Parapat, NINNA.ID. Di atas Kapal Moksha Pradana, kopi menjadi cerita utama pelayaran yang menandai dimulainya Festival Kopi Danau Toba ketiga, Kamis 1 Oktober 2026.
Rangkaian festival berlangsung selama tiga hari, 1-3 Oktober 2026. Hari pertama dikemas berbeda. Para peserta tidak hanya duduk mendengarkan sambutan dan diskusi, tetapi diajak melihat langsung Danau Toba dari atas kapal. Peserta berasal dari pemerintah, komunitas, pelaku usaha dan sejumlah pihak lainnya.
Pelayaran dibagi dalam dua sesi, pagi dan siang. Pada sesi pagi, sejumlah pembicara menyampaikan harapan agar kopi tidak berhenti sebagai hasil perkebunan, tetapi berkembang menjadi bagian dari kekuatan ekonomi dan pariwisata Kawasan Danau Toba.

Ketua Panitia Festival Kopi Danau Toba, Berliana Purba, mengatakan kawasan Danau Toba memiliki delapan kabupaten dengan sembilan Indikasi Geografis (IG) kopi.
“8 kabupaten, tapi di sini juga sudah 9 IG kopi di Kawasan Danau Toba,” kata Berliana.
Menurut dia, kekayaan tersebut menjadi modal untuk membangun wisata kopi di Kawasan Danau Toba. Festival yang digelar bertepatan dengan Hari Kopi Internasional pada 1 Oktober itu diharapkan terus berkembang hingga menjadi wisata kopi terbesar di dunia.
Bagi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, kopi bukan hanya komoditas perdagangan. Kopi juga menjadi bagian dari kekayaan hayati kawasan Geopark Kaldera Toba.
Perwakilan Dinas Koperasi dan UMKM Sumatera Utara, Paul Simamora, mengatakan karakter kopi di sekitar Danau Toba memiliki keunikan masing-masing. Ia mencontohkan Kopi Lintong dari Humbang Hasundutan yang sebelumnya dikenal dengan sebutan Kopi Sigarar Utang atau Kopi Ateng.
Potensi itu, menurut Paul, mulai terlihat dalam perdagangan. Dalam misi dagang di Hotel Grand Mercure Medan pada 29 September 2026, terjadi transaksi antara Jawa Timur dan Sumatera Utara sekitar Rp2,7 triliun. Kopi menjadi salah satu produk yang mendapat perhatian dalam pertemuan bisnis tersebut.
Paul mengatakan varietas kopi dari sejumlah daerah seperti Karo, Dairi, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Simalungun dan Toba perlu terus dijaga karena masing-masing memiliki karakter yang berbeda.
Bagi pelaku usaha kopi, menjaga keunikan daerah menjadi penting ketika produk mulai dibawa ke pasar yang lebih luas.
Tidak hanya soal rasa, pemerintah juga mendorong pelaku usaha memperhatikan standar produk. Salah satunya melalui sertifikasi halal yang menurut Paul juga berkaitan dengan kebersihan dan proses produksi.
Ia menjelaskan, proses tersebut mencakup bahan baku, pengolahan, penggunaan perlengkapan pekerja, kondisi tempat produksi hingga pengelolaan limbah.
“Halal itu higienisnya,” kata Paul.
Dari sisi Kementerian Koperasi, festival ini diharapkan tidak berhenti sebagai acara tahunan. Perwakilan Deputi Pemasaran Kementerian Koperasi, Steven, mengatakan festival dapat menjadi ruang untuk mempertemukan petani, pelaku usaha, pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas dan pelaku pariwisata.
Koperasi dinilai dapat menjadi penghubung dalam rantai tersebut, mulai dari peningkatan kualitas produk hingga memperluas akses pasar.
“Kopi yang dihasilkan dari tanah Danau Toba tidak hanya dikenal cita rasanya, tetapi juga kualitas, cerita, dan identitas yang melekat di dalamnya,” ujarnya.
Pengembangan kopi, lanjutnya, harus dilakukan dari hulu hingga hilir. Mulai dari kapasitas petani, budidaya, pascapanen, pengolahan, pengemasan, pemasaran hingga penguatan merek.
Dengan begitu, kopi tidak hanya dijual sebagai biji atau minuman, tetapi memiliki nilai tambah dan cerita yang dapat dibawa ke pasar yang lebih luas.
Perwakilan kalangan buyer yakni Direktur PT Fresh Vegetabel Market, bahkan menyebut pelaksanaan festival di atas kapal sebagai salah satu kegiatan yang unik. Ia datang tanpa banyak persiapan dan tiba-tiba sudah berada di tengah Danau Toba.
Di sisi lain, Anton membawa cerita tentang peluang produk lokal untuk masuk ke pasar yang lebih besar. Produk gula aren disebut sedang dikembangkan dan dikemas agar dapat masuk ke pasar hotel, termasuk hotel berbintang.
Anton yang menjabat sebagai Ketua Koperasi Nira Sari Prima menyebut adanya upaya memperkenalkan produk dari Kawasan Danau Toba ke luar negeri. Produk kopi dari Geopark Danau Toba disebut telah diperkenalkan dalam kegiatan di Bangkok dan direncanakan berlanjut ke Barcelona pada 1 November.
Bagi Anton, peluang itu tidak hanya terbuka untuk kopi. Produk lokal lainnya juga dapat dikembangkan menjadi bagian dari gastronomi Danau Toba.
“Bagaimana Danau Toba semakin dikenal, baik itu gastronominya dan juga budayanya,” ujarnya.
Sementara itu, Badan Pengelola Geopark Kaldera Toba melihat pengembangan ekonomi kawasan tidak dapat dilepaskan dari masyarakat.
Debbie Panjaitan mengatakan Geopark bukan hanya berbicara mengenai alam dan geologi. Kawasan tersebut juga harus dikelola masyarakat sehingga potensi yang ada dapat memberikan peningkatan ekonomi.
Kopi menjadi salah satu contoh produk yang dapat dikembangkan dari konsep tersebut.
Ketika masyarakat diberi ruang untuk mengolah dan mengembangkan potensi yang ada di lingkungannya, produk lokal tidak hanya menjadi barang dagangan. Ia dapat menjadi bagian dari cerita kawasan, sekaligus menjadi alasan orang datang berkunjung.
Di tengah luasnya Danau Toba, pembicaraan justru mengarah pada sesuatu yang lebih jauh yakni bagaimana kopi dari pegunungan dan desa-desa di sekeliling danau dapat menemukan pasar baru.
Festival ini mencoba mempertemukan dua hal yang selama ini berjalan beriringan tetapi belum selalu terhubung kuat, yakni kopi dan pariwisata.
Kopi membawa cerita tentang petani, tanah, rasa dan identitas. Pariwisata membawa orang untuk datang melihat, mencicipi dan mengenal cerita itu secara langsung. Dari atas Kapal Moksha Pradana, perjalanan itu baru dimulai.
Penulis/Editor: Damayanti Sinaga



