spot_img

Bupati Humbahas Ajak Komunitas Tionghoa ke Sipinsur

NINNA.ID – Bupati Humbang Hasundutan (Humbahas) Dosmar Banjarnahor punya tamu dari pengurus Indonesia Tionghoa. Tamu itu puluhan orang. Bupati rupanya punya misi khusus: memanggil para investor ke Humbang Hasundutan. Kata Bupati dalam sambutannya, Pemkab Humbang Hasundutan akan sangat terbuka jika orang Tionghoa membuka bidang usaha apa pun di Humbang Hasundutan.

“Soal perizinan, gampang di Humbang dan gratis. Malah akan kita bantu. Jika ada kesulitan, langsung lapor sama saya,” ujar Dosmar dan disambut tepuk tangan dari para calon investor. Bupati Dosmar lalu bercerita tentang pembelajaran metode gasing di Humbang yang langsung memanggil Johannes Surya. Sebuah terobosan yang patut diapresiasi.

Dari cerita itu, Dosmar Banjarnahor lagi-lagi mengajak komunitas Tionghoa untuk tidak ragu-ragu menanam modal di Humbang Hasundutan. “Bisa juga beternak babi atau bertani,” ujarnya. Beternak babi di Humbang Hasundutan memang akan menjadi potensi tersendiri. Tidak terlalu banyak rintangan dan lahan masih cukup luas.

Intinya, Humbang Hasundutan bisa digenjot pembangunan, apalagi disokong dana dari para investor. Di sela-sela bincang-bincang tamu itu, saya memberanikan bertanya kepada seorang tamu. Saya bertanya kepadanya tentang peluang wisata Humbang Hasundutan, terutama Sipinsur. Menurutnya, potensi Sipinsur sangat tinggi.

Ia terlalu ramah. Dan, waktu terlalu mepet sehingga saya tak sempat sombong. Sombong, misalnya, bahwa saya adalah penulis tingkat nasional dan beberapa kali dipanggil pada even nasional. Sombong bahwa saya guru energik. Maksudnya, saya tak sempat memperkenalkan diri. Saya juga bahkan seolah lupa untuk bertanya siapa dirinya.

Sebab, ia terlihat sangat antusias untuk bercerita. Bercerita tentang keindahan Sipinsur. “Enak sekali di sini. Mereka itu anak didikmu, ya?” tanyanya sambil menunjuk pada gadis-gadis dengan pakaian adat. Ada pakaian Karo. Ada Pakpak. Ada Simalungun. Ada Mandailing. Tentu saja Toba. Ditanya begitu, saya tentu pasti mengangguk.

Memang, kali ini, sanggar kita dari Sanggar Maduma dipanggil untuk menyambut Bupati Dosmar dan tamu-tamunya di Sipinsur. Mereka antusias. Beberapa kali saya dipanggil menjadi juru foto untuk mereka. Agaknya, itu cukup menarik bagi mereka. Malahan, di sela-sela tari penyambutan, mereka mengambil beras dari para penari.

Komunitas Tionghoa 1
Bupati Humbahas Dosmar Banjarnahor mengajak tamunya dari komunitas Tionghoa Indonesia berwisata, salah satunya ke Sipinsur.(foto:riduan)

“Horas. Horas. Horas,” kata mereka dengan bahagia. Mereka benar-benar menikmati Humbang Hasundutan. Dan, Bupati Dosmar Banjarnahor tampak sangat bersemangat untuk mengajak mereka berinvestasi di Humbang. Karena itu, selepas dari Sipinsur, Dosmar mengajak mereka untuk panen jeruk.

TERKAIT  Ajakan Lebih Friendly untuk Perubahan Pariwisata

Mudah-mudahan mereka mau berinvestasi agar Humbang bisa menjadi wisata perkebunan sekaligus mempertajam budidaya pertanian. Selepas dari panen jeruk, rupanya Bupati tetap bersemangat tanpa lelah. Ia membawa para tamu itu ke Bakara. Sipinsur memang menjadi lokasi yang strategis. Titik destinasi tak berhenti hanya di Sipinsur saja. Kita masih bisa ke bawah.

Sebab, sekitar dua kilometer lagi, ada Panoguan Solu untuk berselfi ria. Sekitar belasan menit perjalanan dari Panoguan Solu, kita pun akan sampai di Bakara. Di Bakara, destinasi akan makin banyak lagi. Tentu, ini semua termasuk peluang yang bisa dilirik para investor itu untuk meningkatkan kualitas wisata di Humbang Hasundutan.

Hanya memang, mereka biarlah tetap sebatas investor. Jangan lebih. Bahwa pemilik tanah dan martabat adat tetaplah masyarakat setempat. Artinya, pembangunan itu harus bermuara pada kemajuan kualitas hidup masyarakat Humbang. Di sisi lain, masyarakat Humbang tentu harus terbuka dan harus berpikiran maju ke depan.

Hanya dengan pikiran seperti itu, kita bisa mengejar kemajuan. Dan, satu hal yang perlu diingat, berpikir maju tak identik dengan meninggalkan akar budaya, apalagi bahasa. Lihatlah orang Tionghoa. Mereka ini adalah orang-orang yang maju tanpa pernah meninggalkan kebudayaan dan tradisi mereka. Mereka tak pernah lepas dari akar budaya.

Kemelekatan sesama mereka sangat tinggi. Bertemu dua tiga orang, mereka langsung berbahasa lokal mereka. Dan, apa pun agama mereka, mereka tetap kukuh pada akar budaya. Itulah yang berbeda dengan Batak. Sesama kita Batak saja berkumpul sering kali justru berbicara dalam bahasa nasional. Artinya, kita cenderung lepas dari akar budaya.

Akhirnya, saya jadi terkejut. Tepat ketika beberapa masyarakat Tionghoa itu akan melanjutkan perjalanan, salah seorang dari mereka berbahasa dalam bahasa Batak. Bahasa Bataknya bahkan sangat pakem. Pakket istilahnya. Sebagai orang Batak, saya jadi malu sendiri. Mengapa, ya, kami malu berbahasa Batak dan mereka tidak? Patut untuk direnungkan.

 

Penulis   : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor       : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU