Tigaras, NINNA.ID– Semangat membangun pariwisata lokal berbasis teknologi digital menguat di Kabupaten Simalungun melalui kegiatan “Pintar Digital untuk Promosi Event Nasional”, sebuah kolaborasi strategis antara Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI dan Komisi VII DPR RI.
Acara yang digelar di Hotel My Nasha Tigaras pada Sabtu 24 Mei 2025 ini tidak hanya menjadi ruang pelatihan, tetapi juga titik tolak gerakan bersama untuk menjadikan Sumatera Utara sebagai pusat event dan destinasi pariwisata unggulan nasional dan internasional.
Salah satu tokoh sentral dalam kegiatan ini adalah Anggota Komisi VII DPR RI, Bane Raja Manalu, yang tampil menginspirasi dengan menyampaikan urgensi pemanfaatan media digital sebagai sarana paling murah, cepat, dan efektif untuk promosi pariwisata daerah.
“Dulu kita harus kenal wartawan untuk bisa naik berita. Sekarang cukup punya internet dan kreativitas bercerita. Digitalisasi ini adalah peluang yang harus dimanfaatkan oleh semua,” ujar Bane di hadapan peserta yang terdiri dari pelaku pariwisata, UMKM, dan aparat desa.
Cerita Adalah Daya Tarik Wisata
Menurut Bane, kekuatan promosi wisata tak hanya terletak pada keindahan alam, tetapi lebih pada cerita di baliknya. Ia mencontohkan berbagai kawasan seperti Tigaras hingga Haranggaol, yang menyimpan potensi besar untuk dikemas melalui storytelling yang menarik.
“Bangun pagi di Hotel My Nasha, nikmati lapet dan kopi sambil menatap Danau Toba, lalu trip ke geosite di Haranggaol,” ucapnya mencontohkan hal sederhana membuat postingan untuk promosi Danau Toba.
Keunikan lain seperti multikulturalisme di Tigaras—dengan keragaman bahasa Toba, Simalungun, dan Karo—juga dianggap sebagai unique selling proposition yang bisa membedakan kawasan ini dari destinasi lain di Sumatera Utara.
Aksi Nyata dan Kolaborasi Digital
Lebih dari sekadar ide, Bane mendorong peserta untuk beraksi secara konkret. Ia menantang para pelaku wisata dan kreator lokal untuk mulai membuat konten digital dari cerita dan potensi desa masing-masing.
“Buat video, ceritakan hal unik dari budayamu. Ajak saya kolaborasi. Kalau keren, saya bantu promosikan,” katanya antusias.
Bane juga menyarankan kemasan atraksi wisata seperti pertunjukan Tortor Simalungun di pelabuhan Tigaras agar menjadi atraksi yang membuat wisatawan betah dan rela menunda perjalanan ke Samosir.
“Kalau bisa buat pengunjung rela telat nyebrang karena ingin nonton tortor sambil minum kopi, berarti kalian berhasil,” tambahnya, sembari menekankan pentingnya membuat paket wisata berbayar untuk meningkatkan nilai ekonomi lokal.
Dukungan Pemerintah dan Semangat Warga Tigaras
Antusiasme juga terasa kuat dari masyarakat Desa Tigaras, Kecamatan Dolok Pardamean. Kepala Desa Tigaras, Sitio, menyampaikan harapan besar agar wilayahnya bisa mengikuti jejak destinasi nasional seperti Bali dan daerah wisata di Pulau Jawa.
“Sekarang Samosir saja sudah berkembang meniru Bali. Kita (Tigaras) harus bisa juga. Tapi kita butuh pendampingan dan arahan yang jelas,” ucap Sitio disambut tepuk tangan warga.
Sitio juga menyampaikan terima kasih kepada Kemenpar dan DPR RI atas perhatian yang diberikan. Ia menyoroti keterbatasan promosi sebagai kendala utama, padahal potensi dan semangat warga sudah tinggi.
“Kami ramah, kami siap menyambut wisatawan. Tinggal bagaimana ini difasilitasi agar benar-benar berkembang,” ujarnya.
Komitmen Kemenparekraf: Dari Sumatera Utara ke Dunia
Dalam acara yang sama, Asisten Deputi Event Nasional Kemenparekraf RI, Ni Komang Ayu Astiti, menegaskan bahwa digitalisasi adalah strategi utama dalam pengembangan destinasi.
Ia menyebut bahwa Danau Toba sebagai destinasi super prioritas nasional harus diangkat melalui konten digital yang kreatif dan berkualitas.
“Sekarang cukup satu jari, semua orang bisa akses informasi wisata. Konten digital yang baik adalah ujung tombak promosi daerah,” jelas Ayu.
Ia juga memberi apresiasi kepada Bane Raja Manalu sebagai penggerak utama dan tokoh muda yang konsisten membela kepentingan pariwisata lokal di tingkat nasional.
Sesi pelatihan digital juga diisi oleh narasumber profesional, seperti Stella Florensia, CEO Sakamadeha, yang memberikan pelatihan praktis tentang branding digital dan strategi promosi di media sosial.
Hadir pula tokoh-tokoh lokal seperti Kepala Dinas Pariwisata Simalungun Fikri Damanik, serta para pangulu nagori dan pemangku adat.

Langkah Bersama Menuju Ekosistem Wisata Digital
Program Pintar Digital tidak hanya mengajarkan keterampilan, tetapi juga membangun ekosistem promosi wisata berbasis teknologi yang inklusif.
Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, pelaku industri, dan komunitas lokal diyakini menjadi kunci sukses membangun city tour, paket budaya, hingga workshop wisata kreatif yang dapat dinikmati wisatawan.

“Mari kita berdayakan potensi kita sendiri, demi kesejahteraan kita bersama,” tutup Ayu.
Dengan semangat kolaboratif dan tekad untuk terus belajar, masyarakat Simalungun kini bersiap mengangkat potensi lokalnya ke panggung dunia—melalui digital, dengan cerita yang otentik, dan aksi yang nyata.
Penulis/Editor: Damayanti Sinaga



