spot_img

Filosofi Hariara bagi Orang Batak (2)

NINNA.ID – Dan begitulah: pohon hariara sangat bermakna bagi orang Batak. Disebut juga pohon tersebut sebagai sijabi-jabi. Artinya, hariara adalah juga sijabi-jabi. Tetap ada umpasa untuk itu. Kali ini menyangkut hagabeon.

Begini bunyinya: mardakka jabi-jabi, marbulung ma situlan. Angka pasu-pasu pinasahat muna, sai sude mai dipasaut Tuhan.

Sijabi-jabi menjadi pohon berisi doa-doa dan harapan. Sijabi-jabi juga menjadi pertanda. Konon, ada pohon hariara di Desa Sinambela di Bakara. Pohon itu kini sudah hampir mati. Dulu, pohon ini adalah tongkat Raja Sisingamangaraja. Sang Raja menancapkan pohon tersebut. Kemudian tumbuh besar.

Kemudian pula, kelak menjadi pertanda. Jika ranting pohon itu patah, maka akan ada berita buruk. Mungkin akan ada raja baru. Ada raja baru berarti raja lama wafat. Artinya, jika ranting pohon Hariara Tungkot patah, Raja Sisingamangaraja akan wafat. Dan, konon, begitulah adanya. Jadi, ini bukan sebatas cerita belaka di tanah Batak.

Masih ada tanda lain. Jika daunnya layu atau malah terbalik, maka akan muncul bencana dan sebagainya. Karena itu, pohon Hariara Tungkot ini juga sering disebut sebagai hariara na marmutiha, yaitu pohon yang memberi petunjuk. Kini, pohon itu sudah hampir mati. Dikatakan demikian karena daunnya nyaris tidak ada lagi.

Jika diibaratkan dalam tafsir kekinian, hariara Tungkot ini nyata-nyata sudah memberi petunjuk. Pohonnya hampir mati. Pada saat yang sama, sinyal semangat Raja Sisingamangaraja pun hampir padam juga. Sekadar untuk menjaga tradisi seperti sudah dilakukan Si Raja Jorat di Balige pada tahun-tahun kemarin (2016), toh bisa kok dicoba dilestarikan.

Ada panitianya. Acaranya bahkan boleh dikatakan besar. Tentu, ini hanya meneruskan tradisi supaya tak lekang dari ingatan. Pada Raja Sisingamangaraja, hal seperti itu agaknya tak mungkin terjadi. Tetapi, entahlah. Hariara Tungkot mungkin bisa memberi petunjuk. Soalnya, saat ini, meski hariara ini nyaris mati, mulai pula tumbuh tunas-tunas baru dari akarnya. Apakah ini sebuah pertanda baru?

TERKAIT  Roh – Pancaran Jiwa Dalam Diri Orang Batak Toba (IX)

Entahlah. Saya hanya masih merasa takjub pada hariara. Sedikit takut dan sedikit segan. Soalnya, saya selalu teringat pada cerita-cerita masa lalu. Dalam berbagai cerita, setiap pohon hariara konon selalu ada makhluk mistis. Mereka ulubalang. Mereka penjaga kampung. Mereka menghidupi pohon hariara. Karena itu, pohon tersebut selalu seperti jadi angker.

Angker dekat dengan berwibawa. Jadi, jikalau ada pohon tersebut, warga pasti adem. Pendatang pasti segan. Tetapi, begitulah yang terjadi. Saat ini, pohon hariara sudah sangat terbatas. Beberapa mati sendiri seperti Hariara Tungkot. Beberapa sengaja dimatikan setelah melakukan ritual karena konon sudah cukup mengganggu. Perkampungan modern akhirnya sudah tanpa hariara.

Saya sih oke-oke saja jika perkampungan Batak modern tanpa hariara. Cuma saya berpikiran begini. Jika dulu hariara terbukti menjaga wibawa kampung, bagaimana kalau tugasnya kita modifikasi sekarang ini. Maksudnya, dulu menjaga kampung, kini menjaga hutan, terutama hutan adat dan hutan lindung.Tanam saja hariara. Banyak-banyak pun boleh.

Saya lumayan percaya. Sebab, pohon ini memang punya wibawa tersendiri. Saya selalu punya cerita bahwa para perambah hutan selalu segan dan takut jika berjumpa dengan hariara. Ada-ada saja cerita yang menarik tentang ini. Mungkin, pohon ini memang jenis pohon kehidupan. Karena itu, ketika ditebang, ia melawan secara metafisik.

Penebang mungkin akan sakit. Dihantui pikiran. Gelisah. Dan sebagainya. Dan sebagainya. Jadi, untuk menjaga hutan adat, sebaik-baiknya kita perlu meniru cara lama. Jika dulu menjaga kampung, ayo luaskan jadi menjaga hutan. Mungkin, dengan cara seperti ini, sampai seratus tahun ke depan, kita bisa menjaga alam di Danau Toba dan cerita hariara tetap awet.

 

Penulis  : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor    : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU