Karo, NINNA.ID-Suatu sore yang tenang di Desa Dokan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. Angin dingin pegunungan menyapu lembut permukaan tanah yang retak oleh waktu. Dua tamu—warga negara Indonesia yang telah menetap lama di Australia—melangkah pelan di antara rumah-rumah adat yang dulu kokoh berdiri sebagai simbol identitas Karo.
Senyum ramah menyambut mereka. Warga membuka pintu, mempersilakan tamu duduk dan berbagi cerita, bahkan tanpa diminta. Keramahan itu masih menjadi nyala terakhir dari api yang nyaris padam: semangat menjaga dan menghidupi warisan leluhur.
Namun, di balik sambutan hangat itu, ada luka yang menganga. Sebuah rumah adat yang dulunya megah, kini terbengkalai. Atapnya usang, papan kayunya lapuk. Seakan menjadi simbol diam dari sebuah potensi besar yang dibiarkan layu.
“Sayang sekali, tak ada pilar ekonomi berkelanjutan di sini,” ujar salah satu tamu, matanya resah menatap rumah adat itu.
“Desa ini seharusnya bisa seperti desa-desa wisata lain, di mana warga menjual kerajinan tangan, mengelola homestay, dan hidup lebih layak.”

Sebuah Warisan yang Tidak Dikelola
Desa Dokan bukan sekadar permukiman. Ia adalah saksi hidup sejarah budaya Karo. Rumah-rumah adat di desa ini—rumah siwaluh jabu—menjadi bukti ketangguhan komunitas dalam menjaga kebersamaan.
Akan tetapi kini, kekuatan itu tidak dibarengi dengan kemampuan bertahan dalam dinamika zaman.
Ironis, karena Dokan telah masuk ke dalam wilayah Geopark Kaldera Toba, sebuah inisiatif UNESCO yang bertujuan mulia: menyelaraskan konservasi alam dan budaya dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.
Tapi seperti pohon tanpa akar, semangat geopark itu belum benar-benar menyentuh tanah di mana akar-akar kemiskinan masih mencengkeram kuat.
Tidak seperti desa wisata lainnya, di sini tak terlihat ada pengurus aktif yang menyambut tamu, menjual cendera mata, atau memperlihatkan kearifan lokal yang bisa menjadi daya tarik wisata.

Padahal, program geopark sejak awal dirancang bukan hanya untuk konservasi, tetapi juga pendidikan dan pembangunan ekonomi berkelanjutan.
Jaringan Geopark Global bahkan secara tegas merekomendasikan pengembangan ekonomi lokal sebagai salah satu pilar utama. Namun di Dokan, pilar itu seakan tidak terlihat. Tidak hadir.

Harusnya Ada Harapan
Dalam banyak tempat, pariwisata berkelanjutan telah terbukti membawa perubahan. Ia menciptakan lapangan kerja, mendongkrak pertumbuhan PDB, meningkatkan perdagangan, bahkan membuka peluang besar bagi perempuan dan kaum muda di daerah pedesaan.
Dunia telah berubah. Desa-desa kecil di Asia Tenggara, Afrika, hingga Amerika Latin menjadikan pariwisata sebagai jembatan keluar dari kemiskinan.
Mengapa Dokan belum?
Jawabannya bisa jadi sederhana tapi menyakitkan: belum ada yang benar-benar memimpin dan mendampingi masyarakat.
Belum ada pelatihan keterampilan, belum ada pemahaman bersama bahwa kerajinan tangan, kisah-kisah adat, bahkan dapur sederhana di balik rumah kayu itu bisa menjadi nilai ekonomi tinggi jika dikemas dan dikelola dengan baik.

Dari Rumah Lapuk ke Masa Depan yang Hidup
Membiarkan rumah adat itu lapuk adalah membiarkan identitas Karo pudar. Lebih dari sekadar bangunan fisik, rumah itu menyimpan ingatan, sistem nilai, dan filosofi hidup yang dapat memperkaya dunia wisata budaya.
Tapi tanpa intervensi, tanpa kebijakan nyata dari Dinas Pariwisata Karo dan pengelola Geopark Kaldera Toba, maka yang tersisa hanyalah kerangka kayu yang pelan-pelan menyerah pada usia.
Pembangunan ekonomi tidak bisa hanya digantungkan pada niat baik. Ia butuh strategi, pendampingan, pelatihan, dan terutama: partisipasi warga lokal.
Dokan punya semua bahan dasarnya—budaya, keramahan, warisan, dan keindahan alam. Yang mereka butuhkan hanya satu hal: peluang.
Akhir yang Belum Ditulis
Desa Dokan masih bisa bangkit. Pilar pengembangan ekonomi berkelanjutan itu belum hilang. Ia hanya belum ditegakkan. Masih ada waktu untuk menyelamatkan rumah-rumah adat yang hampir roboh.
Masih ada ruang untuk membuat warga tak hanya tersenyum menyambut tamu, tetapi juga mendapatkan penghidupan yang lebih baik dari keramahan itu.
Di balik rumah lapuk itu, masa depan sedang menunggu. Tinggal siapa yang berani mengetuk pintu dan memulainya.
Catatan:
Tulisan ini seruan bagi pemangku kepentingan, agar melihat lebih dekat, lebih dalam, dan lebih peduli terhadap desa-desa seperti Dokan yang memiliki kekayaan budaya, tapi belum diberdayakan. Jangan biarkan warisan Karo menjadi dongeng yang hanya tinggal cerita.
Penulis/Editor: Damayanti Sinaga



