spot_img

LEGENDA PARA DEWA BATAK TOBA (1)

Batara Guru dalam Mitos Batak, Penentu Takdir Manusia

NINNA.ID – Pada jaman dahulu, dalam mitos Batak ada diceritakan tentang 3 Dewata yang disebut Debata Na Tolu: Batara Guru, Debata Sori dan Mangala Bulan. Ketiga Dewata ini konon keluar (lahir) dari cangkang 3 butir telur sebesar periuk. Dierami oleh induknya seekor burung bernama Manukmanuk Hulambujati.

Ketika Debata Na Tolu sudah dewasa, maka menikahlah mereka. Batara Guru menikah dgn Siboru Parmeme, Debata Sori menikah dgn Siboru Parorot dan Mangala Bulan menikah dengan Siboru Panuturi.

Di kemudian hari, mereka berketurunan. Pasangan Batara Guru dengan istrinya Siboru Parmeme, melahirkan putri bernama Siboru Deak Parujar, dan Mangala Bulan dengan istrinya Siboru Panuturi melahirkan Siraja Odap-Odap.

Kemudian seiring berjalannya waktu, akhirnya Batara Guru dan Mangala Bulan menjodohkan kedua anak mereka, Siraja Odap-Odap dengan Siboru Deak Parujar.

Berhubung Batara Guru menjadi besan dengan Mangala Bulan, maka terjadilah Partuturon dengan posisi: Batara Guru sebagai Hulahula dan Mangala Bulan sebagai Boru. Adapun Debata Sori digambarkan sebagai Dongan Tubu. Patuturon (hubungan/hierarki dalam keluarga) ini, kemudian diadopsi leluhur Batak dengan konsep  Dalihan Na Tolu.

Mitos ini kemudian mengisahkan, Batara Guru mendapatkan kuasa dari Mulajadi Na Bolon, yaitu kuasa menetapkan hukum, memberi berkat, menentukan takdir dan nasib manusia. Jadi apa yang sudah diikat dan ditetapkan oleh Batara Guru, manusia hanya menjalaninya, tidak ada pilihan lain.

Namun demikian, penetapan takdir tersebut sesungguhnya tidak sepihak. Konon, Batara Guru menetapkan takdir tersebut atas permintaan manusia ketika masih berada dalam kandungan. Ketika masih berada rahim seorang ibu, Batara Guru bertanya kepada roh janin.

TERKAIT  Ulos Sadum Angkola untuk Sri Paus sebagai Master Piece

Batara Guru akan menjelaskan, kelak, janin itu akan hidup di dunia. Lalu Batara Guru menanyai para janin, apa yang diingikan selama nanti hidup di dunia.

Beragam jawaban dari janin-janin itu. Ada yang meminta sekedar hidup miskin dan menderita. “Lapa-lapa sobuan, malap-alap pe taho asal ma dihangoluan (biarpun miskin dan menderita yg penting hidup). Kelak, saat janin itu lahir, hidup seperti permintaannya. Miskin dan menderita.

Janin lain ada yang meminta dijadikan sebagai seorang pemimpin yang pengayom.

“Hariara madungdung, madungdung tu bonana, bahen ma ahu Ompung Batara Guru songon Hariara Na Bolon, parlinggom-linggoman ni dongan jolma.”

Ada juga yang meminta untuk tidak dilahirkan ke dunia. Ndang dihalomohon rohangku manjalahi haholuan di silubalangari, nagok arsak dohot haberniton, jou ma ahu Ompung tu sambulonmu.” (aku tdk ingin menjalani kehidupan di dunia, sebab banyak kesedihan dan kesusahan, panggillah aku ke tempatmu yangg abadi).

Janin dengan permintaan seperti ini, mungkin akan mati ketika masih berada dalam kandungan atau meninggal sesaat dilahirkan. Begitulah, ragam permintaan janin manusia kepada Batara Guru seperti yang dikisahkan dalam mitos Batak.(bersambung)

 

Penulis : Roy M Siboro (Warga Bekasi)
Editor    : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU