spot_img

Filosofi Rumah Tradisional Batak Toba (3)

NINNA.ID – Konstruksi rumah tradisional Batak Toba tidak mempergunakan paku, hanya tali ijuk dan rotan. Akan tetapi kekokohan bangunan tersebut tidak diragukan lagi. Bahkan sampai sekarang, rumah-rumah khas suku Batak Toba masih tetap berdiri kokoh di beberapa kampung yang ada di daerah Samosir. Diperkirakan, usia bangunan itu sudah ratusan tahun.

Banyak komponen-komponen bahan bangunan rumah tradisional BatakToba ini yang diambil dari hutan. Saking berat dan besarnya bahan-bahan tersebut, masyarakat mengangkutnya dengan marsiurupan (gotongroyong). Pada zaman itu sistim marsiurupan boleh dikatakan masih sangat kental, dilakukan dengan sukacita saling bahu membahu. Marsiurupan mulai pudar sekitar sekitar tahun 80-an hingga sekarang. Budaya tersebut tergeserkan dengan uang.

Ukuran satu rumah tradisional Batak Toba yang ideal harus cukup besar. Diperkirakan ukurannya dapat mencapai 7×9 meter. Maka  tak heran, pada zamannya, rumah itu dihuni 4 hingga 6 kepala keluarga. Walau demikian, jarang terjadi persoalan-persoalan dalam keluarga. Mereka dapat hidup rukun dan damai.

Tataring (tungku) tempat memasak pun diposisikan di tengah – tengah rumah tradisonal tersebut.

Masing-masing keluarga tidak terganggu memasak karena diyakini para istri-istri pun akan bersama-sama memasak di tataring tersebut, yang memungkinkan untuk berbagi alat masak yang sama dan juga bahan masakan yang sama. Demikian juga untuk membatasi setiap  keluarga satu dengan keluarga lainnya cukup dengan Lage (tikar) yang dianyam dari pandan, itulah yang menjadi pembatas yang disebut Siluban.

TERKAIT  Situs Hopong Jejak Peradaban Hindu di Tanah Batak?

Sungguh suatu hunian dan budaya yang menggambarkan kekompakan yang mempererat tali persaudaran sehingga menimbulkan rasa kasih sayang yang mendalam. Mereka dapat hidup melewati hari, minggu dan bulan selama bertahun lamanya dengan rukun.

 

Penulis   : Aliman Tua Limbong
Editor      : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU