Humbang Hasundutan Makin Hebat di Bidang Pendidikan

BERSPONSOR

HUMBAHAS – Fakta pertama, Humbang mulai berbenah pada pendidikan. Pemerintah mulai serius. Walau memang, serius tidak selalu bukti dari bijaksana atau cerdas.

Serius tanpa tepat sasaran sama saja ibarat bekerja tanpa target. Tetapi, paling tidak, serius adalah bukti adanya kepedulian. Karena itu, Humbang Hasundutan pantas diapresiasi.

Kebetulan, Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Sumatera Utara membuat rangsangan. Rangsangan agar setiap pemda tingkat II melakukan inovasi.

Inovasi yang harusnya mudah. Tidak semudah mengatakan: ayo guru berinovasilah. Gampang untuk menjelaskan. Guru masih punya persoalan pelik.

BERSPONSOR

Banyak dari mereka yang gajinya tak wajar. Dihargai Rp30 ribu per jam, bahkan per hari, apakah wajar menyuruh mereka berinovasi?

Itu yang pertama. Yang selanjutnya, Pemda punya alokasi dana. Punya kewenangan juga untuk menggunakannya ke mana saja. Artinya, langkah inovasi untuk mereka adalah hal yang seharusnya mudah.

Namun, menarik mencermati inovasi Humbang. Apalagi Dinas Pendidikan Kabupaten Humbang Hasundutan mendapat harapan II dalam kategori Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dengan inovasi daerah “Tak Lagi Pusing Karena Gasing”.

Kabupaten lain agaknya tidak fokus pada pendidikan. Juara I, misalnya, Dinas PMD Labuhan.

BERSPONSOR

Tema yang mereka angkat unik: Bupati Ngantor di Desa. Juara II dari Taput: Inovasi Hiipas. Juara III dari Dairi: Perkebbas (Pelayanan Administrasi Kependudukan Berbasis Online).

Harapan I dari Nias: Aplikasi Santunan Duka. Di bawah Humbang ada  inovasi Si Udang Galah dari Langkat.

Dari semua jawara itu, hanya Humbang pada pendidikan. Johannes Surya bahkan sampai turun ke Humbang.

TERKAIT  Pertarungan Anak Sibagot Ni Pohan pada Kasus Brigadir J Hutabarat

Ada keseriusan politik untuk mengucurkan dana ke sana. Miliaran rupiah. Itu bukti keseriusan pada politik pendidikan. Mudah-mudahan para tutornya menikmati jeri payah setelah berlatih.

- Advertisement -

Guru Penggerak Humbang juga agaknya punya ide. Menjunjung soliditas guru. Guru bukan buruh. Mereka para pemikir.

Seharusnya mudah untuk solid membangun jiwa, menyatukan semangat. Jangan ada guru terzolimi. Karena itu, para Guru Penggerak Humbang punya niat. Membangun kemerdekaan berpikir.

Apalagi, Humbang memang keren. Bukti pertama, dari 260 inovasi daerah yang mendaftar ke Balitbang (Badan Penelitian dan Pengembangan) Sumut, Humbang masuk pada urutan kelima. Di bidang pendidikan pula.

Kedua, ini kita harus objektif. Di tengah pandemi, IPM Humbang tetap naik. Dari 68,83 (2019) ke 68,87 (2020).

Hanya memang, Humbang masih tertinggal dari IPM Sumut 71,74 (2019) ke 71,75 (2020). Namun, Humbang perlu bangga.

Jika kenaikan IPM Sumut hanya 0,01 poin, IPM Humbang malah naik 0,04 poin. Artinya, dalam hal kenaikan, Humbang masih terhitung di 34 kabupaten di Sumatera Utara. Itu sebuah prestasi.

Banyak daerah tak peduli pada pendidikan, apalagi pada guru. Namun, Humbang kelihatan sudah mulai peduli pada pendidikan.

Dari sana langkah awalnya. Lalu masuk pada kesejahteraan dan kemerdekaan guru. Kemudian disusul kemajuan daerah.

Saya tak berbohong. Memang, begitulah bacaan saya tentang kemajuan sebuah bangsa. Mudah-mudahan bacaan kita tak berbeda.

Penulis  :  Riduan Pebriadi Situmorang
Editor    :  Mahadi Sitanggang

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU