Industri Pariwisata Harus Siap Hadapi Krisis Iklim, Disinformasi, dan Ketegangan Geopolitik

BERSPONSOR

NINNA.ID – Laporan World Economic Forum (WEF) Global Risks Report 2025 menegaskan bahwa sektor pariwisata dunia berada dalam posisi rentan terhadap berbagai ancaman global.

Pelaku industri pariwisata, termasuk di Indonesia, perlu memahami tren risiko ini untuk menjaga keberlanjutan dan daya saing destinasi.

  1. Krisis Iklim dan Cuaca Ekstrem

Laporan menempatkan perubahan iklim dan bencana cuaca ekstrem sebagai risiko jangka panjang terbesar. Bagi pariwisata, hal ini berarti:

  • Kenaikan suhu dan cuaca ekstrem berpotensi merusak destinasi alam seperti pantai, pegunungan, dan danau.
  • Gangguan transportasi dan infrastruktur akibat banjir, badai, atau kekeringan akan memengaruhi mobilitas wisatawan.
  • Tuntutan wisata berkelanjutan makin meningkat dari wisatawan global yang peduli lingkungan.
  1. Disinformasi dan Polarisasi Sosial

Risiko misinformasi dan disinformasi masuk ke dalam daftar ancaman utama jangka pendek. Dampaknya bagi pariwisata antara lain:

BERSPONSOR
  • Berita palsu mengenai keamanan destinasi dapat menurunkan minat wisatawan.
  • Polarisasi sosial di negara tujuan bisa menimbulkan keraguan wisatawan internasional.
  • Destinasi perlu membangun narasi positif dan meningkatkan literasi digital untuk melawan isu negatif.
  1. Ketegangan Geopolitik dan Perdagangan
TERKAIT  Bintang Porno Ron Jeremy Dinyatakan Secara Mental Tidak Sehat Diadili Atas 34 Tuduhan Pemerkosaan

WEF juga menyoroti meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Hal ini berimplikasi pada:

  • Pengetatan visa dan aturan perjalanan akibat konflik antarnegara.
  • Gangguan rantai pasok global yang bisa memengaruhi logistik pariwisata (pangan, energi, transportasi).
  • Potensi berkurangnya wisatawan dari negara-negara terdampak konflik atau krisis ekonomi.
  1. Mobilitas dan Migrasi

Dalam jangka menengah, laporan memprediksi tekanan migrasi besar-besaran akibat iklim, ekonomi, maupun politik. Sektor pariwisata harus siap menghadapi:

  • Perubahan arus wisatawan karena negara tertentu menjadi kurang aman.
  • Tekanan sosial di destinasi populer yang berisiko menimbulkan sentimen negatif pada turis.
WISATAWAN ASING
Wisatawan asing menikmati makan siang di Rumah Batak di Lumban Sitohang Kabupaten Samosir (foto: Damayanti)
  1. Peluang bagi Sektor Pariwisata

Meski penuh risiko, ada peluang besar bagi pariwisata:

  • Green tourism akan menjadi daya tarik utama bagi pasar internasional.
  • Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, swasta, dan komunitas lokal penting untuk mitigasi risiko.
  • Inovasi digital (AI, big data, kampanye online) dapat membantu destinasi menjaga citra positif sekaligus mengantisipasi disinformasi.

Penulis/Editor: Damayanti Sinaga

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU