Berakhir untuk Berlanjut: Akhir Pendampingan Geosite Toba Caldera UNESCO Global Geopark

NINNA.ID-Setiap perjalanan pasti punya akhirnya. Tapi akhir bukan berarti selesai. Begitu juga dengan pendampingan yang dilakukan oleh Badan Pengelola Geopark Kaldera Toba untuk 16 Geosite di kawasan Toba Caldera UNESCO Global Geopark (TCUGGp).

Perjalanan ini dimulai sejak tahun 2012 saat masih di tahap awal “inspiring”, lalu naik menjadi Geopark Nasional pada 2014, dan akhirnya diakui sebagai UNESCO Global Geopark pada 2020.

Selama lebih dari satu dekade, proses ini diisi dengan berbagai pembelajaran, pengembangan, dan kerja sama bersama masyarakat lokal.

Kini, sebagian geosite telah siap untuk “berakhir agar bisa berlanjut” — artinya mereka sudah bisa berjalan sendiri dengan semangat kemandirian dan keberlanjutan, dikelola langsung oleh Kelompok Pengelola Geosite di masing-masing daerah.

Dari Pendampingan ke Kemandirian

Sejak awal, pendampingan ini bukan hanya untuk mempercantik destinasi wisata, tapi juga untuk membangun kesadaran dan kemampuan masyarakat lokal agar mampu mengelola kekayaan alam dan budaya mereka sendiri.

Hasilnya mulai terlihat nyata. Beberapa destinasi yang dulu dibina kini berkembang pesat dan siap berdiri mandiri.

  • Geosite Siallagan dan Tomok di Kabupaten Samosir kini ditetapkan sebagai Geosite Unggulan. Artinya, mereka telah memiliki sistem pengelolaan yang baik dan bisa berjalan sendiri tanpa banyak bantuan dari Badan Pengelola Geopark.
  • Geosite Batu Hoda dan Sipinsur di Humbang Hasundutan, Geosite Tongging dan Taman Eden di Kabupaten Toba, serta Geosite Tele–Efrata kini menjadi Geosite Prioritas. Mereka sedang memperkuat pengelolaan dan diperkirakan bisa menjadi unggulan dalam empat tahun ke depan.
  • Sementara Geosite Pusuk Buhit–Haranggaol–Silalahi, Sibandang, Tipang, Batu Basiha, dan Situmurun masuk kategori Geosite Rintisan, yang masih memerlukan pendampingan lebih lanjut, riset, promosi, dan pelatihan masyarakat.
TERKAIT  Bagi Orang Batak, Anjing itu bukan Binatang: Lalu Mengapa Dimakan?
WISATAWAN ASING
Wisatawan asing sedang mengeksplorasi Huta Siallagan di Samosir (foto: Damayanti)

Langkah Selanjutnya

BERSPONSOR

Menjadi Geosite unggulan berarti pengelolaan sudah berpindah ke tangan komunitas lokal. Dengan begitu, Badan Pengelola Geopark bisa memusatkan perhatian pada penguatan geosite Prioritas dan Rintisan agar seluruh Kawasan Toba Caldera bisa berkembang seimbang.

Untuk mengarahkan langkah ke depan, Badan Pengelola Geopark Toba Caldera akan menyusun Rencana Induk serta rencana empat tahunan dan tahunan.

Rencana ini akan menjadi panduan sesuai standar UNESCO Global Geopark, dengan pembagian sebagai berikut:

  • Geosite Unggulan: sudah mandiri dan menjadi contoh pengelolaan berbasis masyarakat.
  • Geosite Prioritas: sedang berkembang pesat dan siap naik kelas.
  • Geosite Rintisan: baru mulai dibangun dan masih butuh pendampingan.

Semua kategori ini memiliki karakter dan tantangan berbeda, namun bersama-sama membentuk satu ekosistem geopark yang hidup dan berkelanjutan.

- Advertisement -

Dari Lokal untuk Dunia

Keberhasilan Geosite unggulan seperti Siallagan dan Tomok membuktikan bahwa inovasi dan semangat masyarakat lokal bisa membawa perubahan besar.

Program pendampingan ini bukan berarti berakhirnya hubungan, tapi menjadi awal baru bagi masyarakat untuk memimpin dan menginspirasi.

Kerja sama antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, dan tujuh Pemerintah Daerah di Kawasan Danau Toba sejak 2013 telah melahirkan model pembangunan pariwisata berbasis geopark yang kuat. Keberhasilan ini juga berkat peran masyarakat, akademisi, relawan, dan mitra lembaga lainnya.

Setiap akhir adalah awal yang baru. Mari terus menjaga, merawat, dan menginspirasi.
Karena Danau Toba bukan hanya keindahan alam, tapi juga kisah kebersamaan yang harus terus berlanjut — dari Danau Toba, untuk Indonesia, dan untuk dunia.

Penulis: Wilmar Simanjorang
Editor: Damayanti Sinaga

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU