Dalihan Natolu (3)

NINNA.ID – Pada tulisan kami sebelumnya, sudah kami uraikan terkait makna dan filosopi dari Dalihan Natolu. Nah, kali ini kami akan coba telisik dari mana sebenarnya asal terjadinya Dalihan Natolu tersebut.

Sesuai dengan turi-turian (cerita) para nenek moyang terdahulu, ceritanya di salah satu tempat, tepatnya di Sianjur mulamula bermukimlah seorang Pande Uhir yang kehidupannya boleh dikata kurang memadai.

Oleh karena kondisi tersebut semakin kuat tekadnya, berencana mengubah nasibnya ke tempat yang lebih menjanjikan. Maka dia menceritakan rencananya tersebut kepada Parsonduk Bolonnya (isteri) untuk mengembara ke tempat lain, yang pada masa itu memang sangat lazim untuk dilakukan.

Isterinyapun menyetujui rencana Pangoluni Huta (suami) itu, dan tanpa pikir panjang, dia melengkapi alat-alatnya sesuai dengan keahlihannya: Pande Uhir (pemahat), untuk dibawa sebagai modalnya.

Di tengah perjalanan, dia beristirahat untuk Mangalap Gogo (memulihkan tenaga). Saat beristirahat ini, dia terpesona dengan sebatang kayu rimbun yang begitu subur dan kekar. Setelah diamati dan diteliti, seolah-olah daun kayu tersebut menari-nari. Terbersitlah pada benaknya, kayu ini akan bagus dan indah jika dijadikan patung seorang puteri yang sedang menari.

Kemudian dengan segera dia memutuskan menebang kayu tersebut untuk dijadikan bahan pahatan. Setelah kayu tersebut ditebang, dimulailah pekerjaan Manguhir (memahat). Tanpa membutuhkan waktu yang lama, kayu tersebut selesai dipahat menggambarkan sosok perempuan yang sedang menari seperti yang sudah direncakan sebelumnya.

Sesaat setelah lama memandang hasil kerjanya yang begitu cantik dan anggun, dia bergumam dalam hatinya. “Seandainya patung puteri ini hidup, akan saya jadikan sebagai isteri pendamping hidup saya”.

TERKAIT  Bulu Parhalaan, Ilmu Perbintangan Masyarakat Batak

Karena sudah lapar dan hari sudah menjelang sore, dia berencana pulang untuk membawa patung tersebut. Seketika petir menggelegar sekuatnya disertai kilat yang sangat menyeramkan. Dengan rasa takut dia segera meninggalkan tempat itu dan pulang ke kampung halamannya tanpa membawa patung putri tadi. Di rumah, dia menceritakan kejadian yang sangat menyeramkan itu kepada isterinya.

BERSPONSOR

Di suatu tempat, lewatlah seorang Partiga Ulos (pedagang ulos) dari tempat di mana patung tersebut tadi dipahat dan ditinggalkan dalam kondisi berdiri oleh pemahatnya.

Sontak partiga ulos terhentak dan terkejut. Dalam benaknya bertanya, siapa pula yang mengukir patung yang sangat cantik jelita disemak belukar ini? Dalam pikirannya, seandainya saya pakaikan ulos yang saya bawa ini pasti tambah mempesona patung ini.

Kemudian dia mencobanya, dan dengan segera memakaikan ulos tersebut dengan lengkap kepada patung tadi. Setelah dilihat-lihat dan dipandang dari kejauhan, dia berucap

“Songon garaga songon garugu, songon nasada songon nasapulu (cantik bagaikan puteri kayangan)”

Timbul dalam benaknya, seandainya puteri ini hidup akan saya jadikan sebagai isteri. Kemudian dia ingin melanjutkan perjalanannya dan ingin mengambil ulos yang ia kenakan tadi pada patung itu. Seketika itu, terjadi gemuruh yang sangat keras diserta kilat yang bersahuit-sahutan. Dia gemetar dan ketakutan. Tanpa pikir Panjang, Dia pun pergi meninggalkan tempat itu dan melanjutkan perjalanannya.

- Advertisement -

 

Penulis    : Aliman Tua limbong
Editor       : Mahadi Sitanggang

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU