Humbahas, NINNA.ID – Humbang Hasundutan meneguhkan posisinya sebagai salah satu sentra utama kopi Arabika di Sumatera Utara.
Data Dinas Perkebunan tahun 2021 mencatat, produksi tanam kopi Arabika Humbahas yakni 9.690 ton kopi Arabika per tahun, berada di urutan ketiga setelah Tapanuli Utara (16.036 ton) dan Simalungun (11.235 ton).
Dari sisi luas lahan, luas tanam kopi Arabika di Humbahas mencapai 12.230 hektare, menempatkannya di posisi kedua terbesar setelah Tapanuli Utara (16.474 ha) dan sementara Simalungun (8.430 ha).
Angka ini menegaskan bahwa Humbahas merupakan penghasil kopi terbesar ketiga kopi Arabika di Sumatera Utara, sekaligus memperkuat relevansi penyelenggaraan Festival Kopi Danau Toba di kawasan ini.

Festival bukan sekadar ajang pamer cita rasa kopi terbaik dari tanah Batak, tetapi juga wadah kolaborasi pemerintah, komunitas lokal, hingga diaspora untuk mendorong nilai tambah, branding, dan akses pasar internasional bagi kopi rakyat Humbahas.
Festival sebagai Wadah Sinergi
Perwakilan Dinas Pariwisata Humbang Hasundutan, Dina Simamora, yang hadir mewakili Bupati Humbahas, menegaskan bahwa festival ini bukan hanya ajang promosi, tetapi juga upaya menggugah kesadaran masyarakat tentang nilai kopi.
“Dengan menggugah masyarakat, kita ingin menunjukkan bahwa kopi adalah komoditas yang bisa ditanam langsung di sini, dengan pendampingan dan bantuan dari pemerintah maupun kementerian terkait,” ujar Dina Simamora di hadapan para peserta yang hadir di acara Festival Kopi Danau Toba yang diadakan di Seribu Goa, Kecamatan Pakkat, Humbahas, Jumat 3 Oktober 2025.
Ia menyinggung peluang kerja sama dengan Kementerian Pangan yang membuka ruang penyaluran bantuan, asalkan masyarakat mampu menyampaikan proposal yang jelas.
“Mereka siap mengucurkan bantuan, hanya perlu tempat dan mitra lokal yang mau menindaklanjutinya,” tambahnya.
Meski begitu, Dina menekankan pentingnya keberadaan pengumpul kopi yang berpihak kepada rakyat.
“Kita ingin kopi rakyat dikumpulkan dan dijual dengan identitas kita sendiri, bahkan bisa sampai ke pasar internasional,” jelasnya.
Menuju Event Nasional dan Internasional
Dina juga menyoroti tantangan berikutnya: bagaimana menjadikan Festival Kopi Danau Toba sebagai agenda tahunan berskala lebih luas. Ia mencontohkan sukses event di Banyuwangi yang berhasil mengangkat festival rakyat ke kalender pariwisata nasional.
“Kami ingin Festival Kopi Danau Toba juga berkembang demikian, bahkan bisa ditawarkan ke tingkat internasional,” tegasnya.
Selain kopi, kawasan Banuarea yang menjadi tuan rumah festival tengah diproyeksikan untuk pengembangan wisata minat khusus, didukung keberadaan Bandara Silangit. Bahkan, rencana pembentukan geopark baru di kawasan ini sedang diajukan melalui audiensi dengan Kementerian ESDM.
Menutup sambutannya, Dina menyampaikan apresiasi kepada komunitas Banuarea dan seluruh panitia yang menyukseskan penyelenggaraan festival untuk kedua kalinya.
“Festival ini adalah momentum penting untuk memperkuat posisi kopi Danau Toba di mata dunia. Terima kasih kepada semua pihak yang sudah mendukung, terutama komunitas. Semoga ke depan festival ini bisa masuk Kalender Event Nasional (KEN),” pungkasnya.
Penulis/Editor: Damayanti Sinaga



