spot_img

Batu Martindi, Batu yang Menolak Dibuang ke Jurang

SAMOSIR –  Batu Martindi Sihotang, merupakan salah satu lagenda di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Batu ini seolah hidup. Pernah dibuang ke dasar jurang, tapi keesokan harinya kembali ke tempat semula.

Dalam cerita rakyat yang masih terpelihara, khususnya di Desa Siparmahan Kecamatan Harian, batu ini menjadi salah satu bukti atau menjadi tanda,  alam melalui benda-benda tertentu tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Batak.

Dikisahkan turun temurun, legenda ini bermula ketika masyarakat melaksanakan kerja gotong-royong untuk membersihkan lingkungan dan ladang warga. Beberapa orang lalu memisahkan batu martindi (batu yang bertindih) yang ada di sana, untuk dibuang ke sungai di dasar jurang. Posisi batu itu dilihat mengkhawatirkan, yang sewaktu-waktu bisa jatuh menimpa siapapun yang berada di dekatnya.

Betapa terkejutnya warga saat itu, ketika keesokan hari, batu itu kembali ke tempat asalnya dengan posisi tetap bertindih seperti semula, tanpa bergeser sejengkal pun.

Penasaran dengan kisah itu, NINNA.ID menggali informasi dari Kepala Desa Siparmahan, Bertua Sihotang. Saat ditemui di lokasi batu martindi, sekilas dia mengulang sekilas legenda itu.

Cerita itu, kata dia, luar biasa unik dan di luar kemampuan akal sehat manusia. Batu dengan bobot yang berat, dan sudah dijatuhkan ke jurang bisa kembali ke tempat semula. Sepertinya batu itu hidup, bernyawa dan bisa bergerak.

TERKAIT  Menikmati Pantai Danau Toba yang Hangat di Siregar Aek Nalas

“Batu martindi ini adalah cerita rakyat yang mengisahkan tentang sebongkah batu di Sihotang, tepatnya di ladang warga yang bisa berpindah tempat,” ujarnya.

Dari penuturan Bertua, lokasi itu dulunya dipenuhi oleh semak belukar dan ilalang. Nenek moyang terdahulu menggelar rapat untuk segera melaksanakan gotong-royong bersih lingkungan, termasuk membuang batu martindi ke jurang.

Tidak menunggu lama, gotong-royong pun digelar dengan membersihkan semak belukar. Tak lupa membuang batu martindi ke jurang. Namun esoknya, seluruh warga desa terkejut, melihat batu yang dibuang itu kembali bertindih.

Bentuk batu itu tidak ada yang istimewa, sama seperti batu pada umumnya. Namun batu itu sering kali dikaitkan dengan hal mistis oleh masyarakat sekitar, bahkan dianggap sakral. Sampai saat ini, batu martindi itu masih utuh di tempatnya.

Untuk sampai ke Batu Martindi Sihotang, dapat ditempuh dari dua rute. Pertama, dari Medan melewati Tanah Karo terus ke Tele Kecamatan Harian lalu ke Sihotang lanjut ke Desa Siparmahan.(Lokasi batu tidak jauh dari rumah pengusaha sukses Parna Raya)

Kedua, jika menyeberang danau dari Tomok menuju Pangururan. Dari Kota Pangururan menuju Pelabuhan Pintu Batu dan menyeberang danau menuju Sihotang.

 

Penulis : Sartono Sihotang
Editor    : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU