Eva Manurung Ibu Guru di Sopo Belajar Binangara, Desa Terpencil di Samosir

BERSPONSOR

SAMOSIR – Ini kisah Eva Manurung (29), gadis asal Kota Pematang Siantar yang memilih jadi “Ibu Guru” di Sopo Balajar Binangara, Desa Hasinggaan. Di sekolah nonformal binaan Lembaga Nonpemerintah Alusi Tao Toba, di Kecamatan Sianjurmulamula Kabupaten Samosir ini, Eva membantu Pemerintah Republik Indonesia mencerdaskan anak bangsa.

Banyak orang bercita-cita jadi seorang guru. Walau di tempatkan ke gunung sekalipun, banyak yang mendaftar. Sekalipun ditempatkan di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T) sebagai Guru Garis Depan.

Mereka mau. Welau tak salah, hitung-hitungan mereka itu sederhana. Saat ini sulit mencari kerja dengan gaji terjamin. Jika diangkat menjadi guru SM3T, setidaknya mendapatkan gaji dari negara, dan jumlahnya tidak sedikit. Bisa bantu orang tua dan jaminan hari tua berupa pensiun sudah menunggu jauh di depan.

Eva Manurung
Eva Manurung si ibu guru Sopo Belajar Binangara,(foto:abiden)

Beda halnya dengan Eva Manurung. Walau diberangkatkan oleh Alusi Tao Toba, pasti jumlah gajinya tidak sebesar guru-guru SM3T. Padahal tempat bekerjanya temasuk SM3T, tertinggal.

BERSPONSOR

Jangan membayangkan, karena di Samosir tempat ini dekat. Seperti Tomok, TukTuk, Pangururan atau kampung sekitar Sibeabea. Satu-satunya moda transportasi ke Huta Binangara Desa Hasinggaan ini hanya kapal.

Jangan pula bayangkan, kapal dari Parapat atau Tigaras. Kapal menuju Binangara biasanya hanya ada dari Pangururan, Itupun hanya dua kali seminggu.

Hari Rabu karena urusan ekonomi. Warga Binangara berdagang ke Pasar Pekan (onan) Pangururan dan hari Sabtu, menjemput anak negeri Hasinggaan yang belajar di SMP dan SMA di Kecamatan Pangururan.

Ongkos juga lumayan menguras kantong. Untuk tarif umum Rp30.000 dan anak sekolah Rp15.000 per orang. Mereka rerata anak petani, nelayan tradisional dan pencari rotan ke hutan. Jika ada urusan mendesak, rental kapal ke Pangururan lebih merobek kantong, Rp300.000.

BERSPONSOR

Untuk mencapai Kecamatan Pangururan mungkin kebanyakan sudah tahu. Hitung sendiri jarak tempuh, waktu dan biaya yang harus dihabiskan menuju Ibu Kota Pangururan itu, plus perjalanan ke Binangara.

Dengan begitu, bagi orang yang biasa dengan hiruk pikuk kendaraan setiap hari, bisa membayangkan betapa sepinya hari-hari di Huta Binangara, sepinya hari-hari Eva Manurung sebagai guru di Sopo Belajar.

TERKAIT  10 Pohon Paling Banyak Tumbuh di Kawasan Danau Toba

Kepada ninna.id, Eva mengatakan sudah tinggal di Huta Binangara sejak 7 September 2017. Minimnya kemampuan anak-anak negeri di sana dalam baca tulis dan minimnya sekolah nonformal membuat dirinya melalui Alusi Tao Toba mengabdikan diri sebagai guru di sana.

Walau sudah mengiklaskan diri, bukan berarti Eva tak merasakan kendala selama di sana. Jauhnya jarak tempuh ke Kota Pangururan, kata dia, menjadi kendala untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

- Advertisement -

Beruntung, sambutan warga desa bisa membantu kebutuhan sehariannya. Mungkin sebagai balas jasanya mengajar 30 anak di Sopo Belajar, sesekali ada warga desa memberinya kebutuhan pokok seperi beras, sayuran dan lauk. Terkadang ada yang memberi telur, ayam atau bebek.

Menyadari tenaga anak-anak SD Negeri 20 Binangara itu dibutuhkan orang tuanya selepas pulang sekolah, Eva membuka kelas belajarnya setelah anak-anak itu selesai membantu orang tua. Waktu lebih untuk belajar bisa dilakukan setiap hari Minggu selepas ibadah gereja.

Sejak kehadiran Sopo Belajar itu, kata Eva, ada peningkatan minat belajar anak-anak negeri. Jumlah anak-anak yang bisa membaca dan menulis di sana meningkat drastis.

Walau jauh dari orang tua, jauh dari teman dan berada di tempat yang sepi di salah satu dusun teluar Samosir, Eva Manurung tetap semangat, apalagi bertambah jumlah anak desa yang semakin paham menulis dan membaca.

Jarak yang memisahkan Eva Manurung dengan orang tuanya, bisa jadi tak sejauh dengan anak-anak perempuan yang juga saat ini seedang menjadi guru di desa-desa terluar Indonesia. Tapi andil mereka sama. Sama-sama mencerdaskan anak-anak negeri di Indonesia. Sama-sama berada di tempat terpencil.

Sama-sama tak bisa nongkrong dan kongkow di cafe-cafe modern di kota. Gadis-gadis muda yang tangguh. Generasi muda yang bersama pemerintah mengambil tanggungjawab mencerdaskan kehidupan anak bangsa. Eva Manurung juga sama dengan guru-guru di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T) sebagai Guru Garis Depan.

Pembedanya, Eva Manurung terkadang masih dibayar pakai telur, tidak ada dari APBD atau APBN dan tidak ada jaminan hari tua menunggunya di ujung jalan.

Penulis  : Abiden Simamora
Editor    : Mahadi Sitanggang

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU