Dari Mandor Proyek ke Petani, Jeston Situmorang Bangun Masa Depan di Kampung Halaman

BERSPONSOR

Pakkat, NINNA.ID – Jeston Situmorang (45), pria asal Pakkat, Sumatera Utara, mengambil keputusan besar di akhir tahun 2022. Setelah lima tahun menjadi mandor proyek di sebuah perusahaan swasta, ia merasa pekerjaannya tidak memberikan dampak nyata.

“Selama lima tahun memborong proyek, tidak ada peningkatan. Banyak waktu dan uang habis untuk perjalanan dinas serta pertemuan. Hasilnya ya begitu-begitu saja,” ujar Jeston, ayah tiga anak ini.

Kegelisahan itu mendorongnya untuk kembali ke kampung halaman bersama sang istri, boru Purba.

Ia memulai kehidupan baru sebagai petani, peternak, dan pengelola bisnis kolam ikan—sebuah keputusan yang membawa perubahan besar dalam hidupnya.

BERSPONSOR

“Saya lahir di sini, di Pakkat. Bertani lebih baik karena saya bisa fokus di satu tempat,” ujarnya. Kini, ia menjalani rutinitas yang lebih tenang dan bermakna.

Dari Ladang Cabai hingga Kebun Durian

Jeston menanam berbagai jenis cabai seperti cabai rawit, cabai merah, dan cabai caplak. Panennya dikirim dua kali seminggu, setiap Rabu dan Minggu sore, ke pelanggan tetapnya.

“Siang atau sore kami serahkan, malamnya dibawa ke Barus atau Dolok Sanggul. Sudah ada langganan tetap,” ungkapnya. Pembayaran hasil panen diterima melalui transfer bank, memanfaatkan layanan BRImo dan BRIlink.

Dengan luas lahan yang memadai, Jeston mampu menghasilkan 60–300 kg cabai per minggu, dengan rata-rata 200 kg. Meski sempat mengalami harga anjlok di bulan Oktober-November (Rp 20.000–Rp 25.000/kg), ia tetap optimis.

Jaston Situmorang
Dengan luas lahan yang memadai, Jeston mampu menghasilkan 60–300 kg cabai per minggu, dengan rata-rata 200 kg. (foto: Damayanti)

Lahan yang digarapnya bukan warisan keluarga, melainkan hasil usahanya sendiri. Sejak kecil, ia sudah biasa bertani dan tertarik pada pertanian ramah lingkungan.

Selain cabai, ia juga menanam jagung serta memiliki kebun durian yang mulai berbuah. Jagung sengaja ditanam di sela-sela cabai sebagai tanaman pelindung bagi cabai-cabai agar tidak terkena matahari langsung yang dapat merusak tanaman cabai.

“Jagung ditanam di sela-sela cabai sebagai ajir, supaya ada tali pengikat yang melindungi cabai dari sinar matahari langsung,” jelas suami dari Boru Purba ini.

- Advertisement -

Dukungan BRI untuk Pengembangan Usaha

Dua tahun lalu, Jeston mengajukan pinjaman Rp 50 juta dari BRI Unit Pakkat. Berkat pengelolaan yang baik, ia berhasil melunasi lebih awal dan kembali mengajukan pinjaman Rp 75 juta untuk memperluas usahanya.

TERKAIT  Pakpak Bharat Peringkat Terendah Penduduk Miskin di Sumatera Utara, Medan Sebaliknya

“Saya lunasi di bulan Maret dan terus tanam cabai. Jadi tidak ada hentinya,” ujarnya. Pinjaman itu digunakan untuk modal usaha, dengan cicilan sekitar Rp 1 juta per bulan selama lima tahun.

Jaston Situmorang

BRI melihat prospek baik dalam usahanya, sehingga tidak ada kendala dalam pengajuan pinjaman.

Andreas Sianipar, petugas BRI yang sering berurusan dengannya, memberikan dukungan penuh.

Beternak Sapi dan Mengelola Lahan Tidur

Selain bertani, Jeston juga beternak sapi dengan sistem penggemukan. Ia membeli sapi kurus dan merawatnya hingga siap jual.

“Saya beli yang kurus, saya gemukkan, lalu dijual setelah beberapa bulan,” ujar Ketua Poktan ini.

Saat ini, ia memiliki 10 ekor sapi yang dirawat di lahannya seluas 10 hektar. Limbah ternak dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk mendukung pertanian.

Setiap minggunya, ia mempekerjakan 10 orang dengan upah Rp 70.000–Rp 80.000 per hari.

Dengan konsep pertanian ramah lingkungan, ia menggunakan Dolomit dan humus dari tanah di Seribu Gua untuk meningkatkan kesuburan lahan. Ia percaya bahwa pertanian organik lebih berkelanjutan.

Peran di Seribu Gua

Jeston juga aktif dalam pengembangan objek wisata Seribu Gua di Pakkat. Selain bertani, ia menjadi pengawas proyek dan menggerakkan warga sekitar untuk memanfaatkan lahan tidur.

“Di Seribu Gua ada Dolomit dan humus yang membuat tanah subur. Kita juga bisa menampung sapi kurus dan menggemukkannya sebelum dijual,” jelasnya.

Menurut Berliana Purba, pengurus Seribu Gua, Jeston dikenal sebagai sosok yang giat belajar.

“Ia sudah membuat pupuk sendiri yang murah dan organik,” ujar Berliana.

Berliana juga menjelaskan bahwa Jeston menjabat sebagai Sekretaris Komite Wisata Alam Seribu Gua, serta membimbing para petani untuk maju.

Kebun cabai, durian, dan kopi yang ia kelola bahkan mulai dikembangkan menjadi agrowisata.

Jeston merupakan lulusan SMA dan pernah menempuh pendidikan di Sekolah Teologi Berkat. Sayangnya ia tidak menyelesaikannya.

Sekalipun demikian, pengalaman dan kegigihannya dalam bertani serta beternak telah membawanya menjadi pengusaha sukses.

Ia berharap kisah hidupnya bisa menginspirasi banyak orang, terutama generasi muda.

“Tantangan paling besar ya cuaca. Tapi bertani di kampung halaman memberi saya ketenangan dan kepuasan,” tutupnya.

Penulis/Editor: Damayanti Sinaga

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU