Dari Ethiopia ke Danau Toba-Biji yang Menjelajahi Dunia

BERSPONSOR

NINNA.ID-Semua berawal dari sebuah cerita lama di dataran tinggi Ethiopia. Wikipedia menyebut di sanalah kopi pertama kali ditemukan. Tanaman liar yang bijinya kelak mengubah sejarah dunia.

Dari sana, kopi menempuh perjalanan panjang, melintasi padang pasir, lautan, hingga benua yang jauh.

Belakangan, pada abad ke-15, orang-orang Arab mulai membudidayakan kopi. Minuman pahit nan hangat ini kemudian dikenal luas di Yaman, Turki, dan Persia.

Di Eropa, awalnya kopi ditolak. Beberapa pemuka agama menyebutnya “ramuan setan”. Namun segalanya berubah ketika Paus Klemens VIII mencoba menyeruputnya.

BERSPONSOR

Ia tersenyum, lalu berkata: “Minuman ini terlalu nikmat untuk dibuang.” Dari situlah kopi diterima, bahkan menjadi gaya hidup baru.

Sejak itu, kopi menyebar cepat. Belanda berhasil membawa bibit kopi ke Ceylon (Sri Lanka) dan Jawa pada awal 1600-an.

Dari Jawa, sebatang pohon kopi dikirim ke Amsterdam, lalu disebarkan ke Suriname, Karibia, hingga Amerika Latin.

Cerita paling legendaris datang dari seorang perwira Prancis, Gabriel de Clieu, yang rela berbagi jatah airnya selama pelayaran panjang agar pohon kopi tetap hidup.

Pohon itu akhirnya berkembang biak di Martinique dan menjadi asal mula ribuan perkebunan kopi di Amerika.

Brasil—yang kini menjadi produsen kopi terbesar dunia—bahkan memulai industrinya hanya dengan segenggam biji kopi yang diselundupkan lewat karangan bunga.

Begitu berharganya kopi pada masa itu, hingga benihnya dijaga ketat, bahkan kadang diperdagangkan layaknya emas.

Hari ini, kopi tumbuh di lebih dari 80 negara, ditanam oleh lebih dari 25 juta keluarga petani, dan setiap hari miliaran cangkir kopi diminum manusia di seluruh dunia.

- Advertisement -
TERKAIT  Ini Link Nonton Film The Little Mermaid Full HD Gratis!

Lalu, bagaimana dengan Danau Toba?

Ekspor Kopi
Kopi Arabika varietas paling banyak dibudidayakan di Kawasan Danau Toba (Foto: Damayanti)

Kisah kopi di Kawasan Danau Toba Sumatra dimulai saat Belanda membawa bibit Arabika dari Jawa ke tanah Batak pada abad ke-17.

Alam Danau Toba Sumatra yang penuh gunung api, tanahnya yang subur, serta udara pegunungan yang sejuk membuat arabika tumbuh sempurna.

Di lereng-lereng sekitar Danau Toba—dari Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Karo, Simalungun, Toba, Dairi, hingga Samosir—kopi ditanam bukan di perkebunan besar, melainkan di ladang-ladang kecil milik keluarga.

Setiap bijinya dipetik dengan tangan, dikeringkan di halaman rumah, lalu diolah dengan cara tradisional yang diwariskan turun-temurun.

Hasilnya adalah kopi dengan karakter khas: pekat, beraroma tanah basah dan rempah, dengan rasa yang “membekas” di lidah.

Cita rasa inilah yang membuat Sumatra Coffee atau lebih layak disebut Kopi dari Lereng Danau Toba dicari-cari di kafe-kafe dunia.

Kini, setiap kali seorang barista di Tokyo, Berlin, atau New York menuangkan secangkir kopi Sumatra, sesungguhnya ada jejak tanah Kawasan Danau Toba di dalamnya.

Sebuah warisan panjang dari biji kecil yang dulu menempuh perjalanan berliku dari Ethiopia, menyeberangi samudra, hingga akhirnya berakar di tepian danau biru raksasa di jantung Sumatra—Danau Toba!

Dan siapa sangka, kisah pengabdian seorang pria yang rela berbagi air untuk pohon kopi di abad ke-18, kini menyambung dengan kisah para petani di Tanah Batak yang setia merawat kopi mereka, seteguk demi seteguk, untuk dunia.

Penulis/Editor: Damayanti Sinaga

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU