spot_img

RUHUT

Gondang Sungsang Tortor Menolak Nasib

NINNA.ID – Acara Gondang Sungsang adalah ritual budaya Batak Toba yang tidak biasanya. Hajatan ini termasuk dirahasiakan karena tidak melibatkan keluarga, apalagi sampai membuat undangan kepada tetangga atau kerabat.

Sungsang itu mengartikan di luar kebiasaan. Pelaksanaan acara ini digelar karena adanya penolakan hakikat yang diterima dari Mulajadi Nabolon.

Umumnya peminta Gondang Sungsang adalah sepasang suami istri yang mengalami dukacita mendalam, karena bayi mereka selalu meninggal 4 kali berturut-turut setelah dilahirkan. Jika orang mengatakan hal itu sebagai nasib, maka mereka meminta tetabuhan gendang (gondang sungsang) untuk menolaknya.

Dengan rasa putus asa yang mendalam, suami-istri ini datang menjumpai pemain musik Gondang Sabangunan, namun belum memberitahu acara apa yang akan digelar.

Sebelum acara dimulai, pemesan Gondang sudah mempersiapkan Sirabun (abu bakar), yang akan dijadikan sesajen. Setelah pemain gondang (musik) tiba di rumah pembuat hajatan, disampaikanlah jika acara yang akan digelar untuk menyampaikan beban hidup yang sedang dideritanya, berupa kehilangan bayi sebanyak empat kali berturut-turut setelah dilahirkan.

Keputusan menggelar ritual Gondang Sungsang ini dimaksudkan untuk mengubah nasibnya, seijin Mulajadi Nabolon.

Ritual Gonang ini biasanya dimulai pada pukul 00.00 WIB. Acara mulai dengan menggelar 7 Gondang (Panjujuron), sebagai penyampaian doa oleh pemain musik Gondang Sabangunan, bermohon agar acara itu direstui Mulajadi Nabolon.

TERKAIT  Kemunculan Ular Raksasa Saat Upaya Paksa Membuka Batu Hobon

Setelah panjujuron usai, dilanjutkan dengan ungkapan penderitaan hidup penggelar ritual, kenapa sampai menggelar Gondang yang tak biasa ini.

“Ya Tuhan, saya mempersiapkan sesajen sirabun untuk mu, sebagai kekesalan nasib yang kami terima. Setiap anak kami lahir selalu meninggal. Jika Tuhan tidak menghendaki sesajen ini, berilah kami keturunan yang panjang umur. Jauhkan kami dari Tilahaon (bayi selalu meninggal setiap lahir), sehingga kami akan menyembah mu sepajang masa.”

Setelah menyampaikan pahitnya beban hidup itu, tetabuhan Gondang Sungsang dimulai. Suami isteri manortor Marsaemara (tarian tanpa busana) di tengah gelap gulita.

Dipercaya, setelah ritual Gondang Sungsang digelar, pada waktunya pasangan suami istri tadi akan melahirkan bayi yang sehat dan panjang umur.

 

Penulis    : Aliman Tua Limbong
Editor       : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU