spot_img

Cerita Parhaminjon (4)

NINNA.ID – Seperti saya sebutkan di tulisan sebelumnya, dengan bekal pengalaman marhaminjon, beberapa kali saya melihat marhontas. Sewaktu saya SD, kaum ibu ramai-ramai datang ke hutan menyusul suaminya. Semua bawa makanan. Menu wajib adalah daging (umumnya namarmiak atau babi meski juga ada ayam) dan itak gurgur serta lappet. Semua menu ini dimasak dari rumah.

Sewaktu SMP, kaum ibu tak lagi datang bersama-sama. Dari sebelumnya komunal dan janjian, kini menjadi personal dan insidental. Begitu juga sewaktu SMA. Tetapi, frekuensinya makin jarang. Sangat jarang. Terakhir, saya mengalaminya ketika awal pandemi. Berarti, berselang lebih dari 10 tahun. Saya tamat SMA tahun 2008.

Nah, kami melakukan marhontas pada tahun 2020. Mengapa? Karena sekolah sedang dirumahkan. Maka, kami pun bertamasya ke hutan. Kami membawa banyak makanan di samping menu itak gurgur dan ayam. Kami membawa agar-agar. Membawa sirup. Pokoknya, seperti tamasya, makanan makin beragam. Tetapi, untuk ritual, makanan itu tentu saja dipilih.

Yang menarik perhatian saya hanya satu: zaman begitu cepat mengubah segalanya. Ritual marhontas ini sudah teramat jarang dilakukan. Mungkin karena pengaruh agama. Tetapi, rasanya tidak. Agama sudah lama muncul. Lalu, karena apa? Apa karena ritual ini tak memberi dampak? Apa karena ritual ini dianggap adalah memuja alam, bahkan hantu?

Entahlah. Tetapi, sejak ritual ini tak dilakukan, bertanyalah kepada parhaminjon di Pollung Humbang Hasundutan, hutan seperti tak punya wibawa lagi. Arti tak punya wibawa adalah karena getah haminjon makin sering hilang. Dulu sekali, ini sangat jarang. Boleh dikatakan, hampir tak ada berita kehilangan. Jika pun kehilangan, hanya sesekali dan biasanya cepat ketahuan.

Pada situasi seperti ini, hutan tak punya nilai kesakralannya. Dulu, semua saling menjaga.

Mungkin karena merasa ada sesuatu di hutan yang melarang mereka untuk saling mencuri. Kini, banyak yang ingin mencuri. Mungkin karena merasa sudah tidak ada lagi di hutan yang melarang mereka untuk saling mencuri. Sesuatu itu sudah tak di hutan lagi. Buktinya, tak ada lagi marhontas.

Agaknya, ritual ini mungkin akan segera hilang. Setidaknya, dari Pollung di Humbang Hasundutan. Rasanya, sangat perlu kegiatan ini dijaga dan dilestarikan. Ritual ini bukan beragama. Ini sesungguhnya soal spritual bahwa kita dekat dengan alam sehingga kita tak melukai alam itu dengan perilaku yang tidak kudus. Tapi, bagaimana caranya mengajak masyarakat kembali melakukannya?

TERKAIT  FGD Titik Nol Batak tak Berhasil

Dulu, masyarakat melakukannya dengan hohom (senyap dan sakral) serta homi. Kaum ayah akan membawa itak tata atau itak gurgur. Juga lappet. Kadang pula nasi dan dagingnya. Semuanya dibawah keluar dari gubuk parhaminjon. Parhaminjon akan mencari batang pohon haminjon tertentu. Tidak terlalu ada spesifikasi ukurannya. Mungkin, ini tergantung ke mana hati parhaminjon tergerak.

Walau begitu, umumnya parhaminjon mencari pokok yang akan segera dikerjakan. Berarti, daunnya harus rimbun. Sekitar pokok haminjon itu lalu dibersihkan. Ke sana, menu makanan itu disajikan. Kadang di atas daun pisang. Setelah itu, parhaminjon mengucapkan kata-kata. Isinya bebas. Yang pasti semua menuju pada pemilik dan penjaga hutan.

Orang beragama mungkin akan mengartikan penjaga hutan sebagai hantu. Itu persepsi. Barangkali saja parhaminjon berpikiran sama, yaitu kepada hantu. Tetapi, arti hantu di sini tidak hantu yang jahat. Hantu di sini lebih pada jiwa, tondi, bahkan sombaon. Semua makhluk itu kasatmata. Memuja mereka berarti menduakan Tuhan. Lagi-lagi, itu persepsi.

Sebab, bukankah Tuhan pencipta segala. Bukankah Tuhan punya malaikat? Jangan-jangan roh itu juga bawahan malaikat. Kita tidak tahu. Kita hanya menduga-duga. Itu ibarat negara. Ada Presiden. Mungkin, presiden adalah Tuhan. Ia punya menteri. Mungkin, menteri adalah malaikat. Menteri punya bawahan lain. Bawahan lain itulah barangkali Tondi, roh, sombaon, dan segalanya.

Hanya saja, saya yakin, Tuhan melihat kita dari kedalaman hati. Ia tak melihat dari betapa fasihnya bibir kita melafalkan nama-Nya. Ia bukan Tuhan yang suka dipuja dengan mulut. Karena itu, Ia pasti melihat kita dari kedalaman hati meski bahkan tidak memanggil nama-Nya. Jadi, ketika parhaminjon melakukan itu dengan segenap hati, Tuhan tahu, itu pekerjaan baik.

Karena itu, ketika ritual marhontas masih dilakukan, Ia hadir ke setiap hati parhaminjon. Maka, timbullah hati yang bijak. Tak ada pencurian. Semua saling menjaga. Dan, kini, ritual itu sepertinya sudah lenyap. Tak ada lagi kaum ibu yang datang menyusul suaminya. Tak ada lagi doa-doa khusus untuk pemilik alam. Semua berjalan menjadi begitu saja. Dan, kini, seperti tempat kerja lainnya, hutan sudah seperti kantor. Datang tanpa doa.

 

Penulis    : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor       : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU