Berburu Bule di Samosir

BERSPONSOR

SAMOSIR – Hari itu aku bersama 9 anak dan seorang tentor Bahasa Inggris dari Porsea, berburu Bule di TukTuk dan Siallagan, Samosir.

Ide ini diinisiasi oleh seorang kawan, Sang Tentor Bahasa Inggris bernama Roger Hutahaen. Sudah lama dia bertanya kepadaku tentang kondisi pariwisata di Samosir, khususnya keberadaan para Bule di TukTuk. Pertanyaannya itu ternyata ada kaitannya dengan rencana perjalanan ke Samosir.

Akhirnya, ada kesempatan bagus untuk mewujudkan keinginannya mengunjungi Samosir berburu Bule.

Roger sangat berharap murid-muridnya berkesempatan untuk berbicara langsung dengan Bule.

BERSPONSOR

Ia juga berharap anak-anak dapat berbicara dan mempraktikkan kemampuan berbicara mereka dalam Bahasa Inggris.

Kami sengaja mengambil jalur penyeberangan dari Tigaraja menuju TukTuk. Sebab, biasanya para bule lebih sering melewati jalur ini.

Jalur ini memungkin para bule untuk langsung tiba di penginapan atau hotel mereka.

Sebagaimana yang kami perkirakan, kami bertemu para bule di Kapal Tigaraja menuju TukTuk. Rombongan dari Porsea terlebih dahulu memasuki kapal dan berbicara dengan bule selama di kapal.

BERSPONSOR
dua bule 2
Seorang anak mewawancarai bule di Tuktuk.(foto;damayanti)

Berburu di Kapal TukTuk

Karena ada kendala selama perjalanan di Bus Sejahtera, aku yang dari Medan terlambat tiba di kapal. Namun, keterlambatan ini bisa dibilang menjadi berkah bagiku. Justru di sinilah aku menemukan 3 bule yang sangat ramah dan mau membantuku.

Dua dari mereka adalah mahasiswi jurusan Marketing dan Data Analyst dari Belanda. Satu lagi seorang Programmer untuk sebuah perusahaan booking ticket online warga negara Kanada.

Selama berada di kapal, tercipta percakapan yang asyik dengan ketiganya dan ada juga sepasang suami istri dari Jerman. Namun, hanya ketiga bule ini yang aktif terlibat dalam percakapan bersamaku. Belakangan ku beranikan diri mengutarakan tujuanku kepada mereka.

- Advertisement -

“I come to this Island because a friend of mine asking me for help. He asked me to guide his students to practice English with Bule”.

TERKAIT  Libur Idul Fitri Aman dan Nyaman di Batuhoda Beach dengan Penjaga Pantai

Segera dua bule yang masih mahasiswi membalas ,”That’s so nice. We would of course be willing to help a few hours”.

Jawaban itu bikin suasana hatiku jadi gembira. Rasa jengkel akibat terlambat tiba di pelabuhan digantikan dengan jawaban manis dari dua mahasiswa bule ini.

Memang sudah budaya bagi bule untuk tepat waktu. Keduanya datang sesuai janji mereka. Jam 2 siang tepat saat itu mereka tiba di Huta Siallagan menjumpai kami.

Setengah jam kemudian, bule yang dari Kanada juga mendatangi kami di homestay kami. Bule yang satu ini terlihat menaruh minat yang dalam kepada anak-anak.

Dia tidak menunggu pertanyaan dari murid-murid.

Sebaliknya, dia aktif bertanya dengan menggunakan pertanyaan sederhana. Dia pun memastikan agar anak-anak paham tentang jawaban yang sudah ia lontarkan.

Misalnya, saat anak-anak bertanya apa pekerjaannya, mengapa dia berkunjung ke Samosir. Setelah dia menjawabnya dia pun balik bertanya. “What is my job?” tanyanya kembali ke anak-anak.

Ada yang berhasil menjawab pertanyaan yang dilemparkan kembali. Namun, ada yang dijawab dengan senyum oleh anak-anak.

Lalu dia pun mengajukan pertanyaan sederhana tentang hobi, tempat tinggal dan lainnya kepada anak-anak.

Dua hari perjalanan kami yakni 3-4 September 2022 sangat seru karena yang kami harapkan terwujud.

Kami bisa menikmati percakapan dengan bule, foto bersama, main sepeda, berenang di pantai, menikmati homestay di Siallagan, dan masih banyak lagi. Kami sangat gembira.

Foto bersama Bule__
Foto bersama Bule di Homestay.(foto:damayanti)

Rangkaian kegiatan ini pun tidak terlepas dari dukungan Rohandi Homestay Siallagan yang dengan baik hati memberikan tarif homestay dan makan untuk murid-murid dengan biaya terjangkau.

 

Penulis    : Damayanti Sinaga
Editor       : Mahadi Sitanggang

BERSPONSOR
BERITA SEBELUMNYA
BERITA BERIKUTNYA

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU