spot_img

Cerita Parhaminjon (3)

NINNA.ID – Pak Presiden Jokowi menanam pohon. Pohon itu untuk dipanen cucu kita kelak. Sebuah misi mulia. Tetapi, saya masih tersinggung. Mengapa kita hanya banyak menanam tanpa banyak merawat? Seberapa banyak sudah pohon ditanam? Namun, dari yang banyak itu, berapa yang tumbuh sehat? Mengapa kita hanya suka menanam, bahkan sebatas simbolis?

Tak salah Pak Jokowi berfoto menanam pohon di Baktiraja, Humbang Hasundutan, tepatnya di Simangulampe. Berfoto menanam pohon bisa menjadi contoh. Tetapi, kita sudah kelebihan foto. Kita tak perlu lagi pamer-pamer berfoto. Kita perlu aksi dan eksekusi. Aksi, misalnya, dalam sebuah contoh matematis. Untuk apa menanam pohon satu batang, tapi lumpuh sepuluh batang?

Untuk apa menanam di 1 x 1 meter, tetapi gundul di ratusan meter? Kita tak kekurangan penanaman pohon. Kita hanya kelebihan penebangan pohon. Ibaratnya, kita juga tak kekurangan pemberi uang. Kita bangsa yang suka membantu sesama. Devisa negara juga banyak. Sayang, kita kelebihan orang rakus dan korup. Itu saja masalahnya.

Kembali ke pohon itu. Pak Jokowi menanam pohon di Baktiraja. Orang histeris. Pak Jokowi punya karisma yang kuat. Tetapi, berapa banyak pohon yang tumbang di bumi Humbang Hasundutan, di Samosir, di Toba dan sebagainya oleh perusahaan. Ya, perusahaan itu memang menanam pohon lagi. Tetapi, urusan menanam pohon itu bukan untuk konservasi. Justru murni untuk produksi.

Pohon itu ditanam untuk mereka ambil lagi. Lahan menjadi tidak alami. Pohon menjadi homogen. Suatu ketika, saya jadi teringat pada kisah haminjon.

Dan, karena itu, saya justru berpikiran: mengapa pak Jokowi tidak menanam haminjon di Humbang Hasundutan? Bukankah Pak Jokowi suka dengan politik simbol?

Simbol itu, misalnya, menanam kemenyan agar perusahaan tak lagi merebut lahan petani haminjon. Sebab, siapa pun tahu, tanah di negara ini dulu milik komunitas tradisi, bukan milik komunitas korporasi. Tradisi lebih dahulu muncul dari negara. Karena itu, ketika ingat di hutan kami, beberapa pohon kemenyan dilabeli tanda tertentu oleh perusahaan, saya kesal sendiri.

Parhaminjon sudah lama merawat hutannya. Lalu, mengapa mereka harus ditakut-takuti oleh berbagai kebijakan modern? Parhaminjon itu tahu adab merawat hutan. Sebab, haminjon tak akan menghasilkan getah yang maksimal jika pohon di sekitarnya ditebang. Itulah sebabnya hutan haminjon masih asri dan heterogen. Mereka memperlakukan hutan dengan sangat hormat, bahkan sakral.

Ada ritual untuk itu. Namanya marhontas. Kebetulan, ritual ini sedang saya rangkai ceritanya untuk dibuatkan film oleh Direktorat Perfilman. Mudah-mudahan proposal saya diterima. Sebab, ide cerita sudah lolos. Nah, marhontas adalah bentuk ritual unik. Dari ritual ini kita tahu, parhaminjon sangat hormat karena itu juga menjaga alam.

TERKAIT  Menggagas Batak Meeting Writers di Baktiraja Tahun 2022

Teknisnya mungkin beragam. Tapi, saya akan bercerita yang pernah saya alami. Di hari Senin, parhaminjon berangkat ke hutan. Di hari berikutnya, Kaum Ibu datang menyusul. Kaum Ibu tidak datang dengan tangan kosong. Mereka memasak daging namargota (ada darah). Bisa ayam. Bisa juga babi. Intinya, bawa daging.

Selain itu, kaum ibu juga akan membawa lappet dan itak tata. Setelah semua bekal itu disiapkan, mereka pun pergi ke hutan menyusul suami. Saya tak tahu bagaimana pakemnya. Cuma, kata kaum ayah, dulunya ini dilakukan seperti kejutan kaum ibu kepada kaum ayah. Jadi, tidak ada kesepakatan waktu entah kapan datang.

Tetapi, saya melihatnya tidak begitu. Saya ingat itu ketika SD. Berarti antara 1994 ke 2000. Saat itu, ramai-ramai kaum ibu datang menyusul suaminya. Mereka sudah punya janji. Kaum ayah sudah pada tahu. Jadi, ibaratnya, ini seperti tamasya saja. Dan, mereka pun pergi. Beberapa pulang di hari yang sama, termasuk ibuku. Beberapa yang lain malah menginap di hutan bersama suaminya.

Begitu saya lihat beberapa kali. Lalu, tren berubah. Kaum ibu tak lagi janjian. Mereka tak lagi ramai-ramai ke hutan menyusul suami. Semua menjadi personal. Itu ketika saya SMP. Saat SMP, kebetulan saya belum pernah marhaminjon. Kami pergi bersama ibu. Sudah dijanjikan. Karena itu, ayah menjemput kami dari tepi hutan.

Namanya saja di tepi hutan. Sebenarnya, kami masih berjalan jauh lagi. Sekitar 2 jam lagi. Kali ini, tak ada ibu-ibu lain. Murni hanya ibu saya. Begitulah selalu kata ibu. Namun, 4 tahun saya sewaktu SMA (kebetulan SMA di Seminari) serta 5 tahun kuliah, jikalau libur semester, saya selalu ke hutan. Tetapi, belum pernah kami dikunjungi ibu. Tak pernah juga kudengar ibu lain datang.

Nah, kebetulan tulisan ini sudah mulai panjang. Maka, khusus untuk edisi selanjutnya, saya akan bercerita tentang Marhontas. Tentu saja sesuai pengalaman saya marhaminjon dalam rentang hampir 10 tahun. Oh, iya. Semoga tulisan tentang pohon ini dibaca Pakde Jokowi. Minimal, ada stafsusnya yang membaca. Hehehehe.

 

Penulis    : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor       : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU