spot_img

Bukit Kembar dari Aek Si Pitu Dai, Celahnya Begitu Menggoda

SAMOSIR – Aek Si Pitu Dai (Air tujuh rasa) yang ada di Desa Limbong Mulana Kecamatan Sianjurmulamula Kabupaten Samosir mungkin tak asing lagi bagi traveler. Khasiat dari masing-masing air dengan rasa berbeda ini sudah banyak diulas lengkap di berbagai platform media massa. Kebanyakan wisatawan yang datang ke sana, ya untuk mengecap rasa unik alami dari 7 pancuran yang ada di sana. Padahal, hanya berjarak beberapa langkah ada objek wisata persawahan Aek Si Pitu Dai.

Ini adalah cerita traveler yang datang ke sana saat liburan Imlek kemarin.

Bersama rombongan keluarganya, Meily tertarik dengan informasi adanya air tujuh rasa di Samosir. Berbekal rajin bertanya, setibanya di Kota Pangururan, mereka diarahkan ke Simpang Empat Kota Pangururan.

“Kami disuruh balik arah. Nantinya begitu di Simpang Empat dan ada gereja besar sebelah kanan, kami diarahkan oleh warga belok ke kiri. Katanya searah jalan Tele. Setelah kami ikuti kami melihat ada proyek dari Waskita. Informasinya untuk membangun jembatan Tano Ponggol,” terang Meily kepada ninnA di Pematangsiantar.

Masih kata Meily, mereka bertanya lagi dan oleh warga yang dijumpai di salah satu warung sekitar mengatakan, arah mereka sudah benar. Hanya saja masih butuh beberapa kilometer dan nantinya akan sampai pada petunjuk arah “Sianjurmula-mula”. Begitu melihat petunjuk arah itu menuju ke kanan, mereka disarankan belok ke kanan dan Aek Si Pitu Dai tidak jauh lagi.

“Benar saja. Tidak lama kemudian kami lihat petunjuk arah itu. Kami tak perlu bertanya lagi. Mobil kami belok kanan. Jalannya bagus dan pemandangan cukup indah. Begitu memasuki perkampungan, kami bertanya lagi. Eh, ternyata kami tepat bertanya kepada petugas yang berjaga di pos tiket ke lokasi Aek Si Pitu Dai,” jelasnya.

TERKAIT  Menuju Sampuran Margumis di Belantara, Teringat Lagu Ninja Hatori

Setelah membayar tiket masuk untuk mobil dan untuk keluarganya yang saat itu berjumlah 5 orang, dia hanya mengeluarkan Rp32.000n saja. Hanya saja, kata Meily, jalan menuju lokasi Aek Si Pitu Dai kurang bagus, terlebih sangat sempit karena hanya bisa dilalui satu mobil saja.

Sesampainya di sana, mereka disarankan menggunakan ulos Batak agar dapat memasuki pancuran Aek Si Pitu Dai. Dibimbing warga sekitar, mereka memasuki ruang wanita yang terdiri dari 4 pancuran Aek Si Pitu Dai dan juga ruang pria dengan 3 pancuran. Kebetulan saat berkunjung ke sana, sedang tidak ada warga setempat yang menggunakan kedua bilik sehingga bebas dimasuki oleh traveler.

Saat duduk di tempat yang disediakan di sana, terlihat gapura bertuliskan Objek Wisata Persawahan Desa Tangguh Si Pitu Dai. Tertarik dengan gapura itu, beberapa keluarganya mendekati dan memandang jauh ke depan. Belum menyadari keindahan tempat itu, seorang pria berambut panjang bertubuh ceking menghampiri.

“Bu, coba berfoto di sini. Posisi tepat berada di antara dua bukit itu ya. Hasilnya sangat bagus. Tidak kalah dengan pemandangan yang ada di Swiss-lah,” ujar pria itu.

Tak mau menunggu lama, mereka bergantian mengambil posisi agar kesannya tepat berada di antara kedua sisi bukit yang berdiri kokoh bagaikan benteng.

“Benar saja. Hasilnya cantik sekali. Seolah punya sayap. Gak nyangka lho, ada pemandangan seindah itu di sana. Kalau gak percaya, boleh pergi lagi ke Aek Si Pitu Dai, tapi kali ini untuk berfoto ya. Buktikan sendiri,” saran Meily.

 

Penulis/Editor     : Mahadi Sitanggang 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU