spot_img

Cerita Parhaminjon (2)

NINNA.ID – “Sai margota ma ni ula ni tangan muna”, itu adalah ungkapan orang Batak. Arti literal ungkapan ini adalah: semoga bergetah hasil pekerjaan tangan kalian. Arti kiasannya: semoga berbuah apa yang dikerjakan. Dan, satu-satunya getah sumber penghasilan orang Batak di Humbang adalah haminjon (kemenyan).

Dari ungkapan itu, kita tahu bahwa haminjon adalah pohon yang mahal dan bersejarah. Sangat tidak terbayangkan rasanya jika atas nama pembangunan pertanian dan perkebunan, maka lahan haminjon digusur dan digeser. Lagipula, lahan haminjon biasanya jauh ke dalam hutan dan menjadi salah satu hutan alami.

Haminjon tidak seperti pohon karet atau sawit. Seperti diketahui, hutan sawit dan karet sangat homogen. Dengan kata lain, sawit dan karet hadir dengan cara menggusur biota dan tumbuhan lainnya. Beda dengan haminjon. Haminjon hadir bersama pohon dan biota lainnya. Haminjon adalah pohon yang akan bergetah banyak jika pohon lain tumbuh.

Karena itu, ketika pergi ke hutan haminjon, kita akan menyaksikan keasrian alam yang indah.

Saya jadi teringat dulu ketika akan berangkat ke hutan haminjon. Kami akan membawa bekal yang banyak. Minimal untuk Senin sampai Kamis. Umumnya dari Senin sampai Sabtu. Letak hutan sangat jauh.

Dan, kala itu, pada tahun di bawah angka 2010-an, kami di Humbang Hasundutan masih sangat jarang yang memiliki kendaraan roda dua. Malah, hampir tidak ada. Karena itu, kami akan berjalan jauh. Tidak ada angkutan. Maka, biasanya kami akan menumpang truk besar milik PT TPL. Mereka umumnya berhenti jika disetop.

Namun, banyak juga yang tak berhenti. Padahal, jika dipikir-pikir, mereka harus berhenti. Toh, mereka harus mengambil hati masyarakat setempat. Sebab, hutan milik warga sering berkasus. Jalanan pun cepat rusak karena mereka. Tetapi, orang besar kadang membesarkan diri dengan mengecilkan atau memijak orang kecil.

Tetapi, saya selalu ingat kenangan itu. Kami akan menyetop truk besar. Beberapa menolak berhenti. Tetapi, ada juga yang berhenti walau selalu tergesa-gesa. Mungkin, karena gratisan. Hampir tidak ada setengah menit berhenti untuk memberi tumpangan pada warga. Di jalanan pun, mereka terkesan sangat kencang. Padahal, pegangan tidak ada.

Kami hanya memegang tonggak pengikat kayu atau baut-baut di truk itu. Saya selalu merasa degdegan jika naik truk ini. Tidak berpegangan kuat, kita bisa terempas dan terbuang ke jalan. Soalnya, truk itu terbuka karena memang hanya membawa kayu. Lama-lama, saya terbiasa. Meski kadang saya sedih melihat mimik kakek tua yang ikut menumpang.

TERKAIT  Roh – Pancaran Jiwa Dalam Diri Orang Batak Toba (IX)

Mimik itu seperti ketakutan. Tetapi, apa boleh buat. Ia harus ikut. Jika harus berjalan seperti dahulu kala, mereka akan tiba menjelang malam hari. Sebab, perjalanan naik truk ini hanya sedikit. Mungkin sekitar setengah atau ke tiga per empat perjalanan. Setelah itu, kami akan berhenti. Karena perjalanan masih jauh, parhaminjon biasanya akan ngopi dulu.

Setelah itu, baru melanjutkan perjalanan. Hampir 3 jam kami berjalan dari akar ke akar. Perjalanan yang cukup melelahkan. Namun, cukup menyenangkan. Kami akan disertai suara-suara binatang hutan. Monyet-monyet kadang berseliweran dari ranting ke ranting. Udara juga sangat segar. Dan, entah mengapa, suara lebih kuat terdengar di hutan.

Karena itu, teriakan-teriakan parhaminjon sangat lantang. Terkadang kita berjalan berdua. Tetapi, suara nyanyian parhaminjon dari nun jauh sering menjadi hiburan tersendiri. Setelah berjalan sekitar 2 ke 3 jam, kami pun tiba di gubuk seukuran 2 x 4 meter. Gubuk yang sudah termasuk besar atau standar. Hal pertama yang kami lakukan biasanya adalah menyalakan api.

Jika kebetulan ada dua tiga orang, maka secara spontan mereka akan berbagi tugas. Ada yang mengambil air ke sungai. Ada yang menyapu gubuk. Ada yang mempersiapkan masakan untuk makan siang. Namun, jika seorang diri, maka ia harus merangkap semua tugas itu.

Tetapi, hal pertama yang harus dilakukan umumnya adalah mengganti baju. Baju ini dipakai seterusnya tanpa diganti untuk sepekan ke depan. Kami tak pernah mandi dan bertukar pakaian. Dan, oh, pakaian ini sudah Minggu lalu, sudah bulan lalu, bahkan sudah tahun lalu. Artinya, pakaian ini sudah sangat kotor dan inilah pelapis tubuh kami sampai satu Minggu ke depan.

Saya tak tahu membayangkan mengapa dulu saya tidak gatal ketika memakai pakaian itu. Apalagi jika hujan tiba saat kami di atas pohon, ketika pulang, pakaian itu sudah akan bercampur dengan tetes-tetes air yang menempel di semak. Sesampai di gubuk, kami biasanya udah basah kuyup. Namun, triknya sederhana, buka semua pakaian lalu keringkan di api. Setelah itu, kembali pakai.(Penasaran kehidupan parhaminjon lainnya, nantikan Cerita Parhaminjon selanjutnya Jumat 4 Februari 2022)

 

Penulis    : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor        : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU