spot_img

FGD Titik Nol Batak tak Berhasil

NINNA.ID – Tergolong baru. Itu satu penilaian saya pada FGD Titik Nol Batak. Sependek pengetahuan saya, FGD ini dikerjakan Pemkab Samosir. Mestinya gaungnya besar. Tetapi, saya tak melihat gaung itu besar. Biasa-biasa saja seakan tak ada yang berlalu. Itulah penilaian saya. Namanya penilaian, sifatnya sering subjektif meski juga kadang objektif.

Saya tak sedang mengatakan pembicaraan mereka tak berisi. Saya sampai mencari power point dan naskah mereka. Termasuk dari Thompson Hs. Jadi, saya simpulkan, pembicaraan mereka itu berisi. Tetapi, ya, gaungnya tidak ada. Begitu saja sambil lalu. Tampaknya media tak antusias meliput acara ini. Padahal, sekali lagi, sependek pengetahuan saya, ini kali pertama FGD dengan tajuk demikian dibuat.

Mengapa saya sebut gaungnya tak luas? Saya mencarinya dari google. Saya masukkan kata kunci “FGD Titik Nol Batak”. Saya temukan beberapa berita yang terbit beberapa hari lalu. Sifatnya pemberitahuan, bahkan promosi. Tetapi, tak ada berita pasca FGD tersebut. Dari sana saya menilai, media tak tertarik untuk meliputnya. Atau, pres rilisnya belum diberikan kepada media?

Atau, apakah simpulan dari FGD ini rahasia penyelenggara dan panitia? Itu satu hal. Hal kedua, jika media tak tertarik, bukan berarti animo masyarakat tak ada. Cukup sering peristiwa besar tidak diliput atas nama kepentingan politik. Tetapi, jika tak diliput, hiruk pikuk media sosial pasti datang untuk menggoreng. Jadi, peristiwa besar itu tetap bergaung meski ditutup salurannya oleh media mainstream.

Inilah yang tak terjadi pada FGD Titik Nol Batak di Samosir. Saya melihatnya simpel saja. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Samosir melakukan tugasnya dengan membagi informasi kegiatan melalui fanpage. Beberapa kegiatan lain dibagikan puluhan kali. Namun, informasi tentang FGD Titik Nol Batak ini hanya dibagikan sekali dan disukai oleh 30-an orang. Komentar hanya tiga, itu pun emoticon.

Jadi, jika tujuan FGD ini dibuat salah satunya untuk menarik perhatian masyarakat, maka FGD ini sudah gagal. Hasil pembicaraannya hanya ada pada narasumber dan tidak meluas pada masyarakat. Padahal, narasumber pada kegiatan itu sangat kompeten. Beberapa dari mereka pernah saya temui. Beberapa yang lain hanya tahu dari nama. Beberapa yang lain tidak kenal. Seharusnya gaungnya luas.

Sekali lagi, ini karena menyangkut Titik Nol Batak. Entah apa pun istilah yang kemudian datang menyusul. Apakah itu Kilometer Nol. Atau yang identik. Semestinya, topik ini seksi dan bahkan sedikit sensasional. Tidak hanya sensasional, juga mengandung kebaruan. Sebab, meski sudah pernah dibahas sekilas, tapi perhatian untuk mengarah pada pengalenderan Batak baru kali ini.

Sebagaimana kita ketahui, Batak itu misterius. Sangat misterius. Namanya diberikan oleh ilmuwan asing. Lalu, diterima sebagai sebuah kebanggaan oleh mereka yang dicap Batak.

Ada Karo. Simalungun. Angkola. Mandailing. Pakpak. Juga Toba. Dari berbagai literatur, semua puak ini menamai diri mereka tanpa ada kata Batak. Ya, cukup disebut, misalnya, kami orang Toba. Itu dulu.

TERKAIT  Mereka Juga Memahami Kita

Namun, sebutan Batak pada puak ini pada dasarnya tepat saja. Setidaknya, dilihat dari tata adatnya lebih banyak persamaannya daripada perbedaannya. Soal ada perbedaan, itu tentu bagian dari variasi. Sesama orang Toba saja tetap ada keunikan masing-masing. Beda di Humbang, beda pula di Samosir. Jadi, perbedaan itu hanya keunikan, bukan perbedaaan “jenis kelamin” etnis.

Yang misterius adalah banyaknya ditemukan hasil arkeologis di sekitaran Batak, termasuk di Barus dan di Sijago-jago. Itu masih yang dapat tentu saja. Tetapi, para ilmuwan kita belum sampai pada kata sepakat Batak itu sebenarnya darimana. Para ilmuwan kita justru lebih sibuk mencari sensasi untuk menyebut bahwa Karo bukan Batak dan lainnya bukan Batak. Itu yang paling sering saya lihat.

Mereka bukan tak benar. Tetapi, itu tak menyentuh esensi. Itu tepatnya. Sebab, kalau sebatas menyebut seperti Karo bukan Batak, ya Indonesia pun bukan Indonesia. Indonesia nama yang diberikan oleh ilmuwan asing kepada kita. Sama seperti Batak, nama Indonesia itu kini berubah jadi simbol kebanggaan bangsa. Maksud saya, ilmuwan kita masih berada pada titik pisah Batak dan puak-puak itu.

Mereka belum menemukan titik temu antara situs-situs arkeologis di sekitar daerah yang kini didiami orang yang disebut Batak. Apakah mungkin perniagaan kemenyan dan Kapur Barus dulu pada abad awal Masehi (bahkan di beberapa literatur disebut sebelum Masehi) adalah sesuatu yang terpisah dengan orang Batak saat ini? Tak mungkin terpisah.

Maksud saya, sebaiknya kita mencari data untuk titik temu antara Batak sebelum silsilah dengan Batak bersilsilah atau bermarga daripada hanya mengatakan: karo bukan Batak, Toba bukan Batak. Tetapi, ya, mungkin itu yang kita sukai. Lihatlah, FGD yang menghadirkan tokoh dari puak Batak ternyata tak menghasilkan simpulan. Maksudnya, tidak terkespose sehingga kita tak tahu mereka sedang apa.

 

Penulis   : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor      : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU