spot_img

Di Barus: Lebih Dulu Komunitas Kristen daripada Islam

NINNA.ID – Kita masih berbicara kuliah umum dari Uli Kozok. Oh, iya, sebelum dilanjut, saya ingin menegaskan sebuah hal. Sebab, dalam tulisan ringan saya sebelumnya (Di Barus, Kristen Ternyata Lebih Dahulu dari Islam), ada yang salah mengerti. Mereka membaca tulisan itu sebagai bentuk bahwa keliru jika kita masih menyebut Barus adalah Titik Nol Islam Nusantara.

Sekilas, boleh begitu. Apalagi jika tulisan saya terdahulu dibaca dengan tafsir emosional bahwa ternyata ada kemungkinan Barus lebih dahulu disinggahi dan ditinggali komunitas Kristen. Namun, mari berterus terang. Bahkan meski sesaat setelah Yesus mati di kayu salib dan rasul-Nya, misalnya, langsung datang ke Barus untuk menyiar agama, status Barus sebagai Titik Nol Islam Nusantara tak akan berubah.

Sampai di situ saya pikir sudah jelas. Sekarang, mari lanjut poinnya. Apakah betul sebelum Islam datang ke Barus, maka sudah ada komunitas Kristen di sana? Uli Kozok meragukannya. Lebih hebat, bahkan Uli Kozok meragukan catatan dari Abu Shalih Al-Armani yang mengatakan bahwa ada komunitas Nestorian yang sudah sampai pada bumi Nusantara pada saat itu.

Padahal begini kata Abu Shalih dalam tulisannya: “Di Fansur ada beberapa gereja, yang termasuk kelompok Kristen Nestorian. Dari situ (Fansur-Pen) dihasilkan ‘Kamfer Barus’, suatu zat yang menetes dari pohon-pohon. Di kota itu berdiri gereja, yang ditandai dengan nama Perawan Maria Tak Bernoda.” Tahun didirikannya gereja itu diperkirakan pada 645 M.

Dari kalimat itu, sepertinya sudah tak ada yang meragukan lagi. Ya, sudah pasti itu di Barus. Kira-kira begitu, apalagi ini juga terkait dengan kamper. Tetapi, dalam studi yang lebih cermat, ternyata kata Fansur di situ lebih memungkinkan ada di sekitar India. Mungkin juga Pakistan. Karena memang, ada nama yang mirip dan di sana dan juga daerah itu menghasilkan kapur.

Walau begitu, tetap tak tertutup kemungkinan tentang catatan Abu Shalih Al-Armani. Malah, yang lebih fenomenal, jauh sebelum catatan Abu Shalih Al-Armani, pada abad kelima, sebuah kota dekat Barus, saat ini dinamai Situs Bongal, konon ditemukan bukti-bukti yang cenderung merujuk pada Kekristenan. Ditemukan pula, kata Ichwan Azhari, koin Persia Pra-Islam.

Artinya, ya, situs itu sudah sangat tua. Lebih tua barangkali dari Islam sebagai agama. Bahkan, dari Kristen karena ada temuan manik-manik khas Kleopatra dari Mesir.

Apa artinya pesan temuan ini bagi kita? Bisa jadi tak ada artinya dan tak ada gunanya. Tergantung cara pandang kita. Tetapi, satu hal yang tak bisa saya bohongi dalam diri saya, betapa dulunya ternyata daerah Tapanuli ini sangat berpengaruh.

TERKAIT  Merindukan Berwisata Murah di Danau Toba

Saking berpengaruhnya, komunitas-komunitas internasional kuno dengan berbagai Imperiumnya hadir. Ada Mesir. Ada Romawi. Ada Persia. Menyusul kemudian agama-agama. Semuanya mereka berkumpul di suatu tempat di daerah Tapanuli. Iseng saya bertanya dalam hati: lantas, apa pengaruh kedatangan mereka pada orang pribumi saat itu dan pribumi saat ini?

Saya rasa perlu membuat kategori jelas: pribumi saat itu dan pribumi saat ini. Kita tahu, di daerah Tapanuli yang berdekatan dengan Fansur, Barus, Sijago-jago, umumnya mereka adalah orang kita Batak. Itu untuk saat ini. Lalu, pada saat itu, apa pengaruhnya pada pribumi saat itu? Sebelum mencari apa pengaruhnya pada pribumi saat itu, perlu juga menduga: siapa pribumi saat itu di Tapanuli?

Apakah Melayu? Jika mengekor pada teori proto-deutro Melayu (meski itu sudah usang), rasanya bukan deutro Melayu. Mungkin Batak. Tetapi, kritisme perlu dihadirkan: bukankah jika dilihat dari silsilah, maka Batak masih baru muncul pada sekitar tahun 1300-an? Jadi, siapa pribumi saat itu di sana? Apakah pribumi itu terputus genetikanya dengan pribumi saat ini?

Jika pada saat itu, mungkin dimulai dari era imperium Mesir, Romawi, Persia, apakah mereka juga tak berbaur dengan kita sehingga sangat mungkin genetika kita berasal dari mereka? Atau, pribumi kita saat itu merantau jauh-jauh sehingga konon nenek moyang orang Madagaskar di Afrika bagian Timur justru berasal dari Indonesia? Entahlah. Tapi, cukup menarik kan?

 

Penulis  : Pebriadi Situmorang
Editor     : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU