Dalihan Natolu (6)

BERSPONSOR

NINNA.ID – Kali ini mari kita lihat aktivitas yang dilakukan oleh Datu Nasumurung, seperti yang kami kisahkan sebelumnya. Setelah usai manonggohon (mendoakan) Sawan putih, Tuan Datu pun berdiri memberikan Boras si pirni tondi ke kepala patung perempuan yang seolah menari itu, dilanjutkan dengan tonggo-tongo untuk meminta roh kehidupan dari sang Dewata.

Sesekali sang Datu memercikkan Mual tio yang ada dalam sawan yang bercampur dengan Anggir pangurason ke arah patung. Konon, menurut cerita, cairan itu adalah Borasni sunsang duri mula ni parbinotoan nadenggan dohot naroa (campuran dari buah kayu yang berduri yang merupakan awal dari semua pengetahuan yang benar dan salah).

Dalam tonggonya sang Datu berkata “Asa manakke ma debata na diginjang” sambil memercikkan air pangurason yang ada dalam cawan ke muka patung tersebut.

Dan, memang benar. Mujizat itu pun terjadi. Mata patung itu pun tiba-tiba langsung berkedip.

“Asa mangkorasima debata di tonga,” Datu berucap sembari memercikkan air pangurason ke dada si putri yang baru hidup itu, disambut dengan tarian dari si putri itu. Mereka seolah-olah sudah mulai berkomunikasi.

BERSPONSOR

Sang Datu kemudian berucap lagi. “Asa manjaga ma debata ditoru”. Kemudian dia memercikkan air pangurason ke ujung kaki si putri itu dan akhirnya tuan putri tadi menjawab, “Nasian ginjang do ahu raja nami”.

Datu nasumurung sangat senang dengan hasil jerih payahnya itu. Dia tertawa terbahak bahak. “Hahaha …hahaha…hahaha… Nuaeng pe boruni rajanami nunga pitu lilikku paualu jogiakku, nunga uli nipikku goaranhu ma hamu Si Boru Manggalle jala ingkon hamu nama parsonduk bolonku”.

Kemudian Siboru Manggale menjawab ucapan sang Datu. “Di duda disege i di duda bota botana dang hujua hatamuna i rajana nami ai nungnga dipangan rohakku”.

Dan tanpa berlama-lama lagi, sang Datu membalas “Antong betama tu huta luat nami asa denggan hita di rumatondi i natua tua”. Siboru Manggale menyetujui. “Nauli rajanami”.

BERSPONSOR

Namun apa daya, ketika hendak berangkat, tiba-tiba muncul Pande Uhir dan berkata “Paso hamu jo amang. Ugasanhu doi. Unang marlomo–lomo hamu.” (tunggu dulu pak itu adalah kepunyaan saya jangan main bawa aja). Dikisahkan, terjadilah adu ketangkasan silat yang dikenal dengan mossak dan ternyata Pande Uhir kalah dan jatuh tersungkur ke tanah.

Tidak selesai sampai di situ, rupanya Partiga Ulos (pedagang ulos) sudah berada di sekitar tempat itu menunggu pertempuran itu usai, dan dia pun berkata. “Boasa marbadai hamu? Ai ugasanhu do na digulut muna i (kenapa kamu harus bertarung? Perempuan ini adalah milikku). Pertarungan kembali tidak dapat dihindari antar Partiga ulos dengan Datu Nasumurung. Karena memang Datu Nasumurung sangat sakti, Partiga ulos pun dengan sangat mudah dikalahkan.

TERKAIT  Sarune Bolon Alat Musik Penyampai Kabar Baik

Masih ada satu lagi, Patiga mas (pedagang mas) sudah muncul juga di tempat itu dan dia juga berkata. “Boasa dohonon muna ugasanmu na on? Ai ugasanhu do on (kenapa kalian bilang ini milik kalian? Ini milikku). Adu fisik kembali terjadi.

Kala itu memang adu fisik memang sesuatu yang lumrah untuk menyelesaikan permasalahan. Pertarungan itu tetap dimenangkan oleh Tuan Datu Nasomurung.

- Advertisement -

Melihat dan merasakan kejadian itu, maka dengan ilmu penerawangan yang dimiliki, Datu Nasumurung, dia berkeinginan mencari solusi untuk menyelesaikan permasalahan mereka ini. Kemudian ia mengajak Pande uhir, Partiga ulos, dan Partiga mas untuk duduk bersama menyepakati sebuah perdamaian.

Datu Nasumurung menyarankan agar mereka pergi ke pengetua adat untuk memberikan satu solusi kepada mereka. Singkat cerita, mereka berempat setuju dan mereka pergi ke rumah pengetua adat yang ada di sana.

Sesampainya di rumah pengetua adat itu, salah seorang dari mereka mulai berkata “Horas ma natua tua nami”. Pengetua adat menjawab “Horas ma tutu”, dan mempersilahkan mereka duduk diatas lage (tikar).

Setelah mereka duduk, Pengetua adat bertanya dengan ungkapan “Dia do baliga si baligahonon muna, jala dia do barita si baritahonon muna. Tangkas ma paboa hamu”.

Lalu langsung dijawab Datu Nasumurung “Ido tutu raja nami. Ia lakkat dohot unokna, ia hatana dohot nidokna. On ma natua tua nami; Nion Si Boru Manggale on, sude hami na opat mandok nampunasa nami on. Alanima natua tua nami pature hamu ma jo hami (masing-masing kami berempat mengklaim. Si Boru Manggale ini adalah milik kami. Untuk itu kami minta solusi dan petunjuk kepada pengetua adat kami agar adil dan bijaksana).

Natua tua ni huta itu kemudian mengatakan, dia tidak bisa membuat solusi untuk permasalah ini. Tapi diminta jangan khawatir, karena masih ada Raja di kampung itu. Beliaulah yang pantas untuk memutuskan persolan itu.

Datu nasumurung pun langsung menjawab, “Nauli natua tua nami”. Mereka lalu berangkat ke istana untuk menghadap Sang Raja.

 

Penulis   :  Aliman Tua Limbong
Editor      : Mahadi Sitanggang

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU