Samosir, NINNA.ID– Selama delapan hari tujuh malam berkesempatan menemani satu keluarga dari Belanda eksplor Sumatera Utara.
Delapan hari tersebut, seluruh anggota keluarga ini seakan menjadi juri dalam menilai kondisi tiap daerah yang kami lalui.
Perjalanan dimulai dari Kota Medan, Deli Serdang, Binjai, Langkat (Bukit Lawang), Berastagi-Karo, Sipiso-Piso-Dairi, Simalungun, Samosir, Tebing Tinggi, dan daerah lainnya hingga kembali ke Kota Medan.
Hari pertama mereka adalah mengeksplor berbagai objek wisata di Kota Medan. Di antaranya Bangunan Tjong A Fie, Istana Maimun, Masjid Raya dan lainnya.
Hari kedua perjalanan adalah mengeksplor Bukit Lawang. Di sinilah seluruh anggota keluarga ini kaget melihat kondisi jalan yang rusak parah.
Kondisi yang rusak parah diperburuk dengan lalu lintas truk-truk pengangkut batu, pasir maupun kayu keluar masuk dari Bukit Lawang.
Asap kendaraan dan debu dari tanah menghiasi jalan yang sesekali menghalangi pemandangan mata kami untuk melihat ke depan maupun kiri kanan sekitar.
Mereka bertanya kepadaku, apakah tidak ada pilihan jalan lain menuju Bukit Lawang selain jalan yang sedang kamu lalui. Ku jawab,” Ini satu-satunya jalan. Tidak ada pilihan lain.”
Mereka mengeluh betapa buruk kondisi jalan di Sumatera Utara. Daripada ikutan mengeluh, lebih baik ini ku jadikan ini sebagai candaan, pikirku.
“Iya! Begitulah kondisi di Indonesia. Kualitas bahan aspalnya murahan. Tahun ini diperbaiki, mungkin tidak sampai setahun lagi kamu datang kemari, juga akan perlu diperbaiki lagi.” jawabku dengan nada melucu.
Tiga hari dua malam di Bukit Lawang. Setelahnya kami menuju Berastagi dan saat itu jalan persis sedang diperbaiki.
Lantas mereka memuji,” Sepertinya jalan menuju ke Berastagi lebih baik daripada jalan menuju Bukit Lawang”.
Ku balas,” Berastagi masih cakupan wilayah Kabupaten Karo-merupakan bagian 8 kabupaten Kawasan Danau Toba. Danau Toba ditetapkan Pemerintah Indonesia sebagai Destinasi Super Prioritas. Itu alasannya, jika kita menjalani 8 kabupaten Danau Toba maka kita akan melihat banyak fasilitas dibangun. Terkhusus saat kita melihat Kabupaten Samosir”.
Kendaraan kami pun akhirnya tiba di sekitar Pemandian Sidebu-debu. Rencana perjalanan menunjukkan saat itu kami dijadwalkan mengunjungi pemandian Sidebu-debu.
Aku yang sudah cukup lama tidak singgah kesini ingin menikmati berendam di air panas ini.
Akan tetapi, setelah keluarga ini turun dari HiAce dan melihat banyak manusia di kolam, mereka memilih untuk segera meninggalkan lokasi tersebut.
Suasana hati mereka makin tidak senang melihat banyak sampah berserak di sekitar lokasi pemandian di Sidebu-debu.
Setelahnya, kami menuju Pasar Buah Berastagi dan Gundaling. Sama saja, mereka memintaku untuk segera meninggalkan lokasi tersebut.
Menurut mereka, lokasi itu terlalu bising, bau dan tidak terlalu menarik untuk dieksplor.
Aku sebagai pemandu wisata merasa gagal menyenangkan tamu-tamuku.
Namun tak ingin berkeras dan berdebat, aku memenuhi permintaan tamu untuk segera check-in ke Hotel Mikie Holiday.
Lagi pun ku pertimbangkan, suasana hati maupun tubuh mereka saat itu sudah sangat lelah dalam perjalanan dari Bukit Lawang menuju Berastagi.
Setelah tiba di hotel mereka pun memintaku supaya perjalanan berikutnya dimulai pukul 09.30.
Aku memenuhi permintaan mereka sekalipun seharusnya perjalanan diawali pukul 04.30 untuk mendaki Gunung Sibayak.
Mereka menepati janji berangkat pukul 09.30 menuju Gunung Sibayak.
Di sana, kami dipandu oleh pemandu lokal untuk mendaki.
Setelah mendaki, wajah mereka terlihat lebih bahagia. Hari itu mereka merasa sangat menyatu dengan alam.
Pemandu lokal disana pun mampu mengubah mood mereka menjadi lebih baik selama mendaki.
Mereka terkesan dengan banyak hal yang dibagikan oleh sang pemandu wisata tersebut.
Beberapa di antaranya tentang bagaimana bisa bertahan di hutan atau gunung jika tersesat.
Percakapan tersebut berhasil menambah pengalaman keluarga tersebut.
Akan tetapi, balik lagi, sampah menjadi persoalan bagi Gunung Sibayak. Banyak sampah berserakan.
Setelah mendaki Gunung Sibayak, kami singgah ke Desa Dokan di Kabupaten Karo. Sebuah desa di Tanah Karo yang masih memiliki rumah adat dan berpenghuni delapan keluarga dalam satu rumah.

Kemudian kami menuju Air Terjun Sipiso-piso. Begitu tiba, mereka terpukau melihat kemegahan Danau Toba.
Mereka berkata kepadaku,” Pantas saja kamu selalu cerita tentang Danau Toba selama perjalanan, karena memang luar biasa memukau!”
Hari itu perasaanku sangat senang. Rasanya ingin melompat-lompat.
Sebab, aku merasa berhasil membuat tamu-tamuku puas mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Dari Sipiso-Sipiso kami bergerak menuju Simarjarunjung. Mereka sangat senang bisa menyaksikan aneka ragam tumbuhan, sayuran dan buah-buahan yang tumbuh di sepanjang jalan Kecamatan Purba, Kecamatan Dolok Pardamean dan sekitarnya.

Berikutnya kami masuk menuju Pelabuhan Tigaras. Banyak penumpang melirik dan fokus memerhatikan mereka.
Sebab, bagi warga sekitar, sangat jarang bisa berjumpa dengan orang asing di pelabuhan ini.
Biasanya para wisatawan asing masuk melalui pintu Pelabuhan Tigaraja menuju TukTuk.
Akan tetapi, karena akses menuju Pelabuhan Tigaras sudah lebih baik, kami memilih jalur ini untuk masuk ke Samosir.
Keluarga ini pun lagi-lagi memuji suasana Pelabuhan Tigaras. Mereka tak menyangka bisa melihat fasilitas tersebut di Danau Toba.

Mereka takjub melihat pemandangan sekitar dan segera mengabadikannya dengan kamera.
Tanpa ku jelaskan, mereka tahu bahwa pulau yang ada di depan mereka adalah Pulau Samosir.

Begitu tiba di Pelabuhan Simanindo, mereka ingin singgah ke toilet sebentar.
Saat eskalator berfungsi, mereka bilang,” Wah, pelabuhan ini modern!”
Begitu keluar dari pelabuhan dan melihat akses jalan di Samosir begitu mulus, sang istri langsung cepat-cepat menyimpulkan,” Ku pikir, dari sekian banyak daerah yang kita jalani, orang-orang di sini paling kaya! Rumah mereka sangat bagus sekalipun masih tradisional. Jalannya juga begitu mulus.”
Minim Aktivitas
Sang istri yang bernama Astrid bertanya kenapa saat dia melakukan pencaharian di internet tentang Danau Toba, akivitas yang ditawarkan minim. Padahal ada banyak hal di Danau Toba.
Saat aku menjelaskan bahwa di Danau Toba masih terdapat aneka jenis satwa langka seperi Siamang, Beruk, Kera, Babi Hutan dan aneka jenis satwa liar lainnya, dia kaget.

Dia bilang keterangan seperti itu tidak disebutkan di sejumlah website. Ia pun memintaku untuk menambahkan keterangan terkait satwa tersebut di internet.
Dengan demikian, semakin banyak keterangan dan informasi akurat tentang Danau Toba.
Ia juga sangat ingin mengeksplorasi berbagai jenis tanaman di Danau Toba.
Besoknya ku ajak dia berkunjung ke Kebun Kopi milik Pardosir Farm di Desa Parbaba Kecamatan Pangururan, Samosir. Keluarga ini merasa bahagia.
Seolah tidak lagi persoalkan akses jalan menuju Green House milik Pardosir Farm.
Bagi mereka, aktivitas naik pick up berdiri sambil memandang ke berbagai arah dan sudut Danau Toba sudah sangat memanjakan mata mereka.

Mereka merasa ini baru-baru benar petualangan seru.
Saat mereka bisa melihat kehidupan warga setempat sebagaimana adanya.

Melintasi berbagai kampung yang masih memiliki Rumah Batak asli tanpa renovasi buat mereka merasakan bagaimana kehidupan orang Batak sesungguhnya.
Itu juga yang buat mereka bertanya kepadaku, berapa pendapatan per kapita masyarakat di Sumatera Utara? Apakah pendapatan per kapita warga di Samosir jauh lebih tinggi?
Minim Perlindungan
Selain minim aktivitas yang ditawarkan, menurutnya kekayaan alam di Danau Toba perlu dilindungi.
Saat itu pula aku menjelaskan kepada mereka,”Danau Toba didaftarkan sebagai Global Geopark UNESCO yang tujuannya agar kawasan ini dilindungi untuk diwariskan ke generasi berikutnya. Tapi seperti yang kamu bilang, kawasan ini seharusnya dilindungi. Nyatanya sering dirusak!”
Selain sampah yang kerap bertebaran dimana-mana. Kekayaan alam Danau Toba berupa bukit dan gunung di Kawasan Danau Toba sedang terancam.
Kerap dikeruk untuk timbunan bangunan, material bangunan serta dijadikan lahan pertanian.
Kerukan, pembakaran gunung maupun bukit serta konversi hutan gunung menjadi lahan pertanian terjadi di sejumlah tempat.
Bertolakbelakang dengan Geopark
Akan tetapi, di banyak tempat pembangunan ini malah bertolakbelakang dengan prinsip Geopark.
Leonard J. Lickorish dan Carson L. Jenkins uraikan dalam tulisannya An Introduction to Tourism yang menyebut begini,” Di hampir setiap negara di dunia, ada contoh-contoh yang memperlihatkan bahwa perkembangan pariwisata telah diakui sebagai biang keladi perusakan lingkungan”.
Tidak hanya pembangunan hotel atau resort mewah saja yang malah menjadi biang keladi perusakan lingkungan.
Tumpukan sampah akibat wisatawan tidak tertib pun berpotensi mematikan bisnis pariwisata itu sendiri.
Jika memang benar-benar mengusung Prinsip Geopark serta Pariwisata Berkelanjutan, segala hal yang ada di Kawasan Geopark Kaldera Toba perlu ditertibkan, termasuk wisatawan juga harus dididik.
Pemerintah khususnya pemerintah daerah harus terlibat dalam melindungi, menjaga serta melestarikan Geopark Kaldera Toba yang sudah diberikan label oleh UNESCO sebagai Warisan Dunia.
Penulis: Damayanti Sinaga
Penulis juga aktif sebagai pemandu wisata



