spot_img

Festival Sisingamangaraja jadi Ikonik Humbang Hasundutan

NINNA.ID – Tanggal 11 Juli kemarin, Pemkab Humbang Hasundutan meluncurkan sebuah program. Nama program itu adalah Festival Sisingamangaraja. Rencananya, program ini akan berpuncak pada 30 Juli 2022. Ini tentu serangkaian dengan perayaan hari jadi Humbang Hasundutan. Acara ini direncanakan akan melibatkan pelaku seni dan sanggar di Humbang.

Tentang festival ini, Humbang Hasundutan memang sangat berhak. Malah, festival seperti ini bisa-bisa menjadi kekhasan dari Humbang Hasundutan. Sebab, istana besar Sisingamangaraja berada di Humbang Hasundutan, tepatnya di Bakara saat ini. Menarik membahas Desa Bakara. Secara letak geografis, Bakara adalah desa yang tertutup.

Jalur masuk ke desa itu sangat rumit. Entah mengapa Sisingamangaraja memilih tempat itu sebagai basis kerajaannya. Namun, di tengah ketertutupannya, Sisingamangaraja justru mempunyai banyak akses ke luar. Hampir seluruh daerah Humbang Hasundutan pernah ia lalui. Karena itu, jika dibuat rekayasa tapak tilas, akan jadi menarik.

Soalnya, hampir pasti semua daerah Humbang pernah ia lewati. Dan, barangkali tapak tilasnya, tentu dilihat mulai dari Dinasti Pertama Raja Manghuntal, sangat sering ke Barus. Mungkin untuk urusan dagang. Mungkin untuk urusan spritual dengan Raja Uti. Mungkin untuk diplomasi. Dan, masih banyak lagi kemungkinan urusan lainnya.

Karena itu, jalur pergaulan Sisingamangaraja sangat luas. Hingga pada Sisingamangaraja terakhir, Patuan Bosar, ia sudah memiliki banyak pasukan. Sangat banyak dari Aceh. Banyak pula dari Pakpak. Semua pasukan itu cenderung bukan urusan gaji-menggaji. Ini urusan karena Sisingamangaraja punya kharisma yang kuat dan kental.

Kembali ke festival tersebut. Humbang Hasundutan secara de facto sangat berhak. Entah diletakkan di lokasi mana pun akan tetap sah. Bisa di Lintong Ni Huta. Bisa di Paranginan. Bisa di Pollung. Di Doloksanggul, terutama di Bakara. Jadi, jika tahun ini dibuat di Sipinsur, hal itu bisa diterima. Lagipula, tembakan acara ini sekaligus juga untuk pariwisata.

TERKAIT  Tondi Dohot Sahala Dalam Kepercayaan Batak

Sebagaimana diketahui, Sipinsur adalah sebuah destinasi wisata paling populer di Humbang. Di sanalah festival akan dibuat. Sudah pasti ide acara berkaitan dengan Sisingamangaraja. Karena ini bersifat atraksi dan peringatan sekaligus juga penghargaan, maka sudah pasti semua acara bertemakan penggal demi penggal hidup Sisingamangaraja.

Nah, karena Sisingamangaraja ada sebanyak 12 persona, sangat mungkin juga ide cerita berawal dari kedua belas persona tersebut. Atau sebaliknya. Karena popularitas Sisingamangaraja Patuan Bosar lebih besar, sangat mungkin ide cerita berawal dari sana. Mungkin penggalan hidupnya diambil ketika berperang. Ketika memerintah.

Mungkin juga penggalan hidup lainnya. Namanya cerita. Ia bisa bentuk inspirasi yang dituangkan dalam gerak. Bisa gerak itu dalam mossak. Bisa dalam tari. Bisa juga inspirasi itu dituangkan lewat kata. Barangkali akan ada puisi diselingi musik. Orang modern menyebutnya musikalisasi puisi. Artinya, selagi beraroma inspirasi, semuanya bisa sah.

Satu yang pasti, acara ini tentu harus menjadi momentum bahwa nama besar Sisingamangaraja harus menjadi kebanggaan bagi orang Humbang Hasundutan. Tentu juga terutama bagi para keturunannya. Siapa pun tak bisa meragukan nama besar Sisingamangaraja. Pedang Gajah Dompaknya menjadi wibawa tersendiri. Sayang, wibawa pedang itu sepertinya sudah mulai pudar saat ini.

 

Penulis   : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor      : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU