Fluktuasi harga parah mendorong OPEC+ rapat pada 4 Desember. OPEC+ akan mempertimbangkan kondisi dan keseimbangan pasar minyak mentah, kata kantor berita negara Irak mengutip pernyataan Saadoun Mohsen, seorang pejabat senior di pemasar minyak milik negara SOMO, Sabtu 26 November.
OPEC+ mengacu pada aliansi produsen minyak mentah, yang telah melakukan koreksi pasokan di pasar minyak sejak 2017. Sementara OPEC merupakan singkatan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

OPEC+, yang termasuk anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya yang dipimpin oleh Rusia, akan mengadakan pertemuan berikutnya di Wina pada 4 Desember.
Keputusan OPEC+ pada Oktober guna mengurangi produksi sebesar dua juta barel per hari (bpd) telah memainkan peran penting dalam menstabilkan pasar global, kata Saadoun, yang menjabat sebagai delegasi Irak untuk OPEC.
Produksi minyak mentah Irak saat ini mewakili 11 persen dari total produksi kelompok tersebut sebesar 43 juta barel per hari, katanya. Irak berharap kisaran harga minyak mentah setidaknya $85-95 tahun depan.
Pasar minyak mengalami fluktuasi parah akibat dampak pandemi, ekonomi global yang melambat, dan perang di Ukraina. Hal itu membuat lebih sulit untuk memastikan stabilitas harga.
Minyak bukan hanya penting bagi kehidupan modern melainkan juga sudah menjadi masalah sentral dalam bidang politik dan menjadi minat khusus segelintir penguasa. Sebagaimana dinyatakan oleh OPEC, minyak bukanlah produk biasa, melainkan ”suatu aset strategis”.
Sejarah Jadi Aset Strategis
Pada tahun 1859, Edwin L. Drake, seorang pensiunan pemandu rel kereta, dengan menggunakan sebuah mesin uap tua, mengebor sumur sedalam 22 meter hingga mencapai minyak mentah pertama yang ditemukan di dekat Titusville, Pennsylvania, AS.
Hal ini menandai dimulainya zaman minyak. Seraya minyak ditemukan di banyak bagian dunia, substansi ini mengakibatkan konsekuensi ekonomi dan politik yang besar. Minyak terbukti sebagai sumber penerangan artifisial bermutu tinggi yang sudah ditunggu-tunggu dunia ini.
Segera, pembelian tanah secara terburu-buru dan pengeboran sumur menjadi aktivitas utama di daerah-daerah yang disebut wilayah minyak di Amerika Serikat.
Pada tahun-tahun itu, merupakan hal biasa mendengar ada orang yang tiba-tiba menjadi kaya dan ada orang yang akhirnya kehilangan hartanya. Ironisnya, Edwin Drake, pengebor sumur pertama di Pennsylvania, termasuk orang yang disebut belakangan.
Meskipun popularitas minyak mentah naik daun secara luar biasa, atau mungkin malah karena itu, industri minyak di Pennsylvania segera mengalami kejatuhan pertamanya. Harga minyak anjlok dari 20 dolar per barel menjadi 10 sen! Produksi yang berlebihan dan spekulasi membuat harga-harga jatuh, dan beberapa sumur segera habis isinya.
Pengingat khusus dari masa-masa itu adalah Pithole City, Pennsylvania, yang sekarang adalah kota hantu. Kota itu didirikan, berkembang pesat, dan ditelantarkan—semuanya dalam jangka waktu lebih dari satu setengah tahun. Masa-masa baik dan buruknya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah minyak.
Pada tahun 1870, John D. Rockefeller dan beberapa rekannya mendirikan Standard Oil Company. Perusahaan ini mendominasi pasar minyak tanah hingga para pesaing muncul, khususnya di industri minyak Rusia.
Salah satu pesaingnya adalah Marcus Samuel, pendiri perusahaan yang sekarang dikenal sebagai Royal Dutch/Shell Group. Selain itu, sebagai hasil kelihaian Nobel bersaudara, sebuah perusahaan minyak yang kuat didirikan di Rusia dengan minyak yang diekstrak dari ladang-ladang di Baku.
Itulah awal sejarah serangkaian perusahaan minyak. Sejak itu, berbagai aliansi dan organisasi telah diciptakan untuk menghindari ketidakstabilan harga dan produksi pada masa-masa awal itu.
Salah satunya adalah Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang ke-11 anggotanya secara kelompok memiliki sebagian besar cadangan aktual minyak mentah dunia.



