spot_img

Di Samosir Desa Wisata Belum Datangkan Perubahan

SAMOSIR – Ditetapkannya 53 Desa Wisata di Kabupaten Samosir melalui SK Bupati Samosir No: 77 Tahun 2022, sepertinya belum membuat semarak. Pasalnya kunjungan wisatawan ke “Negeri Indah Kepingan Surga” terpantau tidak mengalami kenaikan berarti.

Sejatinya, penetapan desa wisata itu diharapkan menjadi salah satu penyokong ekonomi masyarakat desa dengan datangnya kunjungan turis. Namun kenyataannya, masih banyak warga desa wisata belum tahu apa itu desa wisata dan tujuannya.

Sebelum ditetapkan jadi desa wisata pun, warga melihat kondisi desanya tetap begitu-begitu saja. Nyaris tak ada perubahan, semisal, datangnya wisatawan lokal apalagi mancanegara ke desa mereka.

Salah satu Desa Wisata di Siogung Ogung, Kelurahan Siogung Ogung, Kecamatan Pangururan bahkan tidak ada geliatnya sejak ditetapkan Februari 2022 hingga akhir Juni 2022.

“Saya tidak melihat ada pergerakan, tidak ada geliat di kampung saya di Siogung Ogung,” kata Efendi Naibaho, seorang warga setempat di Pangururan, Kamis (23/06/2022).

Diakuinya, Pemerintah Kabupaten Samosir memang menetapkan desanya sebagai desa wisata sejak awal tahun lalu. Namun pemanfaatkan kearifan lokal hingga melakukan penataan di desa tidak kunjung dilakukan pemerintah kabupaten, pemerintah desa maupun warganya.

Hal yang sama disampaikan pengelola desa wisata Desa Tomok Parsaoran, Luhut Sijabat yang mengelola objek wisata kubur di atas pohon. Luhut juga membeberkan, sejak desanya ditetapkan menjadi bagian desa wisata, belum ada koordinasi dari pemerintah untuk melakukan pergerakan di desa-desa wisata, secara khusus di desa yang dikelolanya.

“Saya juga tidak mengerti. Sampai sekarang belum ada kami dipanggil oleh dinas terkait, padahal para bule luar negeri sudah mulai memadati Tuktuk. Seharusnya sudah  dilakukan penataan. Ini sama sekali tidak ada,” kata Luhut.

TERKAIT  300 Pesepeda Gowes di Negeri Indah Kepingan Surga

Dia melihat penetapan desa-desa wisata itu hanya di SK saja. Tidak ada optimalisasi berupa tindakan dari pemerintah sehingga pengelolanya bersama warga bergerak. Dia pesimistis, ada kunjungan wisatawan ke desanya.

Tetapi kondisi berbeda disampaikan Harmoko Sinaga, pengelola Desa Wisata Togaraja di Desa Partungkot Naginjang, Kecamatan Harian. Dia menyampaikan, pihaknya terus berkarya dengan melakukan penataan sendiri tanpa menunggu pemerintah.

Sebagai objek wisata yang sedang naik daun, kata dia, Togaraja terus berbenah dengan melibatkan semua masyarakat melakukan berbagai terobosan: membuat pagelaran musik yang dapat mendatangkan wisatawan.

Melihat lambatnya pergerakan desa wisata di Samosir itu, Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Samosir, Jonner Simbolon saat dihubungi menyampaikan, prinsip desa wisata harus dilakukan dengan pro aktif. Artinya, masyarakat yang ada di desa wisata harus pro aktif untuk melakukan terobosan di desanya.

Dia seolah meluruskan, penetepan desa wisata melalui SK Bupati Samosir hanyalah sebagai pembuka gerbang atau pemicu masyarakat untuk semakin tampil menata desa masing masing.

Jonner juga menyampaikan, desa wisata merupakan salah satu upaya untuk menaikkan perekonomian masyarakat di Kabupaten Samosir. Oleh karena itu, untuk memantapkan desa itu diperlukan pendampingan, diperlukan badan usaha seperti Bumdes serta melibatkan para perantau dari desa tersebut.

Penulis  : Jogi S
Editor     : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU