spot_img

Dahulu Medan Tempur Sekarang Kampung Warna Warni

NINNA.ID – PARAPAT

Berada di tepi Danau Toba, Parapat menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Simalungun, Sumatera Utara. Telah lama dikenal sebagai salah satu tempat terbaik untuk memandang keindahan Danau Toba, Parapat menyuguhkan ragam pilihan penginapan mulai home stay hingga hotel berbintang.

Cahaya lampu dari kampung warna warni Tiga Rihit yang dipantulkan permukaan Danau Toba terlihat seperli lukisan alam. (Foto/Ferindra)

Ragam souvenir menarik juga berjajar di pusat kota. Tak kalah menggodanya, ada cemilan khas kota itu yang dikenal dengan dolung-dolung dan kacang garing. Semua itu telah menjadi daya tarik dan saksi bisu akan keindahan alam Parapat yang bertahan selama puluhan tahun.

Kini, salah satu kampung tua di kota itu – Tiga Rihit – telah dipoles menjadi kampung penuh warna, dengan tetap menjaga keasriannya. Kampung warna warni sejuta pesona ini selalu membuat takjub para pengunjung.

Tiga Rihit merupakan perkampungan kecil berhawa sejuk, berada di lereng bukit sekitaran Kaldera Toba. Lokasinya hanya berjarak 100 meter dari gerbang masuk kota wisata Parapat di  Kecamatan Girsang Sipanganbolon, Kabupaten Simalungun, Propinsi Sumatera Utara.

Memasuki kampung warna warni Tiga Rihit tidaklah sulit. Di depan pintu gerbang kampung telah berdiri kokoh gapura Tiga Rihit The Garden Hill. Untuk menyusurinya lorong, langkah kaki ditantang menapaki joging trek ala kampung. Namun langkah itu akan tetap semangat dengan suguhan keindahan Danau Toba bak cermin raksasa, berbingkai perbukitan hijau.

Dari kejauhan, kampung warna warni Tiga Rihit seolah mendapat penerangan dari nuklir titan GODZILA dalam Film GODZILA Vs KONG. (Foto/Ferindra)

Selama menempuh jarak 125 meter menuju puncak, jalanan diapit oleh nuansa warna warni rumah warga yang disulap menjadi home stay. Ragam warna warni di kampung seolah semakin meringankan langkah. Terlebih saat angin sepoi-sepoi menerpa membawa hawa dingin, rasa letih seakan dihalau pergi. Tak terasa, pengunjung sampai di ujung kampung.

Salah satu ciri khas di kampung warna warni ini adalah multi budaya. Di kampung ini terdapat multi etnik dan agama yang hidup berdampingan dengan harmonis.

“Toleransi ini juga menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi para pengunjung,” kata Pokdarwis (Kelompok sadar wisata) Mike W Sinaga.

Selain menyuguhkan panorama Danau Toba yang asri dari puncak kampung, tersedia juga home stay, kuliner dan atraksi wisata dari multi etnik dan agama di kampung penuh warna itu.

Tidak sekedar menyulap kampung menjadi penuh warna, warga kampung juga mulai berbenah. Warga diajak  belajar melestarikan budaya Simalungun dan Toba, seperti  manonun/martonun – bertenun – ulos yang menjadi kain khas masyarakat Simalungun dan Toba.

Tidak hanya itu, warga juga belajar tarian dan atraksi daerah yang dikolaborasi. Di kampung Tiga Rihit, juga melestarikan kuliner khas daerah, seperti dolung dolung dan kacang garing, untuk mengangkat dan melestarikan ciri khas kampung itu..

Menjadi Medan Tempur Melawan Belanda

Warga setempat menuturkan, pernah hidup seorang tokoh,  Ompu Raja M Sinaga, bermukim di tepi pantai yang bernama Tiga Rihit. Kata Tiga bermakna lokasi berjualan dan Rihit bermakna pasir. Sehingga makna Tiga Rihit menyebutkan lokasi berjualan di tepi pantai/ pasir. Di tempat itu, sekarang berdiri hotel Atsari, Elli Resto, hotel Budi Mulia hingga kedai kopi Paradiso.

TERKAIT  Sihaek Aek, Jalan Dusun yang Sepi Berjuta Pesona

Selain sebagai pusat perdagangan dan interaksi sosial,  kala itu ada juga lokasi penambangan pasir di sana. Faktor ini membuat Tiga Rihit menjadi kawasan strategis di zamannya.

“Dianggap daerah penting, maka Belanda dalam masa penjajahannya sekira tahun 1878, berambisi mengusai Tiga Rihit untuk membangun pemukiman bagi pasukannya. Belanda saat itu mendapat perlawanan sengit dari kerajaan Batak di bawah Raja Sisingamangaraja XII dan Ompu Raja M Sinaga.”

Namun tak berlangsung lama, Belanda dengan pasukannya berhasil menguasai Tiga Rihit. Warga Tiga Rihit diusir dan rumah penduduk dibakar. Raja M Sinaga sebagai pemilik lahan Tiga Rihit meninggalkan kampung dan bermukim ke Bangun Dolok.

Tidak lama tinggal di sana, Raja M Sinaga kembali pindah dan bermukim di robean atau ladang. Lokasinya waktu itu, saat ini dikenal sebagai kampung warna warni Tiga Rihit.

Kisah Tiga Rihit itu dituturkan salah seorang generasi Raja M Sinaga, B Sinaga. Penguasaan wilayah oleh Belanda kala itu tidak hanya menyebabkan warga Tiga Rihit eksodus dari kampungnya. Pasar strategis di sana juga berpindah ke Tiga Raja, hingga saat ini.

Menjadi Kampung Sejuta Warna

Setelah Danau Toba ditetapkan sebagai destinasi wisata super prioritas,  pembangunan wisata di seluruh wilayah Danau Toba mulai menggeliat.

Kampung Tiga Rihit yang awalnya hanya kampung biasa dekat dengan inti kota Parapat mulai bertransformasi. Pada tahun 2018, atas ide dan sentuhan tangan dingin penggiat pariwisata, Corry Panjaitan, Tiga Rihit menjadi kampung penuh warna. Corry sebagai perantara salah satu perusahaan swasta dengan warga, menghias dan mewarnai rumah demi rumah di sana. Tertarik dan berniat memaksimalkannya sebagai spot baru di Parapat, pemerintah melalui Badan Pengembangan Otorita Danau Toba (BPODT), mengambil alih pembinaan tempat itu.

Siapa dia di bawah payung fantasi, oh oh oh siapa dia? (Foto/Ferindra)

Selain peran BPODT ada juga organisasi mahasiswa, Generasi Baru Indonesia (GenBI), ikut andil menaikkan promosi Tiga Rihit dengan melakukan bakti sosial. Akhirnya, didasari kepedulian pihak luar, terbentuklah kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dengan komitmen menjaga dan membangun kegiatan kepariwisataan di sana.

Dalam prosesnya, Pokdarwis dan warga Tiga Rihit mendapat bantuan hibah pembangunan home stay untuk 30 kepala keluarga dari PUPR. Saat ini, home stay di sana sudah siap melayani pengunjung.

Seiring waktu berjalan, satu persatu warga mulai ikut memoles dan menghias kampung dengan berbagai ornamen lukisan mural. Untuk mempertahankan keindahan warna warni kampung di malam hari, berbagai jenis lampu hias dipasang untuk menambah daya tarik di sana.

Penulis            : Ferindra

Editor : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU