Hanya Lima Kabupaten Ini di Sumatera Utara Budidayakan Kemenyan

BERSPONSOR

NINNA.ID-Hanya lima kabupaten ini di Sumatera Utara budidayakan kemenyan, antara lain Tapanuli Utara, Toba, Dairi, Humbang Hasundutan, dan PakPak Bharat, ungkap Badan Pusat Statistik.

Berdasarkan Sensus oleh BPS, penghasil kemenyan terbesar yakni Tapanuli Utara dengan luas lahan mencapai 16.223 hektar dan produksi 4.073 ton.

Disusul kedua, Humbang Hasundutan dengan luas lahan mencapai 4.927 hektar dan produksi mencapai 3.418 ton. Disusul ketiga, PakPak Bharat 1.338 hektar mencapai 681 ton.

Kemenyan Toba
Kemenyan termasuk hasil tanaman keras yang tidak tumbuh disembarang daerah.(Foto:asmon)

Disusul keempat Kabupaten Toba yang memiliki luas lahan kemenyan mencapai 500 hektar dengan produksi mencapai 384 ton. Kelima Kabupaten Dairi dengan luas lahan 143 hektar dengan produksi mencapai 42 ton.

BERSPONSOR

Total luas lahan kemenyan untuk kelima provinsi tersebut mencapai 23.146 hektar atau 8.604 ton.

Menurut Thomson Silaban, staf bidang rehabilitasi hutan Dinas Pertambangan dan Kehutanan Kabupaten Humbang Hasundutan, jika sebelum tahun 1980 kemenyan mampu menyumbang 60 persen ekonomi rumah tangga, kini turun menjadi sekitar 20 persen.

Disebutkan Wikipedia, Kemenyan (Stryrax sp) yang termasuk famili Styracaceae dari ordo Ebeneles diusahakan oleh rakyat Sumatra Utara di tujuh kabupaten, terutama juga dikembangkan di Dairi, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Tengah meski tidak terlalu banyak.

Sedangkan penghasil kemenyan terbesar masih di Kabupaten Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan.

Pengolahan Hasil

Kemenyan adalah salah satu bahan untuk membuat dupa suci, yang dipakai di tabernakel dan bait.

Kemenyan diperoleh dengan membuat torehan demi torehan pada kulit kayu atau dengan mengupas kulit kayunya pada jarak-jarak tertentu sehingga cairan berwarna putih (setelah beberapa kali ditoreh, cairan yang keluar bebercak kuning atau merah) mengalir dalam bentuk tetesan yang panjangnya sekitar 2,5 cm.

Sewaktu dikumpulkan, kemenyan terdiri dari gom resin wangi berbentuk potongan atau butir-butir kecil yang rasanya pahit dan mengeluarkan bau wangi sewaktu dibakar.

- Advertisement -

Produk dari pohon dan semak kemenyan spesies tertentu dari genus Boswellia, yang berkerabat dengan pohon terpentin, atau terebinth, dan juga dengan pohon-pohon penghasil balsam dan mur. Pohon-pohon tersebut merupakan tanaman asli di beberapa bagian Afrika dan Asia.

Kemungkinan besar, kemenyan telah digunakan pada Zaman Alkitab. Bahasa Ibrani, bahasa yang banyak digunakan zaman itu mengartikan kemenyan sebagai putih.

Di Bahasa Ibrani kemenyan disebut levoh·nahʹ atau levo·nahʹ artinya ”menjadi putih” dan tampaknya dinamai demikian karena warnanya yang putih susu. Kata Yunani liʹba·nos berasal dari kata Ibraninya.

Kemenyan diolah dengan cara disadap atau dipotong kulitnya secara tidak rata tetapi kuat dari pohonnya. Cara ini memungkinkan getahnya keluar dan mengeras. Getahnya ini jika sudah mengeras akan berbentuk seperti air mata.

Pembudidayaan tanaman kemenyan tidaklah sulit. Ada beberapa spesies dan varietas pohon kemenyan, masing-masing memproduksi jenis dari getahnya sedikit berbeda.

Perbedaan tanah dan iklim menciptakan getahnya beraneka ragam dari sedikit, banyak dan bahkan lebih walaupun dalam spesies yang sama.

Pohon kemenyan ini mulai memproduksi getahnya ketika mereka berusia sekitar 8-10 tahun. Penyadapan getahnya dilakukan dua sampai tiga kali setahun dengan penyadapan akhir dapat menghasilkan “getah air mata” terbaik karena terpene aromatik yang lebih bagus kualitasnya, Sesquiterpen dan kadar dari Diterpen.

TERKAIT  Surplus Neraca Pembayaran Indonesia Meningkat, Topang Ketahanan Eksternal

Secara umum, getah yang lebih pekat adalah kualitas terbaik.

Pemanfaatan kemenyan telah dikenal luas di Indonesia terutama sebagai bahan obat, baik sebagai obat tradisional maupun industri rokok, batik dan upacara ritual.

Lebih dari itu tanaman kemenyan sebagai golongan styrax mengandung senyawa kimia yang dapat digunakan sebagai obat-obatan.

Kemenyan Sumatera (Styrax benzoin Dryander) memiliki banyak senyawa bioaktif seperti asam sinamat dan turunannya yaitu senyawa kimia yang dapat digunakan sebagai bahan baku untuk industri kosmetik dan obat-obatan.

Tanaman kemenyan prospektif dikembangkan untuk tanaman hutan rakyat, hutan kemasyarakatan, rehabilitasi, sekat baker, penghara industri pulp, maupun untuk pohon ornamen.

Selain itu kayunya dapat digunakan untuk bangunan rumah dan jembatan serta akarnya mengandung cairan berwarna kemerah-merahan yang berfungsi sebagai insektisida.

Kemenyan digunakan dalam aroma parfum dan aroma terapi, selain itu juga merupakan bahan yang kadang-kadang digunakan dalam perawatan kulit.

Minyak esensial ini diperoleh dengan destilasi (penyulingan) uap dari getah kering. Beberapa bau asap kemenyan adalah produk dari pirolisis.

Kemenyan juga digunakan zaman dulu sebagai bagian dari ibadat. Hingga kini banyak gereja Kristen termasuk Ortodoks Timur, Oriental Ortodoks dan Katolik menggunakannya. Kristen dan Islam memiliki kemenyan untuk digunakan dengan cara dicampur dengan minyak untuk mengurapi bayi baru lahir, inisiasi, dan anggota memasuki fase baru kehidupan spiritual mereka.

Asal-Usul Sejarah

Barus yang sejak abad abad dini (sejak kira-kira abad 5) sudah disinggahi oleh perahu-perahu layar antar benua merupakan pelabuhan pengekspor kemenyan dan Kamper (Kapur barus).

Lewat cerita turun-temurun, masyarakat Tapanuli percaya kemenyan itu dibawa dari Pelabuhan Barus, yang dulu pernah menjadi pelabuhan besar, menuju Timur Tengah, hingga ke Betlehem.

Di berbagai daerah penyebutannya berbeda yaitu Kemenjen dalam bahasa Pakpak Dairi, Keminjen dalam bahasa Karo dan Menyan dalam bahasa Jawa.

Menurut catatan sejarah, salah satu pusat perdagangan Kemenyan di wilayah ini pada masa lampau adalah pantai Barus (Fansyur), sebuah pelabuhan penting ketika itu di pantai Barat pulau Sumatra.

Secara sporadis dalam beberapa buku yang ditulis oleh Heyne disebutkan bahwa pelaut-pelaut Timur Tengah melihat dan mengatakan tanaman Kemenyan tumbuh baik pada ketinggian 900 – 1200 meter di atas permukaan laut, sementara Pinyopusarerk menyebut Kemenyan Laos tumbuh baik pada 800 – 1600 meter dpl.

China dan India sejak abad pertama telah membawa Kapur Barus dan Kemenyan dari Tapanuli. Kegunaannya adalah untuk bahan pengawet Mummi para raja di Romawi dan Fira’un di Mesir.

Disebutkan pada masa itu hingga beberapa abad kemudian, Kemenyan dan Kapur Barus asal Tapanuli ini tergolong barang mahal yang nilainya lebih tinggi daripada emas.

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU