spot_img

Perempuan Penjual Tape

Belasan Tahun Jadi Tulang Punggung Tunggal Untuk 9 Anak

HUMBAHAS – Di tengah hiruk pikuk pasar Dolok Sanggul, terlihat  seorang perempuan dengan uban mulai menghias kepalanya, duduk di dekat keranjang. Namanya Poibi Purba, dipanggil Op Goklas. Sejak tahun 1998, perempuan itu sudah membuat tape dan menjualnya di gerbang tengah Pasar Doloksanggul.

Tape olahan Op Goklas ini, dikenal manis dan terlezat yang ada di Doloksanggul. Dari beberapa orang pembuat dan pedagan tape di sana, tape olahan Op Goklas disebut yang paling laris.

Ingin melihat langsung proses pembuatan tape itu, menjelang sore, NINNA.ID menyambangi rumah Op Goklas di Desa Pasaribu Kecamatan Doloksanggul. Kedatangan disambut senyum manis Op Goklas, semanis tape buatannya.

Walau  rambutnya mulai memutih, tapi secara kasatmata, fisik Op Goklas yang dikaruniai  sembilan anak dan sejumlah cucu ini, terlihat lebih segar dari usianya. Tidak terlihat sepuh walau sudah merobek 74 kalender.

Tape ubi
Tape ubi kayu hasil olahan Poibi Purba atau Op Goklas dari Desa Pasaribu Kecamatan Doloksanggul, Humbang Hasundutan.(Foto:Febe)

Kepada NINNA.ID, Op Goklas menunjukkan jenis ubi kayu berwarna kekuning-kuningan untuk dijadikan tape. Menurut dia,  jenis ubi kayu seperti itulah yang paling manis dijadikan tape. Untuk satu keranjang tape, Op Goklas membutuhkan ubi kayu sebanyak 35 kilogram, dan ubi itu hasil kebunnya sendiri.

Sembari menyusun potongan ubi kayu yang sudah dibersihkan ke dalam keranjang, Op Goklas menerangkan, untuk membuat ubi menjadi tape membutukan proses selama tiga hari.

Ubi kayu yang sudah tersusun rapi dalam keranjang tadi, lalu ditaburi dengan ragi secara merata dan secukupnya. Terlihat Op Goklas memegang satu piring sebagai takaran taburan ragi tadi.

“Ikkon dang dong alogo boi masuk hu karanjang on asa denggan jadi annon tape on (Harus gak bisa angin masuk ke dalam keranjang ini, agar bagus nanti jadinya tape ini),” jelas Op. Goklas boru Purba. Keranjang berisi ubi yang sudah ditabur ragi tadi, lalu dibungkusnya dengan daun pisang. Tidak sampai disitu, keranjang berbungkus daun pisang tadi dibungkus sekali lagi menggunakan kain hingga seluruhnya tertutup rapat.

TERKAIT  Ini Alasan Memilih Samosir sebagai Destinasi Wisata

“Sakaranjang ma huboan hu onan Jumat, torus do habis, sipata hurang sakaranjang (Satu keranjanglah nanti saya bawa ke pasar hari Jumat, selalu habis, kadang kurang satu keranjang),” ujar Op.Goklas kepada NINNA.ID

Dulunya, dia berjualan tape setiap hari Rabu dan Jumat ke Pasar Doloksanggul. Tetapi sekarang tinggal hari Jumat saja, karena sudah terlalu lelah berjualan di dua hari pasar pekan di Kota Doloksanggul. Untuk itu dia memilih hari Jumat saja, sebagai pasar pekan paling besar di kota itu.

Dari bincang-bincang dengannya,  selama berjualan tape setiap Jumat di Pasar Doloksanggul, Op.Goklas boru Purba bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang universitas. Saat ini hasil penjualan tapenya setiap minggu bisa mencapai Rp 1.5 juta, dan dia sudah memiliki pelanggan tetap.

Walau tak ada lagi raut sedih di wajahnya, sekilas Op Goklas bercerita kalau dia berjuang sendiri setelah suami meninggal dunia, 18 tahun lalu. Pun demikian, semangat perempuan yang sudah menjalani karunia hidup selama 74 tahun ini tak pernah kendur, bahkan di luar hari Jumat, dia masih bertani.

Sebelum meninggalkan Op Goklas dengan kesibukannya,  NINNA.ID menanyakan impian apa yang mungkin masih ingin gapainya.

“Sehat ma ito, asalma boi mangan. Sada nai borukku naso muli (Sehat-sehat sajalah, asal bisa makan. Satu lagi putriku yang belum menikah),”  jawab Poibi Purba si Op Goklas sembari tersenyum kepada NINNA.ID

 

Penulis : Febe Adriella
Editor   : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU