_img

Istilah dalam Andungandung Budaya Batak Toba

NINNA.ID – Dari perspektif budaya, banyak hal bisa dipelajari dari kebiasaan suku Batak yang kemudian menjadi budaya dan kebiasaan yang unik dalam kehidupan masyarakat Batak Toba. Semisal penggunaan bahasa Batak Toba kuno dalam beberapa ritual adat mereka. Andungandung adalah contohnya. Andungandung ini hampir menyerupai pantun dan puisi dan biasanya dilantunkan pada suasana dukacita.

Karena sudah menjadi budaya dan tradisi, ketika ada seseorang meninggal, para ibu pun akan duduk di samping mayat tersebut seraya melantunkan kata-kata yang syahdu sambil bercucuran air mata. Inilah yang disebut dengan Mangandung.

Biasanya karena keindahan maupun keunikan setiap untaian kata dalam andungandung ini, keluarga atau pelayat akan duduk dengan seksama mendengarkan curahan hati orang yang mangandung itu.

Ada beberapa istilah yang sering terdengar ketika seseorang sedang melantunkan andungandung seperti, kata Sialasan yang memiliki Sinonim Namarpariban, biasanya kata ini diungkapkan oleh pihak perempuan kakak adik jika di antara mereka ada yang meninggal dunia. Kemudian ada lagi kata Siadopan yang memiliki sinonim sebutan terhadap suami-istri jika di antara mereka ada yang meninggal dunia.

Selanjutnya ada lagi kata Sibijaon yang memiliki sinonim untuk sebutan paman yang meninggal dunia, (paman ini adalah saudara dari ibu kandung yang meninggal dunia). Kemudian ada lagi kata Sisombaon yang memiliki Sinonim untuk sebutan kepada cucu/cicit yang meninggal dunia.

TERKAIT  Babi Ambat, Ritual Menangkal Covid-19

Selanjutnya ada lagi kata Simolohon yang memiliki sinonim sebutan untuk saudara laki-laki dari pengantin perempuan. Kemudian ada lagi kata Silisapon yang memiliki sinonim untuk sebutan kepada abang ipar atau adik ipar. Selanjutnya ada kata Buruk Masiak yang memiliki sinonim untuk seseorang yang miskin dan menderita jika meninggal dunia. Dan ada lagi kata Sijaluk Marabit yang memiliki sinonim untuk sebutan seseorang anak remaja yang sedang dalam masa perkembangan (puber) bilamana meninggal dunia.

Selanjutnya ada kata Simenemene yang biasanya digunakan untuk sebutan kepada seseorang yang mempunyai perilaku yang baik ketika meninggal dunia. Ada lagi kata Sigarani Api yang digunakan untuk sebutan kepada seseorang yang mempunyai sifat pemarah, bringas dan kejam semasa hidupnya.

Selanjutnya ada kata Parsinuan yang dilantunkan oleh anaknya untuk sebutan kepada ayah kandung yang meninggal dunia. Selanjutnya ada kata Pangittubu yang dilantunkan oleh anak-anaknya kepada seorang ibu kandung yang meninggal dunia. Selanjutnya ada kata Parsonduk Bolon yang dilantunkan jika seorang istri meninggal dan Pangulu Ni Huta dilantunkan jika yang meninggal adalah suami.

 

Penulis : Aliman Tua Limbong
Editor    : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU