spot_img

Geopark Kaldera Toba, Kebanggaan yang Kini Babak Belur

NINNA.ID – Mei lalu jumlah hari libur cukup panjang. Seperti biasa, aku berlibur ke Kawasan Danau Toba, melepas rindu menghirup udara bersih dan segar. Banyak alasan menggerakkan kakiku ke Danau Toba. Lagu “Dijou au mulak” cocok menggambarkan perasaanku yang selalu ingin dekat dengan Danau Toba.

Selama tiga hari libur di Kawasan Danau Toba, aku meminta kawan untuk selalu membuka jendela mobil. Aku ingin melihat ladang, sawah, pepohonan dan beragam hal tanpa halangan kaca. Menikmati hembusan angin yang selama ini kuidam-idamkan. Soalnya Kota Medan tempat tinggalku panas dan bikin gerah.

Akan tetapi, hal yang bikin gerah pun justru harus kuhadapi saat menuju The Kaldera Nomadic Escape. Jalur menuju Parapat maupun Kabupaten Toba pada puncak Lebaran dibuat searah demi mengurai kemacetan.

Sepanjang masuk dari Simpang Palang hingga Simpang Sitahoan, jalanan hancur. Ada begitu banyak kubangan berlumpur sementara jalanan menukik tajam, dan licin. Tidak ada lampu jalan sama sekali di sepanjang jalan. Karena Sitahoan merupakan Kawasan Hutan Lindung, hanya sedikit rumah atau bangunan berdiri di sekitar. Itu menambah seramnya jalan menuju Sitahoan.

Kawanku saat itu terus mengomel mengenai jalan tersebut. Tapi kami tidak punya jalur lain yang lebih baik. Kami juga sudah terlanjur di tengah jalan menuju Kabupaten Toba. Butuh sekitar setengah jam bagi kawanku untuk melalui jalan ini ekstra hati-hati.

Sepanjang jalan itu pula aku menyaksikan kondisi hutan di Sitahoan makin babak belur. Terakhir tahun 2021 aku sempat mengunjungi Sitahoan  beberapa hari seusai Parapat banjir bandang di Parapat pada Mei 2021.

Aku masih sempat mendokumentasikan keadaan hutan di Sitahoan. Status kepemilikan lahan hutan di Sitahoan pun berkotak-kotak. Sebagian dikuasai oleh Kementerian Kehutanan di bawah naungan KPH 2 Siantar, sebagian dikuasai oleh salah satu pengusaha yang kerap dijuluki Ratu, ada pamflet tulisan sebidang tanah yang luas dikuasai Bongsu Silalahi, konsensi lahan oleh PT TPL, dan kepemilikan oleh pihak lainnya.

Kondisi Sitahoan yang berkotak-kotak, memperburuk keadaan Kawasan Hutan Lindung ini. Tulisan Kawasan Hutan Lindung mengundang gelak tawa orang-orang yang melintas. Sejatinya Kawasan Hutan Lindung itu dipenuhi pepohonan lebat. Namun, nyaris kiri kanan gundul. Kondisi hutan yang menipis ini pula diduga menjadi penyebab utama Parapat banjir dan longsor besar.

Setibanya aku di The Kaldera Nomadic Escape, aku  sengaja mengintip aktivitas pembangunan di sini yang katanya berdampak terhadap pemukiman masyarakat di Sigapiton. Di sana, aku mengamati tumpukan pasir terseret hujan, alat-alat pengeruk tanah, dan jalanan bergelombang akibat lumpur menggumpal.

Kaldera Toba Tronton
Tronton berisi kayu diduga berasal dari kawasan Hutan Sitahoan bergerak dari SImpang Palang.(foto:damayanti)

Dalam hatiku berbisik, ini yang Leonard J. Lickorish dan Carson L. Jenkins uraikan dalam tulisannya An Introduction to Tourism yang menyebut begini.

Di hampir setiap negara di dunia, ada contoh-contoh yang memperlihatkan bahwa perkembangan pariwisata telah diakui sebagai biang keladi perusakan lingkungan.

Akan tetapi, di saat bersamaan pula aku melihat berbagai aktivitas masyarakat berjualan di sekitar maupun di dalam The Kaldera Nomadic Escape. Adanya destinasi ini menyerap tenaga kerja penduduk setempat dan menambah semangat berwirausaha.

Masyarakat yang tadinya bertumpu pada sektor pertanian kini memperoleh penghasilan tambahan dari sektor pariwisata dengan membuka penginapan, warung makan, dan lainnya.

TERKAIT  Potensi Sungai Lae Kombih untuk Latihan Arung Jeram

Proyek di destinasi ini masih terus berlanjut. Destinasi yang berada di Desa Sibisa, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba, Sumatera Utara terus berbenah. Pembangunannya terus dikejar oleh pemerintah melalui Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT).

Semoga saja aktivitas pembangunan di Sibisa tidak sampai mengancam keberlangsungan pariwisata itu sendiri. Dimasukkannya Kawasan Danau Toba sebagai Geopark mempertekad komitmen BPODT sebagai garda terdepan dalam menerapkan responsible tourism.

Seusai dari The Kaldera, kami bergerak menuju Pulau Samosir. Di sini, rasa gusarku pun makin memuncak. Belum tiba di Samosir aku sudah melihat lereng bukit di Desa Unjur longsor. Bongkahannya mirip air terjun yang sedang menjatuhkan tanah dan bebatuan.

Kalder Toba Longsor
Longsor di perbukitan Samosir di Desa Unjur Simanindo terlihat dari Pelabuhan Ambarita.(foto:damayanti)

Kudokumentasikan dari jauh dan dekat. Belakangan, melalui pengelola Pea Farm House, Heryober Sidabutar, aku memperoleh informasi. Diduga, longsor tersebut disebabkan penyadapan getah pinus yang tidak mengikuti standar yang ditentukan. Alasan kedua, aktivitas galian C di kaki bukit terjadi longsor. Galian C merupakan hasil longsor yang sudah berlangsung selama puluhan tahun lalu.

Material longsor tersebut masih terkumpul di saluran sungai yang sewaktu-waktu bakal terjadi jika hujan lebat. Dikhawatirkan suatu saat itu akan berdampak ke perladangan, rumah dan bahkan hotel di area sekitar.

Kekhawatiran tersebut disampaikan oleh Heryober melalui surat terbuka yang ia tujukan kepada Bupati Samosir, Vandiko Gultom sekitar akhir April 2022, tidak lama setelah kejadian longsor.

Dua pekan lalu, bertepatan ada sejumlah kawan yang ingin ku temani ke Kawasan Danau Toba. Kami memilih daerah Sipolha. Ternyata dari lokasiku berdiri di Sipolha, Simalungun, bongkahan longsor di Desa Unjur Samosir sangat jelas terlihat.

Sedih melihat kondisi ini. Danau Toba yang telah didaftarkan oleh UNESCO sejajar dengan Taj Mahal India, Tembok Besar Cina, dan menjadi tujuan pariwisata internasional, kondisinya malah tragis, babak belur.

Tanpa Park Mustahil Geo-park
Koordinator Badan Pengelola Toba Caldera Unesco Global Geopark (BPTCUGG), Bidang Edukasi dan Penelitian, Wilmar Simanjorang mengatakan jika lingkungan di Kawasan Danau Toba rusak, konservasi tidak berjalan, pemberdayaan masyarakat pun tidak berjalan.

Apakah mungkin Toba Caldera Geopark akan lolos mempertahankan predikitnya pada 2024 mendatang seperti Rinjani?, tanyanya sambil risau. Padahal selama ini ada banyak pihak yang penuh perjuangan meraih status Geopark Kaldera Toba.

Namun, keadaan park atau hutan di 8 Kabupaten Geopark Kaldera Toba makin menipis. UNESCO menyebutkan Geopark memiliki warisan bumi berharga. Warisan Dunia ini harus dilestarikan, dilindungi, dan ditingkatkan nilainya agar dapat diwariskan dari generasi ke generasi di bumi.

Selain terdaftar sebagai Geopark, Kawasan Danau Toba yang secara tofografi terdiri dari Pegunungan Bukit Barisan pun terdaftar sebagai Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatera di UNESCO. Dengan demikian, KDT mendapat dua pengakuan sekaligus sebagai warisan dunia di UNESCO. Ini menunjukkan KDT urgen untuk dilindungi.

Akan tetapi data menunjukkan perusakan terhadap Warisan Hutan Hujan Tropis ini terus meningkat. Data dari Badan Lingkungan Hidup Sumut menunjukkan sejumlah tempat yang seharusnya hutan telah beralih fungsi. Ada sejumlah areal kehutanan kini dijadikan sebagai lahan milik pribadi, perkebunan, dan alih fungsi lainnya.

 

Penulis   : Damayanti Sinaga
Editor      : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU