spot_img

Filosofi Hariara bagi Orang Batak

NINNA.ID – Perkampungan Batak identik dengan pohon. Pohonnya seperti beringin. Tetapi, ini bukan beringin. Hanya mirip. Pohonnya adalah hariara. Masih sekeluarga dengan beringin sehingga hariara sering disalahtafsirkan sebagai beringin. Walau berbeda, keduanya adalah pohon sakral bagi orang Batak. Karena itu, keduanya ada dalam umpasa.

Martantan ma baringin, Mardangka hariara. Horasma tondi madingin, Matangkang ma manjuara.

Kedua jenis pohon ini adalah simbol bagi cita-cita hidup ideal Batak: hamoraon, hagabeon, hasangapon. Dahulu kala, perkampungan orang Batak selalu dibuka dengan penanaman bibit hariara. Jika pohon itu mempunyai syarat untuk tumbuh, perkampungan itu aman.

Aman maksudnya berarti bisa sejahtera. Bisa kaya. Itulah tentang hamoraon. Jadi, konon, bibit hariara itu ditunggu sampai hari ketujuh. Tumbuh atau tidak. Penamaan hariara boleh jadi berasal dari tenggat waktu itu. Hari berarti ari. Ara berarti singkatan dari hari ketujuh, yaitu samisara. Hari ketujuh orang Batak memang samisara.

Kelipatan hari ketujuh orang Batak juga selalu menempel kata samisara. Dimulai hari ketujuh dengan samisara. Dilanjut hari keempat belas dengan samisara purnama. Lalu hari kedua puluh satu disebut samisara moraturun. Dan, hari kedua puluh delapan adalah samisara bulan mate. Jadi, hariara sangat mungkin adalah penantian sampai hari ketujuh.

Dinanti sampai ke hari ketujuh terkait tentu dengan pertanyaan: apakah bisa hidup di perkampungan itu atau tidak. Jika bibit hariara tak kunjung mengeluarkan tanda-tanda kehidupan, maka rencana lain akan diambil. Demikianlah mengapa di setiap perkampungan orang Batak selalu ada hariara. Pasti itu.

Jadi, untuk mengukur tuanya sebuah kampung, kita bisa melihat dari umur pohon hariara.

Sayang, belakangan ini, hariara mulai dibenci. Pohon ini disebut sudah cukup mengganggu. Karena itu, banyak perkampungan memutuskan untuk memotong pohon hariara. Sebab, pohon itu terlalu besar. Rantingnya dikhawatirkan bisa patah.

Begitu juga dengan hariara di perkampungan kami. Sewaktu saya masih belum sekolah, kami sering bermain melihat ke atas pohonnya yang sangat tinggi. Burung-burung tampak bahagia di sana. Burung itu juga banyak bersarang di sana. Jadi, hari-hari kami selalu ditemani kicauan burung-burung. Itu hari yang menyenangkan.

TERKAIT  Roh – Pancaran Jiwa Dalam Diri Orang Batak Toba (XI)

Apalagi, kami juga sering memakan bunga-bunga pohon hariara. Agak manis. Ya, manis karena memang pilihan makanan sangat terbatas. Namun, intinya, kami sangat bergembira. Kadang kalau panas, kami bisa berteduh. Tetapi, tak pernah kami datang sampai ke batangnya. Orang tua kami selalu melarang. Di situ ada ular besar, begitu mereka berkata.

Karena itu, tak satu pun dari kami datang ke batangnya. Begitulah pohon itu banyak berkisah. Pohon itu menemani masa kecil kami. Hingga kemudian, di awal tahun 2000, sewaktu saya masih SMP, pohon itu ditumbang. Ternyata, untuk menumbangnya tak bisa sembarangan. Saya lupa persis bagaimana ritualnya. Yang pasti, ada semacam pesta.

Itak tata disuguhkan. Dan, penumbang pohon tak sembarangan. Beberapa kali kami mendengar mistis bahwa pohon itu tak bisa ditebang. Chainshaw (sinso) selalu mati. Begitu berulang. Maka, dipanggillah orang pintar. Jauh-jauh dari Sidikalang. Merekalah yang menumbang pohon itu. Kini, kampung itu tanpa hariara.

Begitu juga di perkampungan lain. Agaknya, pada masa itu, ada momen yang saling mendorong untuk menumbang pohon itu. Ya, tentu saja karena sudah sangat mengganggu. Namun, saya punya bayangan bahwa ke depan, pohon hariara tidak akan ada lagi di perkampungan. Ia menjadi pohon langka.

Oh, iya, tulisan ini masih kita sambung nanti terkait pada ambisi orang Batak lainnya, yaitu hasangapon dan hagabeon. Seperti biasa, jika ada pembaca yang mau berbagi kisah, jangan sungkan menjapri kita. Siapa tahu bisa jadi bahan cerita untuk esai berikutnya. Siapa tahu.

 

Penulis   : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor      : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU