spot_img

Ini Bahan Baku Alami Pewarna Ulos

SAMOSIRUlos. Kain asli Indonesia yang berasal dari tanah Batak ini, tidak lagi sebatas sebagai pelengkap ritus budaya Batak. Kain ini sudah mulai merangsek ke dunia fashion sebagai bahan busana. Keunikan kain tenun yang masing-masing punya makna bagi orang Batak ini selalu menarik untuk dipelajari. Terlebih jika ulos itu diwarnai dengan bahan pewarna alami, seperti ulos produksi Koperasi Produksi Ibu Tien Warlami di Tigabodai Desa Lumban Suhi Toruan, Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir.

Partonun (pengrajin tenun) yang didominasi kaum ibu di koperasi ini, tidak menggunakan pewarna sintetis (pewarna buatan) untuk mewarnai benang bahan ulos. Mereka mencari dan mengolah bahan-bahan yang ada di alam Samosir, untuk menjadi pewarna alami benang.

Kemarin, Jumat (17/06/2022), Koperasi Produsen Ibu Tien Warlmi ini memamerkan hasil produksi mereka, mulai dari benang yang telah diwarnai, penggunaan pewarna alami, cara bertenun, hingga ulos hasil tenunan.

Benang Ulos
Bahan benang ulos hasil pewarna alami.(foto:edward)

Acara ini dihadiri Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Rista Sitanggang, Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat dari Dinas Sosial Jenni Purba, Kepala Bidang Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Dedis Kartono Sagala, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, dan perwakilan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Samosir Sondang Pangaribuan, Sekretaris Desa Lumban Suhi Toruan Helson Sidabutar, dan Ketua Tim Penggerak PKK Desa Lumban Suhi Toruan Stella Florensia Hutajulu.

Kepada ninnA, Ketua Koperasi Ibu Tien Warlami, Henni Mariani Sagala menjelaskan, sebelum menjadi koperasi, mereka telah membuat sebuah komunitas yang mengikuti pelatihan pewarna alami pada tahun 2020 lalu. Saat itu Dinas Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Samosir, yang kini telah bergabung menjadi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata sebagai penyelenggara.

TERKAIT  Resto Martabe Pencuri Hati di Tengah Sawah

“Lalu pelatihan yang sama di Kantor Desa Lumban Suhi Toruan pada tahun 2021” jelas Henni

Sembari menunjukkan gulungan benang, Henni Sagala menjelaskan warna dan bahan baku yang digunakan yaitu warna merah dari tanaman sikkam, warna krem dari pohon raja, warna cokelat tua dari pohon jior, warna cokelat muda dari pohon ketapang, warna hijau dari daun mangga, warna hitam dari pohon ketapang dicampur dengan tanaman indigo (Salaon), warna kuning tua dari kunyit, warna kuning muda dari nangka.

Tapi masih banyak lagi warna yang belum kami temukan bahan bakunya.

Kendala yang dihadapi oleh kelompoknya dalam melestarikan pewarna alami, kata dia, adalah ketersediaan bahan baku yang cukup sulit didapatkan, tak terkecuali bahan baku atas warna yang belum pernah mereka temukan, mengingat jenis tanamannya pun sulit dicari.

“Ketersediaan lahan untuk melestarikan tanaman yang menjadi bahan baku pewarna alami ini pun tidak ada,” ucapnya dengan menunjukkan ekspresi wajah sedih.

Pada kesempatannya Henni Mariani Sagala mengungkapkan harapannya agar Pemerintah Kabupaten Samosir, melalui Dinas terkait, dan terlebih kepada Dinas yang menghadiri acara tersebut agar dapat membantu kelompok koperasi mereka dalam hal memasarkan hasil produksi mereka.

 

Penulis  : Edward Limbong
Editor     : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU