Festival Kopi Danau Toba Ketiga Tahun Ini Dorong Kawasan Danau Toba Jadi Wisata Kopi Dunia

BERSPONSOR

NINNA.ID-Danau Toba tidak hanya memiliki panorama alam yang menjadi daya tarik wisata. Kawasan yang dikelilingi delapan kabupaten ini juga memiliki kekayaan kopi dengan karakter dan cita rasa yang berbeda-beda.

Potensi tersebut ingin dikembangkan melalui Festival Kopi Danau Toba ketiga yang akan digelar pada 1-3 Oktober 2026.

Festival ini mengangkat tema “Menikmati Kopi di Danau Volcano Terbesar di Dunia.”

Pembukaan festival akan dilaksanakan di atas Kapal Phinisi Moksa Perdana di Parapat. Kegiatan selanjutnya akan berlangsung di sejumlah lokasi di kawasan Danau Toba, termasuk Sipinsur di Humbang Hasundutan dan sejumlah lokasi lainnya.

BERSPONSOR

Ketua Umum Panitia Festival Kopi Danau Toba III, Berliana Purba mengatakan, kegiatan tersebut digelar sekaligus untuk memeriahkan International Coffee Day yang diperingati setiap 1 Oktober.

Festival Kopi Danau Toba tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ketiga. Menurut Berliana, gagasan membuat festival kopi di Danau Toba muncul karena kawasan tersebut memiliki identitas kopi yang cukup kuat.

“Orang-orang banyak bikin festival. Saya pikir, kita yang punya kopi, kenapa tidak membuat festival di Danau Toba,” ujar Berliana.

Menurutnya, sejumlah daerah di sekitar Danau Toba sudah memiliki kopi dengan karakter masing-masing. Bahkan delapan kabupaten yang mengelilingi Danau Toba memiliki produk kopi yang telah memiliki indikasi geografis.

Salah satunya kopi Lintong yang memiliki karakter cita rasa herbal, cokelat dan kacang.

“Dia punya kekhasan. Seperti kalau di Lintong itu kan herbal, ada rasa-rasa coklat, kacang. Itu bisa diidentifikasikan,” jelasnya.

Kopi dan Pariwisata

Berliana mengatakan potensi kopi tersebut dapat dikembangkan menjadi bagian dari pariwisata.

- Advertisement -

Menurut dia, posisi Danau Toba sebagai kawasan geopark menjadi salah satu alasan kopi dapat dikembangkan menjadi produk wisata.

Danau Toba sendiri telah menjadi bagian dari UNESCO Global Geopark. Karena itu, pengembangan pariwisata tidak hanya berbicara tentang panorama alam, tetapi juga geoproduk yang berasal dari kawasan tersebut.

“Kopi ini salah satunya. Enggak seru dong enggak ada kopi,” katanya.

Festival Kopi Danau Toba kemudian diarahkan tidak hanya sebagai kegiatan untuk menikmati kopi. Wisatawan nantinya diharapkan dapat melihat langsung tanaman kopi, proses pengolahan, hingga proses roasting.

Konsep tersebut juga berkaitan dengan pengembangan agrowisata kopi.

“Wisatawan enggak hanya menikmati secangkir kopi, tapi dia akan tahu juga proses dari pembuatan kopi. Bagaimana cara roastingnya, tanamannya seperti apa,” kata Berliana.

Dengan konsep tersebut, kebun kopi tidak hanya dilihat sebagai tempat produksi. Kebun juga dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Memiliki Pohon Kopi

Panitia Festival Kopi Danau Toba memiliki target agar kopi semakin dekat dengan kehidupan masyarakat di kawasan Danau Toba.

Salah satu targetnya adalah setiap keluarga memiliki pohon kopi.

“Target kita itu setiap orang di Danau Toba punya pohon kopi. Setiap keluarga punya pohon kopi,” ujar Berliana.

Menurutnya, jika tanaman kopi semakin banyak ditanam dan dikembangkan, wisatawan nantinya dapat melihat tanaman kopi di berbagai tempat ketika berkunjung ke kawasan Danau Toba.

Selain itu, panitia juga memiliki target agar setiap kecamatan memiliki minimal satu roastery kopi dan satu coffee shop lengkap dengan baristanya.

Hal tersebut diharapkan dapat membangun ekosistem kopi dari tingkat masyarakat hingga pasar.

Kopi Tua Ratusan Tahun

Potensi kopi di Kawasan Danau Toba juga tidak hanya berasal dari tanaman yang baru dikembangkan.

Di kawasan Seribu Goa terdapat pohon kopi yang disebut telah berumur ratusan tahun.

Berliana mengatakan pohon tersebut memiliki bentuk yang tidak lagi seperti tanaman kopi pada umumnya. Pohonnya tidak tumbuh tinggi, bahkan menyerupai bonsai, tetapi masih menghasilkan buah.

“Dia sudah kayak bonsai, tapi tetap berbuah. Itu sudah ratusan tahun,” katanya.

Menurutnya, pohon kopi tua tersebut dapat dikembangkan menjadi bagian dari wisata heritage.

Selain melihat tanaman kopi, wisatawan juga dapat mengetahui sejarah kopi yang sudah tumbuh dan berkembang di kawasan tersebut.

Bukan Hanya Kopi

Festival Kopi Danau Toba III juga akan menampilkan berbagai produk masyarakat.

Produk yang akan diperkenalkan tidak hanya kopi, tetapi juga gula aren, teh herbal, bandrek andaliman, makanan olahan serta produk pertanian lainnya.

TERKAIT  Provinsi Papua Barat Daya Menjadi Provinsi Termuda

Salah satu produk yang diperkenalkan adalah daun simarbosi-bosi yang disebut sebagai teh Batak kuno.

Ia mengatakan tanaman tersebut masih ditemukan di sejumlah kawasan sekitar masyarakat, termasuk di Seribu Goa.

Selain itu, terdapat produk gula aren yang dikembangkan dalam bentuk kemasan sehingga dapat dipasarkan lebih luas, termasuk ke hotel.

Ada pula produk kopi 3 in 1 yang terdiri dari kopi, susu dan gula aren.

Produk lainnya adalah bandrek andaliman yang menggunakan salah satu rempah khas Sumatera Utara.

“Selain kopi, kita juga ada keripik. Kemudian ada produk pertanian. Kalau di Pakat, ada dodol durian, salak dan lainnya,” ujar wanita yang berprofesi sebagai konsultan pajak tersebut.

Dengan demikian, festival diharapkan dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan produk UMKM yang ada di kawasan Danau Toba.

Panitia mengajak seluruh masyarakat dan pemerintah termasuk BPODT, Badan Geopark Kaldera Toba, serta Dewan Kopi juga  Badan Swasta untuk berkolaborasi  karena ini event kita bersama.

Sabang sampai Merauke

Festival tahun ini juga akan menghadirkan kopi dari berbagai daerah di Indonesia. Kopi Gayo dan kopi dari Merauke disebut akan ikut diperkenalkan dalam festival.

Ia mengatakan kehadiran kopi dari berbagai daerah tersebut untuk menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan kopi yang sangat beragam.

“Sabang sampai Merauke. Ada Gayo dan Merauke dan lain-lainnya ada di tengah-tengahnya,” katanya.

Menurutnya, masing-masing daerah dapat memiliki kekhasan produk sehingga wisatawan memiliki alasan untuk datang dan menikmati produk lokal dari daerah tersebut.

Petani Bertemu Buyer

Festival Kopi Danau Toba III juga akan mempertemukan petani, pelaku usaha, konsumen dan buyer.

Tidak hanya produk kopi siap minum yang akan diperkenalkan. Panitia juga akan menampilkan green bean atau biji kopi yang belum diolah.

Calon buyer nantinya dapat melihat proses pengolahan kopi secara langsung.

“Festival ini enggak hanya memamerkan berbagai produk. Tapi juga mempertemukan antara buyer, kemudian petani, konsumen semua ada di situ,” ujar Berliana.

Di sejumlah lokasi juga akan dilakukan pelatihan barista dan kegiatan roasting.

Konsep tersebut diharapkan dapat memberikan pengalaman yang lebih lengkap kepada pengunjung sekaligus membuka peluang pasar bagi pelaku usaha kopi.

Menghadapi Pasar Eropa

Pengembangan kopi Danau Toba juga tidak terlepas dari tuntutan pasar internasional.

Berliana menyinggung aturan European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang menuntut adanya keterlacakan produk dan memastikan komoditas tidak berasal dari kegiatan yang menyebabkan deforestasi.

Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan kopi untuk pasar ekspor.

“Harus jelas traceability-nya. Dan juga bahwa dia anti-deforestasi,” katanya.

Artinya, pengembangan kopi tidak cukup hanya meningkatkan produksi. Asal-usul kopi dan proses produksinya juga harus dapat diketahui.

Hal tersebut menjadi bagian dari upaya agar kopi Indonesia tetap dapat bersaing di pasar internasional.

Menuju Hub Kopi Dunia

Festival Kopi Danau Toba III  tahun 2026 pada akhirnya diarahkan untuk membangun ekosistem kopi yang lebih luas.

Visi yang dibawa panitia adalah “Kopi Danau Toba memberi kenikmatan kopi yang mendunia.”

Sementara misinya antara lain menjadikan Danau Toba sebagai wisata kopi terbesar di dunia dan mendukung upaya Indonesia menjadi hub kopi dunia.

Baginya, Danau Toba memiliki modal untuk menuju tujuan tersebut. Ada alam, budaya, produk pertanian, kopi dengan berbagai karakter, serta masyarakat yang dapat terlibat dalam pengembangan pariwisata.

Karena itu, Festival Kopi Danau Toba tidak hanya diarahkan menjadi kegiatan tahunan.

Lebih jauh, festival ini diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun identitas baru Danau Toba sebagai kawasan wisata kopi.

Kopi yang selama ini berada di kebun dan di tangan petani, diharapkan dapat semakin dekat dengan wisatawan.

Dari kebun, masuk ke roastery. Dari roastery masuk ke coffee shop. Dari coffee shop kemudian dikenal wisatawan. Dan dari Danau Toba, kopi tersebut diharapkan bisa semakin dikenal dunia.

Penulis/Editor: Damayanti Sinaga

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU