spot_img

Horor Penyeberangan Makan Korban Danau Toba (I)

NINNA.ID – Menyediakan fasilitas tanpa memikirkan sistem pelaksanaan dan mempersiapkan SDM, itulah yang disebut dengan sia-sia.

Kalimat di atas kubaca pada postingan Facebook seorang kawan, Julyana Ang. Satus waktunya menunjukkan, 5 July pukul 17.47. Postingan itu bisa dikatakan, masih hangat-hangatnya baru keluar dari oven.

Begitu istilah Julyana Ang ketika mengabari informasi terbaru kepadaku, ketika kami satu tim, bekerja di salah satu media. Artinya, postingan itu dibuat baru kemarin, tak lama setelah dia mengalami sesuatu yang menurutnya sia-sia itu.

Dari foto yang disertakan dalam postingan itu, dia sedang berada di Pelabuhan Ambarita Kabupaten Samosir. Wanita berambut panjang asal Pematangsiantar itu, jelas kecewa.

“Bukan sekadar perihal antri tapi lebih tentang keseluruhan sistem management dan infrastruktur di pelabuhan tersebut,” balasnya melalui Massenger saat aku tanya tentang keluhannya di medsos itu.

Keluhannya itu ternyata sudah pernah dialami sebelumnya, 6 tahun lalu.

“Enam tahun lalu di bulan yang sama, saya masih ingat betul harus antri hampir setengah hari untuk menunggu kedatangan kapal feri.” Inilah kalimat pembuka postingannya.

Ini bukan tentang kecewa seorang Juyana Ang. Bisa jadi ratusan, bahkan ribuan orang juga pernah mengalami, mengingat Julyana pernah mengalami hal yang hampir sama 6 tahun lalu.

Masih bersyukur, wanita Tionghoa ini mau kembali berwisata ke Samosir. Berbeda dengan seorang netizen yang mengomentari postingan itu.

“Tepat 6 tahun lalu aku BERSUMPAH tidak akan datang lagi ke Danau Toba karena kemacetan, sampah dll. Lebih enak ke Penang dengan perjalanan pesawat 1/2 jam. Di sana aman, tertib, teratur, bersih… Lebih rileks rasanya,” Liangs Hu.

Layanan Kapal Ferry Penyeberangan di Danau Toba
Saat ini ada beberapa pelabuhan melayani kapal ferry penyeberangan Danau Toba dengan tujuan dari atau menuju Pulau Samosir. Dari sejumlah pelabuhan itu, Pelabuhan Ajibata di Toba dan Pelabuhan Tigaras di Simalungun, tampaknya masih menjadi pilhan utama menuju Pulau Samosir atau sebaliknya.

TERKAIT  Cerita Parhaminjon (4)

Dari Pelabuhan Tigaras, ada dua unit Kapal Ferry: KMP Sumut I dan KMP Sumut II. Dari Pelabuhan Ajibata ada tiga kapal fery. Dua kapal ferry milik swasta: KMP Tao Toba I dan KMP Tao Toba II, sedangkan satu milik pemerintah: KMP Ihan Batak. Lokasi kedua pelabuhan di Ajibata ini hanya terpaut beberapa ratus meter saja.

Bahasa Batak
KMP Ihan Batak tampak megah di permukaan Danau Toba.(Foto:ist/fredrick jo)

Di awal kehadiran KMP Sumut I dan KMP Sumut II, menjadi harapan baru untuk mengurangi kemacetan di hari libur, yang saat itu kerap mengular menuju pintu masuk pelabuhan swasta KMP Tao Toba I dan KMP Tao Toba II.

Seiring waktu berjalan, jalur penyeberangan dari Tigaras Simalungun menuju Pelabuhan Simanindo Samosir sebaliknya bejalan ramai lancar. Namun, di Pelabuhan KMP Tao Toba I dan Tao Toba II di Ajibata menuju Tomok Samosir sebaliknya, kemacetan tetap mengular di hari libur.

Berterimakasihlah kepada Presiden RI Joko Widodo, menetapkan kawasan Danau Toba sebagai salah satu daerah priortas unggulan. Danau Toba pun mendapatkan bantuan satu unit kapal ferry, Ihan Batak. Sebagai unit kapal yang baru dengan fasilitas tergolong lebih baik dari yang lain, Ihan Batak menjadi primadona.

Sayangnya, kehadiran Ihan Batak masih belum mampu mengurai kemacetan di Pelabuhan Ajibata. Jika sebelumnya kemacetan terlihat di sekitar pelabuhan KMP Tao Toba, kini di Pelabuhan Ihan Batak, antrean kendaraan juga kerap menumpuk di musim liburan.

 

Penyebarangan Danau Toba

Penyeberangan Danau Toba Penyebarangan Danau Toba

Penulis  : Mahadi Sitanggang
Editor    : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU