Samosir, NINNA.ID – Kesuksesan sebuah event olahraga kelas dunia tidak hanya ditentukan oleh keindahan lintasan atau profesionalitas penyelenggara.
Di balik setiap pelari yang berhasil mencapai garis finis, terdapat ribuan tangan yang bekerja, mulai dari pemerintah daerah, masyarakat desa, relawan, tim medis, pelaku UMKM, hingga anak-anak yang berdiri di pinggir jalur untuk memberikan semangat.
Inilah yang terlihat dalam penyelenggaraan Trail of The Kings (TOTK) – Lake Toba by UTMB 2026 di Kabupaten Samosir.
Event lari lintas alam internasional ini tidak hanya memperlihatkan kemegahan lanskap Danau Toba, tetapi juga menunjukkan bagaimana sebuah masyarakat mampu menjadi tuan rumah yang hangat bagi para tamu dari berbagai negara.
Bahkan bagi Paul Huddle, Senior Director of Global Trail Running Operations di IRONMAN Group, kesan paling mendalam selama berada di Danau Toba bukan hanya berasal dari pemandangan alamnya.
“Bagi saya, ini sederhana. Yang paling berkesan adalah orang-orangnya. Semua perlombaan kami berada di tempat yang indah, tetapi yang selalu membuat perbedaan adalah masyarakatnya.”
Pernyataan tersebut menjadi pengakuan penting bahwa kekuatan terbesar Samosir bukan hanya alam Kaldera Toba, melainkan masyarakat Batak yang tinggal dan menjaga kawasan tersebut.
Masyarakat Samosir Mengubah Perlombaan Menjadi Pengalaman yang Tak Terlupakan
Di banyak negara, sebuah lomba trail running mungkin menawarkan jalur yang indah. Namun tidak semua perlombaan mampu memberikan kehangatan hubungan antara masyarakat dan para pelari.
Di Samosir, para peserta tidak hanya berlari melewati perbukitan dan desa-desa. Mereka bertemu dengan anak-anak yang melambaikan tangan, warga yang berdiri di depan rumah memberikan dukungan, serta pertunjukan budaya Batak yang menyambut para pelari di beberapa titik aid station.
Paul Huddle menyaksikan sendiri bagaimana para pelari yang datang dalam kondisi lelah kembali mendapatkan energi setelah disambut dengan tarian, senyuman, dan dukungan masyarakat.
“Ketika seorang pelari sedang berada dalam kondisi sulit, mereka membutuhkan dukungan. Saya melihat banyak pelari datang ke aid station, mata mereka langsung berbinar, mereka tersenyum, dan semangat mereka kembali.”
Pengalaman serupa dirasakan seorang pelari internasional asal Prancis yang datang bersama istri dan anak perempuannya. Menurutnya, antusiasme masyarakat Samosir menjadi sesuatu yang sangat istimewa.
“Banyak anak-anak yang melambaikan tangan dan ingin berjabat tangan. Semua anak-anak itu ingin menyapa para pelari. Itu benar-benar luar biasa.”
Bahkan ada petani lokal yang menghentikan pekerjaannya sejenak hanya untuk melambaikan tangan kepada para pelari yang melintas.
Baginya, pengalaman tersebut menjadi alasan untuk kembali dan menceritakan keindahan Danau Toba kepada teman-temannya di berbagai negara.
Persiapan yang Dimulai Jauh Sebelum Garis Start
Kesuksesan Trail of The Kings tidak muncul begitu saja pada hari perlombaan. Jauh sebelum pelari berdatangan, masyarakat dan pemerintah di Samosir telah melakukan berbagai persiapan.
Pemerintah di tiga kecamatan yakni Kecamatan Sianjur Mulamula, Kecamatan Pangururan, dan Kecamatan Ronggur Ni Huta bersama para kepala desa, perangkat desa, dan berbagai pihak melakukan koordinasi untuk memastikan seluruh wilayah siap menerima tamu internasional.
Pembahasan tidak hanya menyangkut teknis perlombaan, tetapi juga bagaimana masyarakat menyambut para pelari, menjaga keamanan peserta, hingga memastikan kawasan tetap aman dari kebakaran hutan dan lahan selama event berlangsung.
Bupati Samosir, Vandiko Timotius Gultom, menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Samosir memiliki komitmen penuh dalam mendukung Trail of The Kings.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah daerah tidak melihat TOTK hanya sebagai kegiatan olahraga selama tiga hari, melainkan sebagai kesempatan untuk memperkenalkan Samosir ke dunia dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kerja Keras Panitia dan Relawan yang Tidak Terlihat
Keberhasilan sebuah event internasional juga dibangun dari kerja keras orang-orang di balik layar.
Selama hari pelaksanaan pada 12–14 Juni 2026, para koordinator aid station, tim medis, marshal, petugas timing system, race management, hingga ratusan relawan bekerja hampir tanpa mengenal waktu.

Ada panitia yang harus begadang selama beberapa malam. Sebagian harus meninggalkan pekerjaan dan aktivitas pribadinya demi memastikan seluruh kebutuhan peserta terpenuhi.
Mata mereka tampak merah karena kelelahan, tetapi semangat mereka tidak berkurang. Mereka tetap berdiri di jalur, memastikan setiap pelari aman dan mendapatkan pelayanan terbaik.
Race Director TOTK, Dadang Rizal, mengingatkan bahwa masyarakat perlu melihat event ini sebagai proses pembelajaran untuk masa depan.
“Jangan melihat TOTK hanya sebagai event tiga hari. Jadikan ini latihan untuk menyambut lebih banyak wisatawan dan event internasional di masa depan.”
Semangat itu yang kemudian menular dari satu orang ke orang lain. Ketika panitia bekerja tanpa mengenal lelah, masyarakat ikut bergerak.
Ketika masyarakat menunjukkan antusiasme, para pelari merasa dihargai. Ketika para pelari membawa pulang pengalaman yang menyenangkan, nama Samosir pun ikut diperkenalkan ke dunia.
Dukungan Pemerintah Menjadi Alasan Samosir Dipercaya
Kepala Dinas Pariwisata Sumatera Utara, Yudha Setiawan, menyatakan bahwa banyak daerah sebenarnya ingin menjadi tuan rumah event internasional seperti Trail of The Kings.
Namun, menurutnya, pertanyaan utama adalah apakah daerah tersebut siap, baik dari sisi pemerintah maupun keterlibatan masyarakat.

“Apakah pemerintah daerah mendukung? Apakah mereka bisa mengajak masyarakat ikut serta? Apakah masyarakatnya siap membuka diri menerima wisatawan?”
Menurut Kadis Yudha Setiawan, Samosir telah menunjukkan kesiapan tersebut. Ia bahkan memberikan nilai sekitar 99 dari 100 terhadap dukungan Pemerintah Kabupaten Samosir dalam penyelenggaraan TOTK.
Penilaian tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah event internasional tidak hanya bergantung pada penyelenggara global seperti IRONMAN Group, tetapi juga pada kemampuan daerah menjadi tuan rumah yang siap dan kompak.
Dari Trail of The Kings Menuju Masa Depan Pariwisata Samosir
Keberhasilan Trail of The Kings memberikan pelajaran penting bagi Samosir. Event olahraga bukan sekadar menghadirkan ribuan peserta selama beberapa hari, tetapi menjadi latihan besar untuk meningkatkan kualitas pelayanan pariwisata.
Hotel, homestay, restoran, pelaku UMKM, penyedia transportasi, hingga masyarakat desa belajar bagaimana menerima tamu dengan standar internasional.
Samosir juga memperoleh promosi yang sulit dibeli dengan iklan. Setiap pelari yang pulang membawa cerita tentang keindahan Danau Toba, keramahan masyarakat Batak, serta pengalaman unik yang mereka rasakan selama mengikuti Trail of The Kings.
Pada akhirnya, keberhasilan Samosir dalam mendukung Trail of The Kings membuktikan satu hal penting bahwa event internasional tidak dibangun hanya dengan lintasan yang indah, tetapi oleh masyarakat yang memiliki rasa bangga menjadi tuan rumah.
Selama semangat itu terus dijaga, Trail of The Kings bukan hanya akan menjadi perlombaan tahunan, tetapi juga pintu bagi dunia untuk mengenal wajah terbaik Samosir dan Danau Toba.
Penulis/Editor: Damayanti Sinaga



