spot_img

Dua Sisi Event Pariwisata Festival Gondang Naposo

SAMOSIR – Layaknya pesta untuk Naposo (kawula muda), Festival Gondang Naposo banyak dihadiri anak muda yang mungkin memang niatnya mencari jodoh. Namun ada juga pasangan keluarga muda, yang datang berdua menikmati suasana romantis pesta anak muda ini.

Dermaga Jetty di Danau Toba yang pernah disinggahi Presiden Jowoki dengan gedung Samosir Creative Hub yang beberapa bulan lalu diresmikan Menteri Kemenparekraf Sandiaga Uno, menjadi saksi kemeriahan Festival Gondang Naposo selama dua hari sejak 16 April 2022.

Di luar agenda festival, sepertinya alam saat itu mendukung dengan Sunset yang begitu indah di hari pertama. Momen alam yang kerap dikaitkan dengan romantisme ini, tak disia-siakan para kawula muda. Sejenak, momen Sunset mencuri waktu pesta kawula muda itu.

Wisata mencari jodoh ala orang Batak ini terbilang menarik perhatian kawula muda, karena memang dikonsep sebagai ajang mencari pasangan yang dalam bahasa Batak disebut, Marsirokkap.

Dengan thema kali ini “Ho do Nahupillit” (kau yang kupilih) biasanya setiap tahun pasti melahirkan pasangan-pasangan yang melanjutkan hubungan hingga ke jenjang pernikahan.

Gondang Naposo 2
Momen marhusip atau berbisik seorang pria mendekati tambatan hatinya dalam tortor di Gondang Naposo.(foto:febe)

Bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Samosir event ini digelar dua hari tanggal 16-17 April bersamaan dengan libur Paskah. Bagi warga sekitar, event ini menjadi peluang membuka usaha kuliner. Dan pengakuan beberapa pedagang kuliner di sana, dua hari membuka usaha, semua ludes terjual.

Samosir Hub Creative menjadi pilihan utama yang tersedia bagi pengunjung yang ingin menikmati sajian ala-ala café. Terlepas dari adanya Gondang Naposo, setiap harinya gedung kreatif ini dibuka bagi wisatawan.

Bagi peserta yang diikuti dari berbagai daerah di Sumatera Utara, festival ini dengan genre seni tari tradisional ini merupakan pagelaran yang sangat bergengsi. Event khusus untuk kawula muda ini, memang mereka tunggu-tunggu dan berharap bisa dilaksanakan lebih dari satu kali setahun.

Selama dua hari festival, beberapa dareah berhasil keluar sebagai juara. Di antaranya Kategori Penyaji Tortor Tradisi terbaik kali ini dibawa pulang oleh Sanggar Tunas Kelapa Kabupaten Samosir.

Kategori Penyaji Tortor Kreasi Terbaik masih tetap dipegang oleh pemenang sebelumnya Sanggar Seni Tonggi Humbang Hasundutan dan Kategori Penyampai Pesan Cinta Terbaik kali ini direbut Sanggar Seni Pagabe High Land Hutatinggi.

Tim dengan fashion terbaik didapatkan oleh Sapa Dancer KMU Samosir, Pamitta terbaik didapatkan Sanggar Seni SMA Negeri 1 Ronggurnihuta dan Pasangan Sidoli dan Namarbaju didapatkan oleh pasangan dari Sanggar Seni Atturnung.

TERKAIT  Sanggar Tari Menghibur Wisatawan di Kapal dan Pelabuhan

Sebanyak 16 tim yang ikut berfestival ria tahun ini datang dari Kota Medan, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara serta dari Kabupaten Samosir sebagi tuan rumah pelaksanaan event ini.

Event Pariwisata yang Minim Promosi
Pemerintah Kabupaten Samosir melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan menggelar Festival Gondang Naposo di Pantai indah Situngkir, Kecamatan Pangururan pada 16-17 April 2022 dengan Thema ” Hodo Na Hupillit”.

Festival ini merupakan bagian pertama dari 4 (empat) Kalender Even Horas Samosir Fiesta 2022 yang diresmikan oleh Menteri Pariwisata Sandiaga Salahuddin Uno beberapa waktu yang lalu, dan bertujuan untuk meningkatkan arus kunjungan Wisatawan ke Kabupaten Samosir.

Hal ini di Sampaikan oleh Bupati Samosir Vandiko Timoteus Gultom pada saat pembukaan acara.

Gondang Naposo 23
Acara pembukaan Festival Gondang Naposo.(foto:edward)

“Festival Gondang Naposo adalah salah satu yang paling unik, karena event ini adalah ajang mencari jodoh melalui tarian Tortor (Take Me Out Batak Version) yang sudah dikenal dalam budaya Batak sejak jaman dahulu,” ucap Bupati.

Untuk pemilihan waktu festival ini sudahlah sangat tepat, yakni dalam hari libur Paskah bagi umat Kristiani. Tentunya acara seperti ini dibutuhkan bagi para pengunjung yang sedang berlibur ke Samosir.

Namun berdasarkan pantauan jurnalis ninnA sebelum dan saat pelaksanaan festival ini, sepanjang jalan besar daerah terlaksananya festival, yakni dari Simpang 4 Pangururan hingga pintu masuk Pantai Indah Situngkir, tidak ditemukan spanduk ataupun Baliho yang dapat dilihat oleh pengguna jalan, melainkan hanya Baliho G 20 saja. Seharusnya dengan melihat Baliho dan Spanduk tersebut, pelintas jalan juga dapat mengetahui ada kegiatan yang akan dan sedang berlangsung.

Seorang warga Pangururan Franki Rajagukguk mengaku tidak tahu adanya Festival Gondang Naposo itu. Padahal jarak dari Pangururan ke Pantai Indah Situngkir tidak sampai 10 kilometer.

“Saya tidak tahu, kalau tahu pasti saya datang,” ujar Franki.

Selain adanya kritik warga terkait minimnya promosi, pengambilan tempat untuk event yang jauh hari diresmikan sekelas Menteri itu mendapat sorotan karena dekat dengan satu gereja. Kehidmatan Ibadah Sabtu Suci menyambut paskah dikhawatirkan terurai dengan adanya kegiatan Festival Gondang Naposo itu.

 

Penulis : Febe/Edward Limbong
Editor    : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU