Berbahasa Batak di Forum Internasional, Berbahasa Indonesia di Forum Batak

BERSPONSOR

NINNA.ID – Itulah kebanggaan penuh. Memulai secara langsung. Melangkah sedikit demi sedikit. Tak persoalan dihargai atau tidak. Agak berbeda dengan para ilmuwan kita.

Mereka ini hanya tukang teropong. Melihat dari menara gading. Memutuskan masalah. Memberi solusi. Soal mereka pernah terjun, itu tak selalu penting.

Karena itu, seringkali solusi mereka lari dari kenyataan. Tetapi, ilmuwan selalu istimewa. Mereka punya akses yang banyak. Maka, jadilah solusi mereka seperti sabda. Namanya sabda.

Itu kata-kata langit. Sering kali tidak membumi. Tumbuh sampai ke surga, tapi jarang berakar di dunia. Agak seperti itulah yang kami bahas melalui telepon.

BERSPONSOR

Saya jadi bercerita banyak. Tentang kegigihan Saut Poltak Tambunan memperjuangkan bahasa Batak. Dimulai dari menulis novel. Satu. Lalu dua. Kemudian tiga. Eh, jadi pentalogi.

Mimpi memang selalu dimulai dari hal kecil. Melangkah. Melangkah lagi. Melangkah lagi. Tanpa sadar, ternyata sudah jauh berjalan. Tanpa pamrih.

lmuwan berbeda. Mereka tak mau capek-capek. Mereka melihat dari teropong. Mereka seperti ingin membuat lompatan besar. Tentu tak masalah melompat besar.

Persoalannya, sanggupkah masyarakat melompat? Berdasar pada perjuangan langkah kecil itu, saya sempat menebak, Saut Poltak Tambunan ikut berkongres.

BERSPONSOR

Dia pantas untuk itu. Ia bukan tukang teropong. Ia pembuat langkah. Kecil memang. Tapi, konsisten. Ia ilmuwan juga. Cuma, tahu menempatkan diri.

Seperti tulisan ini. Jauh dari kaidah ilmiah. Bukan saya tak tahu buat ilmiah. Toh, setiap bulan karya saya masih diterima Kompas. Tetapi, saya tahu menempatkan diri. Saya hanya bercerita, bukan presentasi.

Intinya, saya salut. Saut Poltak Tambunan dipanggil ke Ubud Writers. Ini forum internasional. Ia berbicara bahasa Batak di sana. Dan, justru untuk itu ia dipanggil ke sana.

TERKAIT  Pertarungan Anak Sibagot Ni Pohan pada Kasus Brigadir J Hutabarat

Ia tak peduli apakah pendengarnya diaspora atau bukan. Ia pakem pada tujuan: mengenalkan dan bangga berbahasa Batak. Kalau bukan kita, siapa lagi, kapan lagi?

- Advertisement -

Saya beruntung mengenalnya. Kami berjumpa di forum sastra di Jakarta. Kebetulan, ada Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia. Itu pada tahun 2020.

Kami bercerita tentang kegelisahan dari sana. Tapi, kami sadar. Kami tak punya banyak akses. Kami hanya teguh pada satu hal: melangkah kecil. Peduli amat jika ada pemerintah yang peduli.

Berkarya begitu saja. Terus. Terus. Buahnya memang belum terasa. Tetapi, kebanggaan dan kegigihan itu punya rasa yang lain.

Siapa tidak bangga, misalnya, bahwa Kompas menurunkan artikel berbahasa Batak? Kalau Kompas sudah menurunkan artikel utama demikian, mengapa kita tidak? Kebanggaan tidak sebatas kongres.

Kebanggaan lebih pada penerapan. Untunglah, semakin banyak saat ini yang menerapkan itu. Samar-samar memang terdengar.

Siapa, misalnya, yang pernah mendengar Radius K Siburian? Ia juga anak muda dari Nias. Ia menulis dalam bahasa Batak. Masih banyak contoh lain. Bang Thompson Hs pun mulai aktif.

Beberapa hari belakangan, saya melihatnya menulis puisi bahasa Batak. Bukan kali pertama. Sewaktu kuliah, saya sudah membahas puisinya berbahasa Batak kok. Masih banyak yang lain.

Tetapi, saya ragu, apakah ilmuwan mendengar mereka? Ragu sekali. Mereka hanya puas bicara sabda dari langit karena sudah punya teropong.

Mudah-mudahan para ilmuwan kita sesekali meninggalkan teropongnya. Toh, siapa peduli dengan jurnal yang mereka buat? Siapa yang baca itu semua?

Saya saja jarang membaca sampai tuntas. Apalagi masyarakat awam? Maksud saya, ya, membumilah. Jangan selalu mengudara. Kamu memang sedang di atas. Tapi, hujan saja rela turun.

Penulis : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor   : Mahadi Sitanggang

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU