Dari ‘Oh Jeez!’ ke ‘Excellent Service!’: Ketika Para Supir di Sumut Belajar Melayani dengan Hati

BERSPONSOR

NINNA.ID-“Oh jeez!”
Itulah ucapan yang tak henti-hentinya keluar dari mulut Boris, seorang wisatawan asal Belanda, saat menyusuri jalanan Sumatera Utara bersama keluarganya. Bukan karena kagum—melainkan karena kaget.

Mereka melihat supir menyalip di tikungan tanpa aba-aba, pengendara motor tanpa helm, lalu lintas kacau, jalanan rusak, bahkan anak-anak sekolah yang bergelantungan di atap bus. Delapan hari mereka berada di Sumut, dan hampir setiap hari disambut kekacauan yang sama.

“Kami suka Danau Toba, suka budaya Batak, makanannya enak. Tapi lalu lintasnya…horor,” kata Boris sambil tertawa getir.

Lantas, apakah Sumatera Utara akan terus dikenang sebagai provinsi yang semrawut, tak ramah, dan membuat tamu merasa cemas? Atau, bisakah kita mengubah wajah Sumut menjadi lebih tertib, hangat, dan profesional?

Supir: Garda Depan Menentukan Citra

Ketika wisatawan pertama kali tiba di Bandara Kualanamu, bukan pejabat daerah atau kepala dinas yang menyambut mereka. Tapi para supir—dari taksi resmi, shuttle hotel, hingga sopir travel wisata. Di balik setir itulah citra pertama Sumatera Utara dibentuk.

“Supir bukan sekadar pengemudi. Mereka adalah duta wisata. Mereka pemandu awal, dan penjaga kenyamanan,” jelas Manager of Airport Operation and Service PT Angkasa Pura Aviasi Ilham Saputra Zai dalam rapat evaluasi transportasi terpadu di Medan, 14 Mei 2025.

RAPAT EVALUASI PEMADU MODA
Suasana Rapat Evaluasi Pemaduan Moda Transportasi di Sumatera Utara yang berlangsung di Medan, Rabu (15/5/2025). Rapat ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan dari sektor transportasi darat, laut, udara, dan perkeretaapian dalam rangka meningkatkan konektivitas dan kualitas layanan antarwilayah. (Foto: Damayanti)

Belajar Melayani Lewat SLA

Perubahan nyata dimulai dari sistem. Dalam forum evaluasi transportasi terpadu yang digelar oleh Dishub Sumut, hadir puluhan perwakilan dari bandara, pelabuhan, KAI, ASDP, hingga perusahaan transportasi seperti DAMRI, Blue Bird, Parisma Jaya Trans, Samosir Pribumi Transport dan lainnya.

Satu hal yang menjadi benang merah adalah penerapan Service Level Agreement (SLA)—sebuah standar pelayanan yang selama ini digunakan oleh institusi profesional seperti Angkasa Pura Aviasi.

TERKAIT  Bupati dan Wakil Bupati Samosir Gelar Open House dan Syukuran Pelantikan: Semangat Baru untuk Samosir

“Standar pelayanan adalah kunci. Kalau supir bisa memberikan kenyamanan, keramahan, dan ketepatan waktu, penumpang akan datang kembali,” tegas perwakilan Bandara Kualanamu tersebut.

Maka, mulailah para supir belajar hal-hal yang dulu dianggap sepele: berbicara sopan, merawat armada, memperhatikan suhu kendaraan, tidak merokok dalam mobil, dan—yang terpenting—mengemudi dengan empati.

- Advertisement -

Menuju Sumut yang Membanggakan

Data menunjukkan, wisatawan mancanegara ke Sumut meningkat 26% dari 2023 ke 2024. Dan angka itu akan terus naik—jika kita memperbaiki cara menyambut mereka.

Hari terakhir Boris liburan di Sumut ditutup di tengah kemacetan Amplas. Tapi kali ini, ia tak marah. Justru ia tertawa, karena sopirnya meminta maaf dengan sopan dan berharap keluarga mereka akan berlibur kembali ke Sumatera Utara.

“I think Sumut is trying to change,” katanya. “Next time I hope I can say: what an amazing experience!”

Dan semua itu bisa dimulai dari satu hal: supir yang melayani dengan hati, bukan hanya menjalankan kendaraan semata.

Perubahan memang tidak terjadi semalam. Tapi Sumatera Utara sedang bergerak. Dari yang ugal-ugalan menjadi teratur. Dari “Oh Jeez!” menjadi “Excellent Service!”

Bukan demi pujian semata, tapi demi masa depan daerah yang ingin dikenal dunia bukan karena lalu lintasnya, tapi karena keramahannya. Bukan karena klaksonnya, tapi karena pelayanannya.

Jadi, yuk, warga Sumut—khususnya para supir—kita ubah cara kita berkendara. Karena perjalanan yang nyaman dimulai dari hati yang melayani.

Penulis/Editor: Damayanti Sinaga

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU