Toba, NINNA.ID– Festival Kopi Danau Toba kembali digelar dengan semangat yang lebih besar dari sekadar pameran minuman. Di balik secangkir kopi yang disajikan, tersimpan visi, misi, dan perjuangan panjang para penggagasnya.
“Festival ini bukan sekadar untuk seremonial, tapi untuk Danau Toba. Visinya bagaimana kopi bisa memberikan kenikmatan kognitif kepada dunia,” ujar Berliana Purba penggagas festival dalam sebuah diskusi hangat bersama NINNA.ID pada Kamis 2 Oktober 2025 di sela-sela acara Festival Danau Toba yang diadakan dengan berlayar menggunakan Kapal MTI.
Ia menggambarkan visi itu layaknya sepatu yang nyaman dipakai. Bukan bentuk atau mereknya yang utama, melainkan rasa nyaman yang membuat orang mencari dan menikmatinya. Begitu pula kopi Danau Toba: sebuah pengalaman rasa, pandangan, dan percakapan.

Dari Visi ke Misi Ekonomi
Meski penuh filosofi, festival ini juga membawa misi yang konkret: menghadirkan nilai ekonomi baru bagi masyarakat. Target jangka pendeknya sederhana: setiap orang menanam kopi. Target jangka panjangnya jauh lebih besar: menjadikan Danau Toba pusat kuliner kopi dunia.
“Kalau bicara skala, siapa lagi yang punya kawasan seluas ini untuk menjadikan kopi sebagai destinasi kuliner? Orang datang ke sini bukan hanya untuk minum kopi, tapi juga untuk memandang kaldera vulkanik terbesar di dunia sambil berdiskusi dengan petaninya,” ujarnya.
Meramu Identitas Kopi Danau Toba
Dalam perjalanannya, muncul gagasan untuk menggabungkan kopi dari berbagai daerah di sekitar Danau Toba—Simalungun, Samosir, Karo, Dairi, Karo, Humbang Hasundutan dan Tapanuli Utara. Tujuannya, agar lahir satu identitas baru: “Kopi Danau Toba”.
“Bukan hanya kopi Lintong atau Mandailing. Kita gabungkan semua daerah yang dilintasi perairan Danau Toba, supaya orang tahu ini kopi Danau Toba,” jelas Berliana.
Perjuangan di Balik Panggung
Namun membangun festival tak semudah meracik kopi. Dari mencari dana, izin lokasi, hingga negosiasi dengan pemerintah dan mitra, semua menjadi bagian dari dinamika panjang. Ada kekecewaan, ada keterlambatan, bahkan penolakan.
“Seringkali saya harus putar otak. Dari satu tempat ke tempat lain, cari solusi. Tapi saya percaya, selalu ada jalan. Saya yakin festival ini berjalan bukan karena uang, tapi karena semangat kolaborasi,” katanya.
Tak jarang, keputusan teknis seperti pemilihan lokasi atau hal teknis lainnya menjadi tantangan besar. Tetapi, dengan dukungan berbagai pihak—mulai dari koperasi, universitas, hingga komunitas pemuda—festival tetap bisa berjalan.
Ajang Kolaborasi dan Harapan
Meski penuh keterbatasan, festival ini selalu berhasil menghadirkan ruang bagi kaum muda, mahasiswa, dan petani kopi untuk berkumpul. Di situlah cita-cita besar lahir: menjadikan kopi Danau Toba bukan sekadar produk, melainkan ikon budaya dan pariwisata.
“Memang tidak mudah. Tapi dengan kerjasama lintas sektor, kopi ini bisa benar-benar jadi kekuatan baru pariwisata Danau Toba,” pungkasnya.
Festival Kopi Danau Toba bukan hanya tentang minuman. Ia adalah mimpi kolektif, sebuah panggung tempat kopi, alam, dan manusia bersatu untuk memberi rasa, cerita, dan kenikmatan yang tak bisa diukur.
Penulis/Editor: Damayanti Sinaga



