NINNA.ID-Alasan Henry Manik untuk memberlakukan tarif tiket masuk Samosir Music International (SMI) kepada para pengunjung demi menutupi biaya pengeluaran yang besar. Selama ini, katanya, dia merugi karena mengratiskan biaya masuk.
Ia harus menutupi banyak pengeluaran selama penyelenggaraan acara SMI di tahun-tahun sebelumnya. Sebagai pendiri dari SMI, ia menyatakan tahun keenam SMI ini berbeda. Ia mengutip biaya masuk agar tidak menanggung sendirian pembengkakan biaya.
Disinggung soal keberatan sejumlah masyarakat luar Samosir soal kutipan tiket masuk 125ribu ke SMI, ia dengan tegas menyatakan,” Itu sudah keputusan kami! Itu berdasarkan hitung-hitungan berkali-kali. Kalau keberatan, ya sudah tidak usah datang,” jelasnya kepada Ninna, saat ia duduk santai bersama pemain musik di sekitar lokasi gerai UMKM.
Ia menguraikan, 1.000 tiket digratiskan untuk tamu-tamu. Tamu-tamu yang dimaksud antara lain tamu dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Samosir, media, dan lainnya. Target 4.000 tiket diharapkan terjual di luar 1.000 tiket gratis.
“Target 4.000 tiket kami jual. 1000 gratis ke tamu-tamu Pemkab Samosir dan lain-lain. Jadi hanya 4.000 saja, dan itupun saya tidak tahu berapa tiket yang sudah terjual. Informasi bisa kita tanyakan ke panitia ticketing,” jelasnya.
Ia berharap sejumlah pihak yang protes, tidak mempersalahkan Pemkab Samosir masalah harga tiket. Sebab, keputusan tarif tiket bukanlah di tangan Pemkab Samosir. Ia dan timnya yang menentukan tarif.
Berikut perincian harga tiket: untuk 0-5 tahun gratis, 5-12 tahun gratis, pelajar di Samosir Rp 30.000, Pelajar di luar Samosir 50.000, Dewasa untuk penduduk Samosir Rp50.000, sebaliknya di luar penduduk Samosir Rp 125.000.

Bantuan Pemkab Samosir
Guna mendukung acara tahunan Samosir ini, Pemkab Samosir menggelontorkan dana 200.000.000. Selain itu, Pemkab Samosir khususnya Dinas Pariwisata Samosir turut mendukung penyelenggaraan acara.
Di hari pertama acara yakni Jumat 26 Agustus 2023, di sore menjelang malam kebanyakan yang menghadiri acara SMI adalah para pegawai negeri sipil di lingkungan Pemkab Samosir.
Terdapat juga tamu yang berasal dari hotel-hotel di sekitar Tuk-Tuk serta masyarakat sekitar. Menjelang malam hari, ada tamu dari luar Samosir yang khusus menghadiri SMI.
Dilansir dari halaman website https://www.samosirmusicinternational.com/, disebutkan Samosir Music International (SMI) merupakan rangkaian konser tahunan Agustus yang diadakan di Panggung Terbuka Tuk-Tuk Samosir dan diadakan setiap tahun sejak tahun 2014.
SMI adalah organisasi yang bertujuan untuk melibatkan dan menginspirasi komunitas komposer, pemain, pencipta, dan penonton konser lokal, nasional, dan internasional melalui pertunjukan musik petualangan kelas dunia.
SMI berkomitmen untuk menampilkan karya-karya baru, memprogram musik yang segar dan menarik, dan memberikan peluang profesional bagi artis-artis yang sudah mapan dan baru.
Samosir Music International merupakan tempat berkumpulnya beberapa musisi paling menarik – dan penonton yang tertarik – yang bekerja lintas genre secara nasional dan internasional, dan merupakan sebuah acara yang menampilkan keragaman bakat musisi lokal dan menyatukan komunitas.
SMI juga merupakan memberikan kesempatan kepada para pemain nasional dan internasional untuk mempelajari dan membawakan lagu dan musik lokal dengan gaya musiknya masing-masing.
Panitia SMI bermaksud menunjukkan bahwa lagu-lagu Batak memiliki keindahan tersendiri dan mudah disesuaikan untuk dimainkan di semua genre.
“Selama bertahun-tahun, festival ini telah menarik lebih banyak pengunjung. Agustus 2019 menarik lebih dari 15.000 orang. Tahun 2023 ini akan menjadi edisi ke-6 kami dan juga tahun pertama setelah pandemi Covid-19. Festival ini kami harap menjadi salah satu acara terbesar di Sumut yang menyedot penonton terbanyak. Acara ini kami harapkan benar-benar memberikan dampak positif terhadap banyak aspek,” jelas Henry Manik.
Tanggapan Tamu
Salah satu tamu bule yang menginap di salah satu hotel Tuk-Tuk—Reggae Guest House, bernama Jack mengaku senang menghadiri acara SMI. Sekalipun baru saja tiba sekitar 20 menit di lokasi acara dan masih belum dapat gambaran lengkap, ia menikmati suasana.
Saat itu, ia masih hanya melihat berbagai gerai yang ada. Ia belum membeli tiket masuk SMI untuk menyaksikan pertunjukkan musik.

Dahulukan Tiket Terbang
Tak jauh dari Jack berada ada bule bernama Cristoph yang adalah gitaris untuk pertunjukkan Sabtu 26 Agustus 2023 saat Anna Buchegger-Retta Sitorus-Tongam Sirait pentas.
Sekalipun tidak menguasai Bahasa Batak, ia dapat menyebutkan sejumlah lagu yang akan dinyanyikan besok. Antara lain katanya “Didia Rokkapi”, “Unang Gabusi Au” dan lagu lainnya.
Disinggung apakah ia mengeluarkan dana pribadi untuk sampai ke SMI ataukah panitia SMI mendanainya, ia menjawab,” Saya dahulukan tiket terbang (saya bayar dulu) nanti panitia mengembalikan dana saya.”
“Bagaimana jika panitia tidak sanggup membayar kembali tiketmu?” tanya Ninna.
“Apa boleh buat, saya lah yang menanggungnya,” balas bule Austria ini.



