Desa Wisata dan Geopark Lahirkan UMKM di Danau Toba

BERSPONSOR

Sejak program Desa Wisata dan Geopark muncul, semakin banyak pengusaha di sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM) ‘lahir’. Para pelaku UMKM ini melirik potensi desa wisata yang dapat dijadikan sebagai sumber mata pencaharian.

Pemerintah Indonesia di bawah kepemipinan Presiden Jokowi pada 2016 telah menetapkan ide baru untuk membangun desa melalui Desa Wisata. Program tersebut bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, menghapus kemiskinan, mengatasi pengangguran, melestarikan lingkungan dan sumber daya serta memajukan kebudayaan.

Selain itu, Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) meluncurkan program Geopark. Pada 2020, Danau Toba memperoleh gelar Geopark dari UNESCO. Jika diterapkan dengan baik, platform ini berdampak terhadap perekonomian nasional dan daerah. Khususnya mencapai target Sustainable Development Goal s(SDG).

Karena kedua hal ini yakni program Desa Wisata dan Geopark, banyak desa sudah dan sedang berbenah. Secara keseluruhan, ada sekitar 100 desa wisata muncul di 8 kabupaten di Kawasan Geopark Kaldera Toba. Selain menciptakan industri jasa pariwisata, program tersebut juga melahirkan pengusaha baru di sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM).

BERSPONSOR

Jika dimaksimalkan, besar peluang Indonesia, khususnya di Kawasan Danau Toba untuk mencetak pengusaha-pengusaha UMKM di desa-desa wisata. Apalagi pemerintah telah menetapkan pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai salah satu sektor prioritas pembangunan.

Tidak hanya melahirkan pengusaha-pengusaha lokal yang berdaya tahan, kedua program tersebut apabila dijalankan dengan baik, dapat membantu Indonesia dalam menyelamatkan warisan alam berupa hutan, meningkatkan peran masyarakat dalam inovasi keuangan hijau seperti pemanfaatan alam melalui ekowisata dan agroforesti.

Tujuan artikel ini memaparkan peluang desa wisata dan geopark Kaldera Toba menciptakan UMKM berdaya tahan, menyelamatkan sumber daya bumi, dan mengembangkan pertanian. Peluang ini dapat direplikasikan di tiap desa wisata maupun di tiap Geopark Indonesia.

Empat tahun terakhir ini penulis tinggal di kampung, tepatnya di Girsang 1 Kecamatan Girsang Sipanganbolon, Kabupaten Simalungun, Geopark Kaldera Toba. Selama empat tahun ini pula penulis mengamati banyak hal di desa. Dua hal menarik perhatian penulis yaitu program desa wisata dan geopark.

BERSPONSOR

Fokus perhatian dan kegiatan penulis selama empat tahun terakhir ini juga tercurah ke desa wisata dan geopark. Itu pula yang mendasari penulis yakin desa wisata berpeluang lahirkan pelaku UMKM berdaya tahan. Karena penulis ikut berkecimpung sebagai pendukung dan pendamping desa wisata, penulis melihat bagaimana desa-desa wisata melahirkan ratusan pelaku UMKM baru.

Penulis juga yakin pelaku UMKM di desa wisata berdaya tahan di tengah gejolak ekonomi. Hal utama yang mendasari keyakinan penulis, karena penulis sendiri melihat bagaimana desa wisata dan para pelaku usaha kreatif tetap berkreasi sekalipun pandemi Corona melanda selama lebih dari dua tahun terakhir ini.

Melalui tulisan ini, penulis pun ingin ungkapkan betapa desa-desa wisata, khususnya yang ada di Geopark Kaldera Toba memiliki kesanggupan untuk melakukan banyak hal. Kesanggupan tersebut di antaranya: menangani krisis pangan, mengurangi emisi karbon, meningkatkan daya tahan ekonomi masyarakat serta mencapai target SDGs lainnya.

Sebelum memamparkan banyak hal yang menjadi dasar keyakinan penulis akan desa wisata, penulis ingin terlebih dahulu menjelaskan apa itu desa wisata dan geopark.
Cakupan pengamatan penulis hanya berkisar di Kawasan Danau Toba. Kawasan Danau Toba memaksudkan seluruh wilayah yang dilintasi oleh Danau Toba. Dalam hal ini terdapat 8 kabupaten yang berada di kawasan ini.

- Advertisement -

Secara khusus, penulis intens mengamati perkembangan tiga kabupaten yakni Kabupaten Simalungun, Kabupaten Samosir dan Kabuptaen Toba. Maka itu, sejumlah studi kasus yang diangkat penulis lebih banyak diangkat dari kisah-kisah pegiat wisata dan UMKM di tiga kabupaten ini.

Potensi Desa Wisata Lahirkan Pengusaha UMKM di Indonesia
Perekonomian setiap desa atau wilayah pastilah melibatkan setidaknya empat faktor utama: (1) menentukan jenis barang dan jasa yang harus diproduksi, (2) memutuskan cara memproduksi barang dan jasa tersebut, (3) menentukan penyaluran hasil-hasil produksi, dan selanjutnya (4) mengatur segala sesuatunya agar perekonomian bertumbuh dengan kecepatan sepatutnya serta menyediakan lapangan pekerjaan bagi orang-orang.

Sistem ekonomi yang dikembangkan telah membuat kehidupan lebih nyaman dengan menyediakan barang dan jasa bagi kita yang tidak dapat kita hasilkan untuk diri kita sendiri. Sistem-sistem ini sering kali benar-benar telah meningkatkan standar kehidupan.

Desa wisata biasanya memiliki banyak bahan baku yang dapat diolah menjadi produk turunan kreatif. Misalnya, desa wisata yang buminya menghasilkan rempah dapat memproduksi produk hilirisasi berupa produk olahan rempah-rempah yang siap seduh atau siap saji.

Produk-produk yang dihasilkan khususnya dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga di desa tersebut. Meski demikian, terbuka peluang untuk memasarkannya keluar. Dengan demikian, desa wisata tersebut memperoleh penghasilan melalui hasil bumi, selain dari jasa wisata.

Berikut sejumlah desa di Geopark Kaldera Toba yang telah menjadi desa wisata dan menghasilkan produk ekonomi kreatif:

Desa Wisata Hutaraja yang menghasilkan produk kerajinan ulos Batak. Desa ini terkenal sebagai pusat pengrajin ulos. Para wisatawan yang berkunjung ke desa ini tidak hanya ingin melihat suasana desa, berfoto di rumah adat Batak. Tetapi kerap kali membeli ulos ke pengrajin ulos.

desa wisata
Perajin Ulos di Desa Wisata Hutaraja (Foto: Damayanti)

Berkat dukungan pemerintah melalui bantuan-bantuan infrastruktur, desa ini memiliki puluhan homestay, galeri ulos, kafe tongkrongan untuk menunjang fasilitas buat wisatawan. Akan tetapi, sayangnya, karena ada masalah internal di desa, fasilitas-fasilitas penunjang tersebut belum dapat dimaksimalkan guna memaksimalkan pelayanan kepada wisatawan.

Desa Wisata Ekowisata HGP (Harangan Girsang Paradise) Simalungun. Sebagian besar masyarakatnya bertumpu dari sektor pertanian. Mulai dari pertanian tanaman palawija hingga tanaman keras. Ada begitu banyak komoditas unggulan di kawasan ini. Ada kopi, kakao, kemiri, padi, jagung, pisang, ubi kayu, bawang merah, jahe, andaliman, pohon aren yang menghasilkan tuak dan halto atau kolang-kaling, dan beberapa komoditas lainnya.

Warga Girsang sejak dulu telah menjual langsung hasil tanaman mereka di Pusat Pasar Tiga Raja Simalungun atau menjajakannya ke warung atau wisatawan di sejumlah lokasi wisata di Parapat. Terdapat produk-produk hilirisasi dikembangkan desa ini.

Di antaranya kacang rebus, kacang tojen, kacang sihobuk, tuak, madu, dan lainnya. Melalui program ekowisata dan agroforestri, desa ini pun berupaya melindungi dan melestarikan hutan. Hal ini tentunya sejalan dengan program Bank Indonesia yakni inovasi pengembangan keuangan hijau.

Desa Wisata Girsang
Anak-anak Sanggar Tari Harangan Nauli di Girsang Sipangan Bolon Simalungun.(foto:damayanti)

Sejak desa ini berbenah dan Ekowisata HGP dibuka, para remaja meningkatkan keterampilan menari mereka. Masyarakat menata, membersihkan dan menata desa. Para pegiat wisata pun mulai memproduksi produk-produk ekonomi kreatif yang dapat dijual ke wisatawan.

Desa Tiga Rihit, Simalungun. Setelah Tiga Rihit diresmikan sebagai desa wisata, para pegiat wisat a dan masyarakat setempat melirik usaha kuliner atau oleh-oleh yang dapat ditawarkan kepada wisatawan. Dua di antaranya Dolung-dolung Parapat dan Kacang Saok.

Dolung Dolung
Ambilkan saja sesuai selera. Dolung-dolung (Foto/Ferindra)

Tidak hanya itu, masyarakat juga telah menawarkan rumah mereka sebagai homestay.
Homestay desa ini pun sangat laku, khususnya selama liburan karena harganya terjangkau. Para wisatawan punya banyak pilihan untuk menikmati libur mereka di Parapat. Mereka bisa memilih menginap di hotel atau di homestay yang dikelola oleh kelompok masyarat di Desa Wisata Tiga Rihit.

Desa Lumban Gaol, Balige, Toba. Desa wisata yang telah berdiri sejak 2020 ini telah memasarkan homestaynya memasarkan homestaynya melalui digital marketing tiket.com, booking.com. Pengelolanya pun berencana untuk memiliki website sendiri. Desa Lumban Gaol menyediakan atraksi untuk menghibur para pengunjung.

Sebagaimana desa wisata yang ada di Geopark Kaldera Toba, Desa Wisata Lumban Gaol menyajikan pemandangan alam untuk membuat suasana hati tamu lebih baik. Desa ini pun tidak jauh dari Danau Toba yang memungkinkan para pengunjung berenang di danau, melihat sunset dan tentu yang tidak kalah menarik, mencicipi kuliner asli Kabupaten Toba.

Desa Sigapiton, Sibisa Toba. Desa ini terletak berdekatan dengan destinasi yang dikelola oleh Badan Pengelola Otorita Danau Toba (BPODT) The Kaldera Nomadic Escape Sibisa. Desa ini memiliki sejumlah pengrajin yang memproduksi tikar pandan. Selain itu, masyarakat juga mencari nafkah dari sektor pertanian dan perikanan yang mereka jual kepada wisatawan.

Ada sejumlah kelompok masyarakat yang berkecimpung di bidang jasa transportasi kapal khusus membawa para penumpang untuk berkunjung ke desa ini. Sejak desa ini diresmikan sebagai desa wisata, masyarakat sangat bersemangat untuk menunjukkan kreativitas dan berwirausaha. Bantuan kepada desa ini pun bergulir untuk mendukung masyarakat mengembangkan desa ini.

Desa Tipang Humbang Hasundutan. Desa ini memiliki sarana dan prasarana yang lengkap untuk menerima tamu. Selain homestay, desa ini juga memiliki produk-produk kreatif yang dijual ke wisatawan. Selain itu, desa ini juga aktif untuk promosi dan melakukan pengembangan. Salah satu pengembangan yang dilakukan yakni menciptakan produk-produk UMKM yang unggul.

Bandrek Andaliman
Bandrek andaliman “BANDAL” produksi UMKM dari Desa Hutapaung Kecamatan Pollung Kabupaten Humbang Hasundutan.(Foto:ist)

Desa Huta Tinggi, Ronggur Ni Huta, Samosir. Desa Wisata ini merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir dan ditetapkan menjadi salah satu Desa Wisata melalui Keputusan Bupati Samosir Nomor 372 Tahun 2019 Tentang Penetapan Desa Wisata di Kabupaten Samosir.

Produk unggulan desa ini adalah paket wisata berbasis kearifan lokal yang telah dijual dan dipasarkan kepada wisatawan domestik dan mancanegara. Sejak desa ini menjadi desa wisata, masyarakat semakin terpacu untuk berwirausaha. Namun, ada sejumlah kendala bagi desa ini untuk maju. Dua diantaranya masalah air dan aksesibilitas. Lokasi desa ini cukup jauh dari Pelabuhan kapal.

Desa Uluan, Toba. Sekalipun masih baru, desa ini telah berhasil menciptakan amenitas dan atraksi kepada wisatawan. Tersedia pantai bagi wisatawan serta produk kuliner dan UMKM yang meramaikan suasana pantai. Adanya desa wisata ini mencetak pengusaha-pengusaha baru di sektor UMKM.

Di desa-desa wisata lain pun terdapat banyak pengusaha kecil ‘lahir’ sejak adanya desa wisata. Sejumlah revitalisasi pembangunan di beberapa tempat di Kawasan Danau Toba memacu semangat berwirausaha masyarakat sekalipun susah payah berjuang menghadapi bisnis pariwisata yang melesu selama pandemi Corona.

Adanya program desa wisata dan status Geopark yang disematkan kepada Kaldera Toba semakin memacu desa-desa berbenah. Tidak hanya desa wisata bermunculan. Destinasi wisata berkelas pun bermunculan di sejumlah tempat setelah naiknya status Danau Toba menjadi Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP).

Selama ini Bank Indonesia juga telah berupaya mendorong kreativitas dan ekonomi masyarakat dengan menyalurkan berbagai bantuan kepada para pelaku UMKM. Bantuan teknis tersebut sangat berdampak terhadap kreativitas, literasi digital dan semangat berwirausaha masyarakat, baik secara kelompok maupun individu.

Pemberdayaan Masyarakat Desa Khususnya Para Perempuan

Melalui desa wisata dan geopark, pemberdayaan masyarakat desa khususnya perempuan diharapkan akan meningkat. UMKM selama ini memungkinkan keluarga, khususnya para ibu rumah tangga dapat bertahan selama masa-masa sulit khususnya selama pandemi Corona melanda bumi. Selain itu, UMKM diakui sebagai tulang punggung yang menyumbang produk domestik bruto (PDB) khususnya selama pemulihan ekonomi Indonesia.

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM pada Maret 2021, jumlah UMKM mencapai 64,2 juta dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 61,07 persen atau senilai Rp8.573,89 triliun. UMKM juga berkontribusi dalam menyerap 97 persen dari total tenaga kerja Indonesia dan mampu menghimpun hingga 60,42 persen dari total investasi di Indonesia.

TERKAIT  Literasi Keuangan Indonesia 2022 Meningkat

Peningkatan jumlah pengusaha UMKM merupakan salah satu strategi pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja baru dan menekan angka kemiskinan. Para wanita memiliki peran penting dalam komposisi pelaku UMKM di Indonesia. Data Kemenkop UKM menunjukkan sebagian besar pelaku UMKM adalah kaum hawa. Di tingkat usaha mikro, 52 persen dari 63,9 juta pelaku usaha mikro di Indonesia adalah perempuan.

Hal yang sama didapati di 8 kabupaten Danau Toba. Pelaku UMKM didomininasi para wanita. Para wanita di pedesaan melakukan banyak cara guna menghasilkan pendapatan dengan menjajakan produk maupun jasa. Misalnya, di banyak tempat terdapat warung makanan dan minuman di pinggiran Danau Toba atau yang biasa disebut Penapatan dijalankan oleh kaum wanita.

Deretan industri rumahan di Kawasan Danau Toba yang menghasilkan kerajinan tangan, makanan, minuman, fashion dan lainnya juga diusahai oleh wanita. Data Bank Indonesia menunjukkan pengurus, khususnya anggota UMKM binaannya terdiri dari kaum perempuan. Demikian pula anggota Asosiasi UMKM Kaldera Toba didominansi oleh para wanita.

Pemberdayaan Masyarakat Desa yakni Remaja dan Anak Muda

Melalui desa wisata dan geopark, para remaja dan anak muda diberdayakan untuk menghibur tamu melalui seni tari dan musik. Sejak adanya program desa wisata dan geopark, para remaja di tiap desa membentuk sanggar tari.

Para remaja dan kaum muda ini juga berkontribusi dalam mengembangkan produk-produk desa serta memasarkannya secara digital. Remaja dan anak muda di desa menjadi lebih yakin mereka punya karier bagus dan memiliki kesempatan besar untuk meningkatkan keterampilan mereka sekalipun mereka tetap berada di desa.

Oleh karena itu, dibutuhkan lebih banyak bantuan teknis agar mereka lebih memilih untuk melanjutkan sekolah dan berkarier di desa. Sering kali, mempelajari keahlian tertentu atau mendapatkan semacam pelatihan praktis untuk menghasilkan produk tertentu memungkinkan anak muda tetap bertahan tinggal di desa.

Kendala-Kendala Dihadapi Pegiat Desa Wisata dan Geopark

Misalnya di Desa Wisata Huta Raja, status desa dari desa biasa menjadi desa wisata membuat warga yang dinamai Pak Pollang harus beralih profesi dari penggembala kerbau menjadi penenun ulos. Namun kendala utama bukanlah beralih profesi sebab kebanyakan penduduk di desa sudah biasa melakoni sejumlah profesi sekaligus.

Kendala pertama yakni modal. Untuk itu Bank Indonesia perlu mendorong perbankan menyalurkan pinjaman modal kepada para pelaku usaha kecil ini. Meski demikian, sebagaimana yang telah dijalankan oleh BRI, ada aturan yang perlu diikuti para pelaku UMKM ini untuk mendapatkan pinjaman dengan bunga rendah.

Pelaku UMKM yang bernama Pak Pollang misalnya, mengaku telah meminjam Rp50juta kepada BRI. Bunga rendah dan aturan yang tidak ribet membuatnya berani untuk mengambil pinjaman yang mendukung pengembangan usaha. Usaha ini telah menghidupi lebih dari 3 keluarga besarnya di kampung yang berjumlah kira-kira 10 orang.

Kendala modal ini juga yang dihadapi oleh masyarakat di Girsang untuk pengembangan Ekowisata HGP. Para anggota Ekowisata HGP belum menjajaki, merencanakan atau bahkan mengambil pinjaman dari perbankan untuk pengembangan desa ini. Hal ini dikarenakan belum pulihnya sektor pariwisata secara maksimal.

Kelompok ini masih perlu menunggu hingga saatnya tepat untuk menambah modal. Untuk saat ini, kelompok ini masih mengefisiensikan dana dan peralatan yang ada, sembari berfokus pada mata pencaharian utama yakni bertani.

Kendala kedua yakni pengembangan sumber daya manusia. Belum memadainya sumber daya manusia yang dapat mengembangkan desa wisata ini juga menjadi kendala. Sebab, fokus perhatian masyarakat di desa-desa biasanya tertuju kepada pertanian. Belum maksimal kepada upgrade skill untuk industri jasa wisata.

Ada keprihatinan mendasar banyak pemuda di desa memilih untuk meninggalkan desa karena merasa tidak ada pekerjaan memuaskan buat mereka. Apalagi bagi kalangan milenial, berkarier di desa dianggap membosankan dan tidak memberi banyak kesempatan untuk menjadi kreatif. Ini menjadi tantangan buat pengembangan sumber daya manusia di desa. Sebab, berkurangnya tenaga muda di desa sangat berdampak terhadap desa. Setidaknya ada dua hal yang mungkin terjadi.

Pertama, warisan budaya, sejarah, dan kehidupan tradisional mereka kepada generasi berikutnya akan berkurang. Padahal ini salah satu yang menjadi target SDGS di Kawasan Geopark-yakni masyarakat lokal harus melestarikan warisan budaya, sejarah dan kehidupan tradisional mereka.

Kedua, gaya hidup anak muda yang berubah turut berdampak terhadap lingkungan setempat. Contohnya, gaya hidup modern cenderung membuat anak muda lebih menyukai hal-hal berhubungan dengan teknologi dibandingkan alam. Akibatnya, diprediksi akan semakin banyak generasi muda di desa tidak mewarisi pengetahuan bercocok tanam. Misalnya, mengairi pematang sawah, menanam padi, memanen padi dan lainnya.

Kendala yakni pengembangan teknologi dan informasi. Internet merupakan salah satu inovasi terbesar sepanjang masa dan berpotensi besar untuk menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera dan setara. Dengan internet, usaha kecil memiliki kesempatan mengakses pasar di seluruh dunia.

Meski demikian, tidak semua orang memiliki akses terhadap internet. Pada tahun 2019, 94 juta orang dewasa di Indonesia tidak dapat mengakses internet di perangkat seluler dan bahkan lebih sedikit lagi yang memiliki akses ke jaringan internet kabel. Hampir 80 persen dari mereka yang tidak terkoneksi internet, berada di daerah pedesaan di Pulau Sumatra.
Kesenjangan ini akan menghambat pertumbuhan ekonomi dan memperlebar ketimpangan sosial, di mana kesempatan diambil oleh mereka yang memiliki akses internet, bukan oleh mereka yang paling membutuhkan.

Situasi ini diperparah oleh kondisi di luar kendali seseorang, seperti di mana mereka tinggal atau keadaan ekonomi keluarga mereka. Pada akhirnya, hal ini akan menimbulkan biaya bagi masyarakat terkait hilangnya modal manusia dan potensi ekonomi.

Oleh karena itu, mendobrak hambatan konektivitas internet seluler di Indonesia akan sangat penting untuk memberikan manfaat ekonomi digital bagi semua. Belum memadainya sumber daya manusia yang dapat mengembangkan desa wisata ini juga menjadi kendala.

Kendala keempat yakni akses pasar dan biaya logistik yang mahal. Akses pasar yang sulit dan biaya logistik yang mahal ikut berdampak terhadap perputaran barang di Indonesia, khususnya di pedesaan. Seandainya akses pasar terbuka lebar, tetap saja persoalan logistik menghambat distribusi produk.

Apalagi mengingat Indonesia begitu luas, terdapat tantangan tersendiri bagi perusahaan jasa kurir dalam pengiriman barang. Begitu juga dengan biaya yang dikenakan oleh perusahaan logistik. Semoga ada jalan keluar yang dapat ditempuh oleh pemerintah guna menekan biaya logistik pengiriman barang.

Kesimpulan dan Rekomendasi Kebijakan

Kesimpulan
Pertama, program Desa Wisata dan Geopark jika dijalankan secara maksimal dapat berdampak besar terhadap kesejahteraan masyarakat. Program ini memampukan Indonesia untuk menyelamatkan sumber daya bumi yang tiap tahun menipis.

Cuaca ekstrem, banjir, dan bencana alam lainnya mendesak umat manusia di bumi untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Melalui program desa wisata dan geopark, yang misi utamanya memberdayakan masyarakat lokal untuk melestarikan sekaligus menjajakan pariwisata alam, dapat membantu melindungi alam dan lingkungan. Dua cara utama untuk menyelamatkan sumber daya bumi yakni lewat Ekowisata dan agroforestri.

Kedua, program Desa Wisata dan Geopark juga dapat mengembangkan pertanian di Indonesia. Melalui program ini, tiap desa wisata dapat mengembangkan budidaya pertanian rempah-rempah, pembibitan, tanaman pangan, sayur-mayur, buah-buahan, tanaman obat, tanaman keras, dan lainnya. Dengan demikian, tiap desa memiliki sumber daya melimpah untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.

Ketiga, program Desa Wisata dan Geopark juga melahirkan pengusaha UMKM di tiap desa wisata. Sudah banyak bukti menunjukkan di tiap desa lahir pengusaha-pengusaha baru yang mencari peruntungan di balik industri jasa wisata. Mereka memanfaatkan bahan baku di desa diolah menjadi produk yang dijajakan di pasar maupun ke konsumen atau wisatawan. Kebanyakan pengusaha di desa wisata terdiri dari para wanita. Hal ini sangat menunjang perekonomian masyarakat desa.

Meski demikian, ada tantangan yang harus dihadapi oleh para pegiat desa wisata dan geopark dalam mencapai tiga target utama tersebut. Empat kendala utama yakni modal, sumber daya manusia, teknologi informasi dan internet, akses pasar dan biaya logistik yang mahal.

Rekomendasi Kebijakan
Untuk itu, ada beberapa rekomendasi kebijakan yang diusulkan di antaranya:
Terkait permodalan, masyarakat di pedesaan biasanya mengalami kendala dalam hal permodalan untuk mengembangkan desa wisata maupun UMKM.

Maka itu, Indonesia perlu memperluas pinjaman dan penggunaan layanan keuangan melalui produk dan layanan baru memberikan akses ke keuangan dan memfasilitasi transisi menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Selama ini Bank Indonesia juga telah berupaya mendorong kreativitas dan ekonomi masyarakat dengan menyalurkan berbagai bantuan kepada para pelaku UMKM. Bantuan teknis tersebut sangat berdampak terhadap kreativitas, literasi keuangan, literasi digital dan semangat berwirausaha masyarakat, baik secara kelompok maupun individu. Bantuan teknis seperti ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Terkait sumber daya manusia, Guna meningkatkan sumber daya manusia, dibutuhkan pelatihan khususnya bagi para pegiat desa wisata, pengusaha UMKM, dan pemuda. Pelatihan dan pendampingan ini diperlukan untuk mengembangkan sumber daya manusia di pedesaan.

Terkait teknologi informasi dan internet, Indonesia perlu memastikan akses yang terjangkau terhadap perangkat teknologi informasi dan komunikasi (TIK), seperti komputer dan ponsel berkemampuan internet, terutama di daerah terpencil dan pedesaan.

Dengan meningkatkan akses ke pasar digital global dan memperluas akses jalan ke desa-desa terpencil, Indonesia dapat mengurangi kesenjangan harga antara pasar perkotaan dan pedesaan yang timbul akibat biaya logistik atau perjalanan yang mahal.

Selain itu, program pendidikan khusus untuk keluarga berpenghasilan rendah dapat membantu anak-anak mempelajari keterampilan digital untuk menghindari tertularnya “kemiskinan digital” antargenerasi dan kurangnya peluang digital.

Pemerintah Indonesia harus mengejar ketertinggalannya dalam penyediaan infrastruktur. Apalagi membangun infrastruktur Internet untuk daerah terluar, terpencil, dan tertinggal Indonesia adalah salah satu proyek strategis nasional bidang telekomunikasi. Koneksi bisa memangkas kesenjangan informasi sekaligus pemerataan ekonomi.

Caranya membangun banyak base transceiver station (BTS) yang memancarkan sinyal Internet. Selain itu, dibutuhkan kerjasama untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dalam hal digitalisasi ekonomi dan keuangan.

Terkait akses pasar dan biaya logistik yang mahal, pemerintah Indonesia dan perusahaan-perusahaan logistik perlu memikirkan cara untuk menekan ongkos logistik yang mahal. Era digitalisasi telah mempermudah akses informasi pasar bahkan hingga ke luar negeri. Namun, biaya logistik yang mahal membuat produk lokal dalam negeri tidak dapat bersaing dibandingkan produk luar yang lebih murah.

Penulis: Damayanti
Pendamping Desa Wisata untuk Ekowisata HGP Simalungun
Penulis di Portal Media Pariwisata Ninna.id
damayantisinaga0@gmail.com

Tulisan ini diikusertakan dalam Karya Tulis Ilmiah (KTI) Bank Indonesia. Tulisan yang ada masih sebagian dari KTI. Untuk memperoleh tulisan utuhnya, silahkan hubungi penulis.

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU