spot_img

Batak Sebelum Silsilah (II)

NINNA.ID – Doloksanggul mengigil. Dinginnya luar biasa. Hujan tak deras. Hanya ada gerimis satu-satu. Kami duduk berhadap-hadapan sambil mengingat penelitian kami bersama waktu di Bakara. Kebetulan, seorang teman seniman dari Simalungun, Sultan Saragih, datang untuk tugas pemetaan potensi desa di Tapanuli Utara. Ia mampir di Doloksanggul.

Lalu, kami berbincang tentang rencana dan strategi penelitian di tahun depan. Ada banyak rencana kami sebagai penggumul etnografi. Banyak sekali. Sebab, sejarah memang selalu misterius. Ia harus dilalui dengan jalan yang cukup berliku. Kurang misterius apa lagi tentang Batak sebab jika dilihat dari silsilah, suku Batak masih kemarin sore.

Setidaknya, bukti peninggalan arkeologis tentang Batak masih 600-an tahun. Dipasang dengan generasi marga-marga, umur 600-an tahun itu memang pas. Batak belum setua penemuan arkeologis di Takengon dan Gayo. Ada 2.000 tahunan, bahkan 4.000 tahunan. Namun, kita tentu bertanya-tanya: mungkinkah Batak sebagai suku masih cukup belia?

Entahlah bagi Anda. Tetapi, bagi saya, itu sesuatu yang tak mungkin. Logika sederhana bisa diambil: apakah Batak sebagai suku adalah turun dari langit pada 600-an tahun lalu sehingga kita bisa bersepakat bahwa titik nol Batak berada pada 600-an tahun yang lampau? Jika harus memungut teori proto-deutro Melayu, apakah Batak merupakan deutro?

Orang yang paham sejarah mestinya bisa berpikir logis: titik nol Batak bukan pada 600-an tahun yang lampau.

Untuk mendeteksinya bisa melihat dari daerah-daerah terdekat. Barus sangat dekat dengan Tanah Batak saat ini. Malah, Barus ada pada daerah Batak dalam catatan administratif modern, yaitu di Tapanuli Tengah. Apakah Barus merupakan sejarah yang terpisah dengan Batak?

Saya suka berimajinasi. Maksud saya begini. Awal abad kedua (sekitar 1.200 tahun sebelum tiktik nol Batak pada masa silsilah) Barus konon sudah ramai. Bahkan, sebelum abad Masehi, Barus sudah menjadi ikon. Ilmu terkini menyebutkan bahwa Barus ramai karena kapur barus dan kemenyan. Pohon kapur barus mungkin bisa tumbuh di pesisir. Tetapi, tentu tidak sebaik di dataran tinggi.

Begitu juga dengan kemenyan. Pohon ini tak cocok di pesisir. Artinya, jika Barus sudah ramai oleh para pedagang dan saudagar untuk membeli getah kemenyan, mungkinkah para saudagar itu mendatangi tanah kosong? Mungkinkah daerah Barus terpisah dari tempat-tempat lain? Mungkinkah kemenyan tak ada yang mengusahakan?

TERKAIT  Dewan Kebudayaan Simalungun Pendamping Pelaku Tradisi Dalam Upaya Pemajuan Peradaban

Setiap kita tahu jawabannya: tak mungkin. Barus pasti terikat perdagangan. Jika sudah terikat pada luar pulau, apalagi dalam pulau, seperti di Dairi, Humbang, hingga lebih dalam ke Samosir, mereka pasti terikat dan bersinggungan. Dengan logika berpikir seperti itulah saya membaca bahwa Barus bukan sejarah yang terpisah dengan Batak di titik nol (Batak bersilsilah).

Saya pencinta misteri. Maka pada Peningkatan Kapasitas Pelaku Budaya di bidang rempah, saya selalu aktif bertanya tentang jalur-jalur di Sumatera Utara. Namun, dari semua pemateri yang saya tanyakan dengan masalah utama: apakah para pelaku kebudayaan dan perekonomian pada masa Barus terkait dengan leluhur Batak?

Tak satu pun dari pemateri yang bisa menjawab dengan tuntas. Pematerinya bukan orang biasa-biasa, apalagi awam. Mereka ada dari akademisi UI. Dari Arkeologi Nasional. Macam-macam. Bahkan, salah satu pesertanya yang kebetulan secara post tes masuk pada 10 besar, adalah guru besar dari USU, yaitu Robert Sibarani.

Saya mau bilang: acara itu sebenarnya luar biasa. Keilmiahan bisa dipertanggungjawabkan. Dan, karena itu, saya termasuk sangat serius untuk mengikutinya. Maka itu, ketika post tes, saya berada pada peringkat kedua dari semua peserta. Sayang, perekrutan ternyata lebih banyak pada wawancara dan nama besar. Maka, saya tidak terpilih.

Poin saya sebenarnya sederhana: para ahli itu belum bisa menjawab “ya” dan “tidak” untuk pertanyaan saya tentang apakah Barus merupakan sejarah yang terpisah dengan Batak modern atau tidak. Karena itu, melacak sejarah Batak hingga jauh di belakang titik nol masih sangat menantang. Di belakang titik nol artinya berada di titik sebelum silsilah.

Malam sudah pekat. Aku pun pamit pulang dari diskusi panjang. Para sahabat budaya itu berkata: sampai jumpa di Danau Toba. Aku mengangguk. Tiba-tiba aku teringat, sebulan terakhir, permukaan Danau Toba berkurang hingga 15 cm. Pemerintah berencana merekayasa hujan agar debit air tinggi di Sigura-gura.

Oh. Sigura-gura. Apa yang menarik dari Sigura-gura? Tentu saja ada. Ini tentang aliran sungai keluaran Danau Toba hingga ke laut. Sejarah berkata: nenek moyang suka menyusuri aliran sungai. Pertanyaannya: apakah Sungai Asahan baru ditelusuri pada 600-an tahun yang lalu? Dari sini seharusnya kita bisa berimajinasi bukan?

 

Penulis   : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor      : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU