spot_img

RUHUT BULU PARHALAAN (I)

Bulu Parhalaan, Ilmu Perbintangan Masyarakat Batak

SAMOSIR – Sebelum penanggalan masehi hadir di tengah-tengah masyarakat Batak, nenek moyang kita sudah memiliki ilmu perbintangan yang kita kenal dengan Bulu Parhalaan.

Bulu Parhalaan terbuat dari bambu, namun ada juga yang terbuat dari kulit kayu yang tintanya dibuat dari darah ayam. Adapun isi Bulu Parhalaan terdiri 30 hari penanggalan (Partingkian), 12 Bulan (Sipaha), 8 Penjuru Mata Angin (Desa Naualu) dan 5 Masa (Ombas).

Ketika itu, setiap orang yang ingin melakuan aktifitas apapun harus disesuaikan dengan penanggalan Batak. Jika penanggalan tersebut dilanggar akan mengakibatkan kerugian, penyakit, bahkan ada yang sampai kehilangan nyawa, tergantung dengan pelanggarannya.

Apabila penanggalan itu dituruti hampir dipastikan rezeki akan berlimpah dan kesehatan membaik. Tak jarang kita dengar ketika ada acara pernikahan (Mangalua) harus ditentukan terlebih dahulu tanggal sampai ke rumah dan resepsinya (Sidapot dapotonna) berdasarkan Bulu parhalaan.

Jika apa yang dikatakan orang pintar (dukun) tersebut dituruti, dapat memprediksi apakah anak pertama laki-laki. Dan ketika bayi itu pun nanti lahir, bisa pula orang pintar tadi memberitahu nasib anak itu (Partubuan) hingga sampai hari tuanya.

TERKAIT  Ikan Mas Arsik, Santapan Pembawa  Tuah

Partubuan maksudnya, sifat si bayi semenjak kecil hingga sampai besar. Makanya orang batak mengenal istilah Sibaran yang artinya takdir ataupun hakekat yang diterima dari Sang Ilahi.

Kemudian dikenal juga istilah Parsorion (pergumulan hidup) misalnya sakit-sakitan, tidak punya keturunan, meninggal usia muda, semuanya bersumber dari penanggalan dan Mamis.

Adapun yang dimaksud dengan mamis adalah pembagian waktu lahir seseorang. Jika waktu lahir pukul 06.00 WIB – 09.00 WIB disebut sogot, jika lahir pukul 09.00 WIB – 11.00 WIB disebut Pangului, jika lahir pukul 12.00 WIB disebut Hos, jika lahir pukul 15.00 WIB akan disebut Guling, dan jika lahir pukul 18.00 WIB disebut Bot.

 

Penulis   : Aliman Tua Limbong
Editor      : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU